Langsung ke konten utama

Bagaimana Cara Agar Tidak ‘Bucin’?



Halo … Apa kabar? Mungkin ini akan menjadi tulisan panjang. Selamat membaca ya …

Beberapa waktu lalu, teman dekatku melontarkan pertanyaan di grup WhatsApp. Dia bertanya, “Bagaimana caranya agar tidak bucin?”. Aku akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu “bucin”. Karena tidak sedikit yang masih tak paham arti kata “bucin”.

Orang-orang menyebut “bucin” sebagai singkatan dari “Budak Cinta”. Aku tidak terlalu mengerti sejak kapan istilah itu diciptakan, yang pasti kata “bucin” merupakan bahasa anak zaman sekarang alias milenial.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “bucin” pun tidak ada. Namun orang-orang mengartikan kata “bucin” sebagai individu yang tergila-gila akan cinta. Pelaku mau melakukan apapun demi orang yang dia cintai.

Nah sekarang, kembali ke pertanyaan temanku, “Bagaimana caranya agar tidak bucin?”. Jujur, ketika membaca pertanyaan itu, aku sendiri juga tidak terlalu paham karena aku merasa belum pernah mengalami “bucin” ha ha ha ….

Tapi pernah beberapa kali aku disebut “bucin” BTS – boyband asal Korea Selatan yang beranggotakan tujuh orang oleh teman-temanku ha ha ha ... Biar aku sebutkan sekalian nama mereka (emoji tertawa), yaitu Kim Namjoon alias RM si ketua, Jin, Suga, Jhope, Jimin, V, dan Jungkook. Oke paragraf yang kalian baca ini hanya sekedar intermezo. Aku akan menjelaskan tapi mungkin di bagian akhir saja. Kembali ke pertanyaan temanku tadi.

Saat itu, aku hanya bisa menjawab dengan semampuku. Aku mengatakan, “Mungkin mengembalikan cinta yang sesungguhnya.” Temanku bingung dengan jawabanku. Apa maksud dari mengembalikan cinta yang sesungguhnya? Aku kemudian menjelaskan jika jawabanku itu kukaitkan dengan agama yang kita anut. Yakni, mengembalikan cinta yang sesungguhya ke Sang Pencipta.

Akan tetapi, aku belum berani menjelaskan secara terperinci tentang jawabanku itu. Karena aku sendiri juga masih tahap belajar, takut salah menyampaikan. Lalu aku meminta izin ke temanku, boleh tidak pertanyaan itu kubagikan sebagai status di media sosial. Mungkin saja bakal ada komentar dari teman-temanku yang lain usai membacanya.

Benar dugaanku. Ternyata ada sejumlah temanku yang memberikan jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana caranya agar tidak bucin?”.

Jawaban pertama, dia adalah senior di tempatku kerja (dulu). Dia mengatakan untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Jangan menyayangi orang lain melebihi sayang ke diri sendiri. Senior itu menekankan untuk love my self terlebih dulu.

Lalu aku membalas, “Bagaimana kalau kasusnya adalah mereka sudah berpacaran lebih dari setengah dekade?”. Seniorku lagi-lagi menegaskan untuk tidak sayang ke pacar melebihi diri sendiri. Dia kemudian memberikan kasus, jika hubungan menjadi toxic dan harmful, dia bisa meninggalkan. Sebagai penutup, senioku mengatakan, “Pokoknya kalau kamu sayang sama diri sendiri, apapun yang tidak bagus untuk dirimu sendiri otomatis bakal kamu tinggalin.”

Lanjut jawaban kedua, yang juga masih dari senior kantor (dulu) tapi beda orang. Dia mengatakan, “Sayang memang selalu harus ‘bucin’ sih.” Hem … Untuk jawaban ini sebenarnya aku kurang setuju. Tapi semua bebas menjawab sesuai pendapat masing-masing.

Terakhir, jawaban ketiga dari teman sekolah namun beda SMA. Jawaban inilah yang bikin aku tertegun seusai baca ha ha ha … Well aku suka bagaimana dia menyampaikan pendapatnya.

Seperti yang kutulis di awal, bahwa masih ada orang yang tidak paham apa itu “bucin”. Begitu pula dengan temanku ini. Dia tidak tahu “bucin” itu apa. “Budak cinta,” begitu aku menjawabnya. Sebut saja temanku ini si Rambut Api alias RA (bukan warna, tapi menurutku rambutnya pernah berbentuk seperti kobaran api wkkkk sorry).

RA tidak begitu setuju ada kata “bucin” dalam sebuah percintaan antar anak manusia meskipun hal itu hanya sekedar istilah belaka. Menurut pemahaman si RA, budak merupakan pekerja yang paling rendah derajatnya. Terlebih kata budak mencerminkan pengandaian yang sedikit hina.

Temanku RA kemudian menjelaskan lebih terperinci bagaimana mendapatkan seorang budak, yakni dengan dua cara: dibeli atau hasil rampasan perang. Menurut RA, hanya karena menurut ke pacar atas dasar cinta, bukan berarti seperti budak. RA lantas menyebutkan dua judul buku, yaitu “Laila dan Majnun” serta “Yusuf Zulaikha”. Jika kisah pada dua buku itu terjadi di zaman sekarang, mungkin levelnya bukan lagi budak. RA berkelakar menamainya “kecin” – kegilaan cinta.

