Halo …
Kuperingatkan ini lebih random dari sebelumnya.
Aku suka menulis. Mungkin alasannya akan terdengar mainstream juga pasaran, tapi menulis
memang bagian dari menyembuhkan, untukku yang mungkin sedang dalam kondisi
tidak “baik”.
Seolah-olah, aku bisa menciptakan duniaku sendiri
dengan karakter nama yang telah kupilih. Ada Namjun, Ocenana, Latusia,
Latusiana, Arem, Keenan, Ana, Alkamora, Helene, Rea, Jane, dan Damian. Aku
sayang banget sama mereka meski hanya nama fiksi yang kuciptakan sendiri. Dan
mungkin bakal ada lagi nama-nama lainnya.
Tapi tulisan yang paling mendominasi alias jam
terbangnya lebih lama adalah genre fiksi. Meskipun beberapa tahun belakangan
ini aku mulai terjun ke tulisan dalam bentuk berita dan fiksi ilmiah. Oke,
sebenarnya itu karena tuntutan pekerjaan yang kuanggap sebagai ilmu gratis.
Kenapa tidak toh kemampuanku menulis
juga bakal bertambah.
Soal genre fiksi, perasaanku akan lebih kuat jika
ketika menulis di beberapa adegan sambil mendengarkan lagu. Entahlah, hal itu
seperti “kita” terjun langsung ke adegan sebuah cerita. Seolah-olah mengalami
adegan dalam narasi itu. Seringnya, aku mendengar lagu untuk adegan menuju
bahagia hingga si pelaku berhasil menjemput kebahagiannya. Atau ketika
kesedihan pelaku mulai muncul sampai benar-benar di puncak sedihnya. Ketika
mendengarkan, maka perasaanku akan semakin membuncah.
Tapi menurutku, bagian yang tidak enak adalah, ketika
kita terjebak dengan cerita yang dibuat sendiri. (Pertanyaan: “kalau terjebak
di adegan bahagia enak dong daripada yang sedih”). Bukan begitu.
Ini salah. Kadang aku merasa masih terjebak dengan si
karakter seolah kehidupan di kisah nyata bisa kubuat alur seperti ceritaku.
Menebak-nebak hingga memunculkan ekspetasi. Padahal ketika ekspetasi itu tidak
terwujud seperti yang diinginkan, maka “buah” yang dipanen itu bernama
kekecewaan. Serupa dengan ketika terjebak di adegan sedih. Ikut menangis dan
merasa “kenapa aku bikin karakter ini begini? Kasihan huhuhu …”
Kalian bingung? Bodo
amat.
Sesuai judul, aku baper alias terbawa perasaan dengan
cerita sendiri. Berimajinasi membuat cerita yang merupakan salah satu bentuk
“menyembuhkan diri” rupanya juga malah menimbulkan sensasi baper. Sad (emoji titik dua tutup kurung).
Tapi bukan berarti selama aku hidup dijalaninya dengan
halusinasi. Haluku cukup ke BTS saja #intermezobagianitutidakpenting. Calm calm calm, aku bersyukur masih bisa
diberi akal untuk tetap bisa membedakan mana dunia nyata dengan “Intan
Universe” #eaeaea
(Pertanyaan: “Ya mending berhenti ngarang cerita saja,
tulis yang fiksi ilmiah atau berita”). Ya enggak bisa gitu dong Bambang Surti (aku minta maaf kepada
siapa pun pemilik nama itu). Kan aku bilang menulis itu “menyembuhkan”. Asal
aku masih punya rem serta kemudi yang baik, Insha Allah baik-baik saja.
(Pertanyaan: “Jadi inti kamu menulis ini apa?”). Cuma
mau mengeluarkan uneg-uneg saja.
Aku tidak tahu apakah ada yang memiliki perasaan sama
sepertiku di atas. Sedikit cerita, aku bahkan galau dan sedih selama seminggu
ketika cerita yang kubaca sad ending.
Aku sempat ingin protes ke penulisnya. Kenapa dibuat sad ending ketika pemeran utama baru merasakan kebahagiaannya
sesaat. Aku memang tidak suka yang namanya sad
ending :”

Komentar
Posting Komentar