Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Sesakit Apapun Keadaan, Selalu Ada Hal Indah di Atasnya

    Yang pernah kubaca adalah, bahwa Allah memberi kita cobaan dengan 2 cara yaitu cobaan kategori kesedihan dan kesenangan. Kira-kira kita kembali 5 bulan yang lalu. Ketika keputusan kuambil dengan rasa yakin yang sebenarnya tidak mencapai 85%. Ibu selalu bertanya, “Apa kau yakin?” Mereka berdua juga bertanya, “Apa kau yakin?” Dan teman lainnya mengatakan, “Jika aku jadi kau, aku akan tidak akan melakukannya.” Lalu, apakah aku yakin? Apa yang membuatku yakin? Magnet apa yang meggerakkan hati ini? “Aku akan berangkat, karena aku tidak salah.” Itulah kalimat yang saat itu menjadi kekuatan terbesar. Kalimat yang keluar dari seorang teman satunya. Aku hanya bermodalkan itu. Atau lebih tepatnya rasa nekad. *** “Allah, aku menyesal.” “Allah, aku ingin pulang.” “Allah, aku ingin bertemu oangtuaku.” “Allah, aku merindukan teman-temanku.” “Allah, aku sedih. Aku tidak kuat.” “Allah, why?” *** Balkon, bintang, bulan, kabut, angin malam, derungan motor...

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."