Maret. Bulan ketiga
yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada
banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari
yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang
diambil.
Berbicara soal peluang
yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu.
Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan
hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan
peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna,
entah itu binatang kecoak.
Mari membahas soal
kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang
merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”.
Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja.
Lalu bagaimana aku
mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan
menciptakan kesempatan itu. Entah apa hasilnya nanti. Mendebarkan tapi juga
menakutkan. Ketika berhasil diciptakan, maka tugasku adalah menyerahkan
semuanya pada Tuhan. Jalan apa yang akan Dia berikan. Sebuah wajah datar,
senyum, tangisan haru atu mungkin air mata kekecewaan? Saat itu, aku
mendapatkan jawaban nomor tiga, yang kubalas dengan senyum namun rasa haru di
hati. Aku tak ingin merusak momen kita, kami semua yang sedang bahagia.
Kemudian, apakah aku
akan menciptakan kesempatan lagi? Jujur, ini akan menjadi hal pertama dalam
hidupku jika benar-benar melakukannya. Ah, mendadak saat menulis ini, aku
teringat dengan seorang doktor yang memberikan wejangan seperti ini.
“Mundur
satu langkah untuk empat keberhasilan, atau maju satu langkah untuk empat
kegagalan”.
Mendengar kalimat
beliau, aku kagum namun tanpa akal untuk memikirkan lebih jauh. Peluang dua
pilihan itu sama-sama 50:50. Tidak ada yang menjanjikan selain usaha, doa dan
campur tangan-Nya. Lalu apa yang kupilih?
Aku memilih pilihan
yang kedua. Melanjutkan langkahku yang sudah kupersiapkan dengan banyak
referensi dan melihat hasilnya. Apa aku gagal empat langkah? Entah ini gagal
atau berhasi, namun aku bangga dengan keputusanku. Aku mengapresiasi diriku
sendiri jika “Kamu berani Tan, aku bangga
untuk diriku ini”. Seperti itu lah.
Kembali soal
kesempatan yang ingin kuambil ini, aku masih memikirkan ulang apakah
mengambilnya atau tidak. Seberanikah aku dengan Intan dua tahun lalu?
Seharusnya jawaban itu
adalah IYA karena pengalamanmu juga bertambah. Jangan bersikpa konyol wahai
diriku sendiri. Entah apa kata orang, namun kamu adalah tokoh utama di hidupmu.
Dimana pun kamu berapa kamu adalah pemeran penting!
Kita lihat, seperti
apa kenekatan masuk akal yang akan kamu ciptakan. Berhenti menatap langit kamar
dan dobrak lah keindahan langit lainnya di luar sana.
Oke-oke, aku merasa
berat menulis ini. Aku tidak tahu apakah kalian akan paham atau tidak, tapi
begini lah. Sudah sejak lama ingin meluapkan. Pada bagian penutup ini, aku juga
ikut tersadar usai mencurahkan isi kepala di sini. Ada jawaban yang terlintas
dan akan kupikirkan ulang.
Untuk kalian, jangan
lupa bahagia. Aku pernah membaca tulisan mengenai kekayaan sejati. Maksudku,
kata tulisan yang kusetujui itu, kita ini kaya jika: memiliki atap untuk
beteduh dari hujan dan panas, makan tiga kali sehari, masih banyak dan (maaf)
aku lupa. Tapi yang terakhir ini aku begitu ingat. Bahwa kita disebut kaya
jika, masih bisa bernafas.
Ditulis di kamar kos
yang lagi-lagi cat dinding sedikit demi sedikit terus mengelupas, 26 Maret
2019. Akan melanjutkan nonton drama Korea “Sky Castle” episode 6. Ditulis
dengan iringan lagu RM dan Jungkook – So That I Love You.

Komentar
Posting Komentar