Langsung ke konten utama

Memperbaiki Penyesalan Masa Lalu



Halo …
Aku mau mampir sebentar.
Belakangan ini aku memikirkan soal masa lalu. Sebelumnya aku pernah membahas soal kesempatan. Ternyata, di masa lalu ada begitu banyak kesempatan yang sebenarnya bisa kuambil maupun kubuat sendiri.

Salah satunya ketika aku merantau di Kota Pahlawan. Terlalu “drama” karena terjun di dunia yang namanya akhirnya bekerja membuatku menyia-nyiakan waktu untuk berpetualang. Aku merasa tidak “seliar” sewaktu masih kuliah. Apakah ini ada kaitannya dengan adanya partner yang memiliki satu tujuan yakni lulus dari sebuah Perguruan Tinggi?

Sedang di dunia kerja ini aku merasa “sendiri”. Dulu, waktu libur yang kupunya hanya hari Minggu. Lelah dengan enam hari kerja membuatku memilih untuk istirahat di kamar kos. Bukan berarti aku tidak pergi kemana-mana selama di Surabaya.

Tapi kemana-kemanaku ini belum ada apanya semisal dibandingkan dengan zaman masih kuliah. Lingkup pergiku hanya sekitar beberapa kilometer. Wisata Surabaya yang kukunjungi hanya kebun binatangnya (sad).

Sepupu pernah bercerita, “Surabaya itu banyak wisata kulinernya. Coba kamu ikuti akun Instagram ini dek (panggilan sayang mereka ke aku #keteranganinisebenarnyatidakpenting).”

Iya aku follow itu akun dan hasilnya lidahku kemecer dengan beragam makanan dan jajanan Surabaya yang ia posting. Banyak postingan di akun yang aku save dulu. Hasilnya apa? Tidak ada sama sekali yang kucicipi hingga aku keluar dari itu kota.

Kenapa aku hanya mengunjungi swalayan setiap bulan maupun mall-nya saja? Ada banyak museum dan taman di Surabaya. Kemudian, Surabaya terkenal dengan keindahan bunga tabebuya-nya di setiap bulan November. Kenapa aku tidak mencarinya? Sedangkan lokasinya dekat dengan kosku yang sayang tidak pernah aku cari.

Jadi, apakah nasi sudah menjadi bubur? Tidak!

Entah kapan, tapi aku harus menjawab rasa sesalku ini. “Katanya tidak boleh menyesali masa lalu?” Iya aku menyesal tapi rasa sesalku ini masih bisa kuperbaiki asal Tuhan berbaik hati memberiku waktu lebih lama lagi.

Intine rek, aku ki pengen dolan neng Suroboyo meneh. Icip-icip panganane karo nekoni panggonan sing rung tak tekoni. Iki curhatane sok-sokan bahasa penulis-penulis karo ditambahi ilmu ke-sotoy-an ngono. Kon paham gak?

Jadi sekarang bagaimana? Aku berusaha untuk mengurangi “drama” lagi hingga melupakan kesempatan yang bisa kuambil. Meminimalkan rasa malas untuk rebahan demi sesuatu yang bisa kamu petik pelajarannya (semoga bisa).

Sekarang aku bekerja di kawasan dekat Kota Solo. Well aku tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan untuk lebih berpetualang di Kota Bersemi ini.

Tadinya ini hanya keluhan yang mungkin tidak akan lebih dari satu halaman. Lagi-lagi panjang. Ditulis di kamar beratap biru dengan backsong Super Junior – Hiro.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...