Langsung ke konten utama

Terima Kasih 2019, Halo 2020


Halo …
Tahun 2020 telah dimulai. Beberapa orang mungkin sudah membuat resolusi 2020 sebelum tahun 2019 berakhir.

365 hari di tahun 2019, semua orang pasti memiliki kisahnya masing-masing. Kebahagiaan, kesedihan, keterpurukan, kejayaan, jatuh terinjak, hingga mungkin seolah tak ada artinya. Aku, kamu, kita berhasil melaluinya. Ucapkan selamat untuk diri sendiri (emoticon tersenyum).

Pada malam pergantian tahun baru 2020 lalu, aku tidak ikut merasakan euforianya. Efek minum obat, terpaksa membuatku tidur cepat. Tapi bukan itu yang terpenting. Bersyukur kita masih diberi napas untuk bangun di tanggal 1 Januari 2020.

Tapi, mari kita menyelami lautan yang bernama “Tahun 2019”. Ada apa di tahun itu? Terkhusus sedikit pengalaman yang ingin kubagikan untuk kalian. Mungkin karena 2019 yang angka belakangnya mirip seperti tanggal lahirku: 19, tahun lalu memiliki makna penuh.

Waktu pergantian tahun 2019, pertama kalinya aku melihat kembang api dari atap rumah yang tak lain adalah lantai tiga kosku. Menikmati salah satu produk ayam tepung yang terkenal di Indonesia bersama teman kos. Rasanya nyaman dan bebas.

Bak anime Jepang, satu di antara wishlist-ku terwujud.

Lalu di bulan Maret, ada sebuah pelajaran untukku untuk memaknai arti kesempatan. Sejak itu, aku belajar untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Memang benar, kadang kita harus let it flow, biarkan mengalir apa adanya. Tapi kalau tujuan kita adalah muara yang jernih, bukankah perlu untuk mengambil kesempatan maupun menciptakan kesempatan alias peluang?

Tapi lagi-lagi, meskipun sudah mendapat “tamparan”, yang namanya manusia bisa saja khilaf. Kembali aku “buta” akan kesempatan yang telah lebur. Memang menyesal, tapi kalau diratapi memang tak ada gunanya. Bangun dan ciptakan lagi.

Dilanjut Hari Raya Idul Fitri dan sesudahnya. Aku memilih sebuah keputusan yang menurutku cukup besar. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan keluar dari pekerjaan pertamaku. Perpisahan yang justru memperkenalkanku dengan orang baru. Lagi-lagi belajar untuk mengendalikan emosional.

Pada titik itulah, aku semakin merasakan quarter life crisis. Aku mau kemana dengan beberapa “bekal” yang sudah disiapkan di pundak.

Beruntung, tidak membutuhkan waktu lama, aku mendapatkan pekerjaan. Tapi ternyata, di sinilah semua dimulai. Aku tidak menyangka jika akhir tahun 2019ku begini.

Sepenggal kisah, aku mengalami mood swing di bulan berakhiran “ber” kecuali September. Di sana, aku banyak bertanya pada diri sendiri, “kamu kenapa?”, “apa yang kamu rasakan?”, “apa yang bisa kulakukan untukmu (diri sendiri)?”, “siapa sebaiknya yang kamu bagi keluh kesah?”.

Aku pengin menghilang tapi bukan berarti mengakhiri hidup. Rasanya ingin menghindar dari orang-orang. Baik di kehidupan nyata maupun dunia maya. Bukan berarti aku membenci ataupun mereka yang menggaggu. Masalahnya ada apa diri sendiri mengenai “kenapa?”.

Hingga di dua minggu terakhir Desember, aku memutuskan untuk me time yang berlangsung tiga hari. Aku memutuskan untuk meng-uninstal Twitter dan WhatsApp. Dua media sosial yang menurutku memiliki pengaruh besar. Instagram? Aplikasi itu sudah hampir 1,5 bulan ku-instal dengan alasan yang belum pasti.

Tenang, aku tidak benar-benar menghilang. Mereka yang betul-betul mencari, masih bisa berkirim pesan melalui cara manual. Betul, pakai pulsa. Lalu apa yang aku dapatkan di tiga hari “menghilang” itu?

Ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, aku merasa dayaku kembali lagi. Tiga hari bukan berarti aku mengurung diri di kamar secara penuh. Tidak! Aku masih bekerja, bercengkrama, bahkan membaca cerita di dunia oranye. Satu kata yang hampir mewakilkan adalah perasaan damai.

Dan me time-ku dilanjut dengan liburan ke Bumi Pasundan. Ada cerita di balik liburan ini sebenarnya. Tapi mungkin kalau sempat aku bahas di tulisan lainnya saja hahaha …

Ya aku liburan ke Bandung dari tanggal 26 Desember (naik kereta) hingga 29 Desember. Liburan itu membuat dayaku makin terisi. Bagian psikisku memang membaik, tapi ternyata fisikku tidak. Pulang-pulang kondisi kesehatanku menurun. Oleh sebab itu, aku tidak merasakan euforia malam pergantian tahun 2020 hahaha …

Terima kasih 2019, aku semakin belajar mengenai keterbukaan pikiran jika ingin mendapat kenyamanan hati. Individu ini belajar tentang sudut pandang yang meminimalisirkan sakit hati.

Halo 2020, mari kita mulai petualangan baru di tahun kembar 20. Akan seperti apa nanti?

Ditulis di kamar langit-langit biru berlatar lagu Talos “To Each His Own” dengan kondisi masih batuk-batuk. Untuk tulisan di atas, ambil yang baik-baik saja ya, sampai jumpa …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...