Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya.
Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita.
Kau marah? Marahlah.
Kau benci? Bencilah.
Kau kecewa? Kecewalah.
Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang."
Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?"
Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."
Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita.
Kau marah? Marahlah.
Kau benci? Bencilah.
Kau kecewa? Kecewalah.
Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang."
Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?"
Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."
Komentar
Posting Komentar