Lalu apa saran dari si RA? Dia menyarankan untuk memandang apapun di dunia ini secara sederhana dan menikmatinya. Jika sudah terbiasa akan kesederhanaan, maka bakal terbiasa. Mudahnya, merepresentasikan seperti kehidupan layaknya sebuah roda. Kita sering mendengar bahwa hidup ini seperti roda bukan? Kadang di bawah atau sebaliknya.

Di sinilah nasihat RA yang mengatakan untuk tidak menjadi roda, melainkan sebagai poros. Karena, sebuah poros tetap terlibat dalam sebuah perputaran, namun tidak akan berada di atas maupun bawah.

Kembali lagi, RA menegaskan untuk menjadi ”sederhana”. Dari kalimat yang kutangkap, RA seperti menjelaskan bahwa “bucin” hanya keperluan “hidup manusia”. Sedangkan masih ada derajat yang lebih tinggi dari sekedar menjadi manusia. Yaitu menjadi seorang hamba, yang baru boleh dikatakan “budak-NYA”.

Jadi bagaimana? Apa kalian bingung dengan jawaban ketiga? Ha ha ha …

Lalu bagaimana dengan komentarku soal “bucin”? Hampir sama seperti jawaban ketiga, yakni mengembalikan cinta ke tempat sesungguhnya, kepada Tuhan kita. Aku juga setuju dengan jawaban pertama tentang love my self. Karena menurutku, mencintai diri sendiri itu penting.

Kita sering kali mendengar perkataan, jangan menaruh harapan berlebihan kepada manusia. Karena jika kecewa, obatnya bakal lama. Lalu bagaimana jika menaruh harapan itu kepada Tuhan kita? Kalian pasti sudah tahu jawabannya.

Satu lagi, aku teringat dengan pertanyaan lain yang disampaikan temanku selain cara agar tidak “bucin”. Dia bertanya, “Sejujurnya aku tidak tahu cara love my self.”

Tadi aku bilang bahwa soal BTS akan dibahas di akhir bukan? Akan kujelaskan kenapa aku suka BTS. Perlu kugaris bawahi, bahwa aku di sini bukan sosok manusia sempurna. Itu jika kalian berpikiran mengenai jawabanku tentang mengembalikan cinta sesungguhnya ke Sang Pencipta.

Ranah yang kubahas kali ini tentang love my self. Atau tema ini kutulis di tulisan selanjutnya saja? Ha ha ha … Aku akan mengambil kasus kecilnya. Beberapa tahun belakangan ini, mungkin lebih terperincinya tahun 2017, aku baru bisa mencintai diriku sendiri (Kenapa? Rahasia). Sikap love myself-ku makin muncul usai aku mendengarkan lagu BTS bertajuk "Love My self".

Aku tidak akan membahas soal rupa anggota BTS. Kalian sudah tahu sendiri wajah-wajah idol Korea seperti apa. Tapi di sini, aku menekankan soal musik BTS. Kisah mereka hingga bisa sesukses sekarang, dituangkan dalam musik. Aku tipe orang yang mendengarkan lagu tapi juga harus tahu terjemahannya. Di situlah BTS menyentuh sosok lain dalam diriku yang “tidur”. Hal itu menumbuhkan rasa “love my self” semakin besar. Itu garis besarnya.

Lalu bagaimana cara untuk love myself? Kita bisa memulai dengan memaafkan diri sendiri, juga masa lalu kita. Memberikan reward ke diri sendiri ketika berhasil melakukan sesuatu. Menjalani me time yang bakal membuatmu menyelam lebih jauh tentang “kamu itu siapa?”. Tapi sejauh ini, aku juga masih terus belajar. Mungkin ada cara lain dari kalian?

Kembali lagi soal “bucin”. Kurasa setiap individu harus bisa mengontrol pribadinya sendiri. Aku juga tidak paham kenapa orang bisa dikatakan “bucin” atau menganganggap diri mereka “bucin”. Apakah “bucin” itu seperti ini: Memikirkan si pasangan 24 jam, selalu menaruh curiga jika tak memberi kabar, cemburu hanya gara-gara foto bersanding dengan lawan jenis jelas-jelas bukan hanya dua orang, dan lainnya. Entahlah … Aku juga tidak terlalu paham.

Tapi pernah suatu hari aku menemukan cuitan dalam Twitter. Inti dari cuitan itu, orang zaman sekarang menyebutnya apa-apa “bucin”, “bucin, dan “bucin” hingga lupa di KBBI ada kata romantis. Usai membaca itu, aku langsung deg!

Dari sanalah aku sadar bahwa tidak boleh sembarang mengklaim orang itu “bucin” meski itu hanya sekedar dalam pikiran kita alias batin. Setiap orang punya cara tersendiri mengungkapkan rasa sayang mereka ke pasangan. Mungkin kesadaranku ini makin bertambah dengan penjelasan temanku si RA mengenai penjelasan bagian budak.

Well, aku tidak menyangka jika tulisan ini bakal melebihi empat halaman. Aku minta maaf jika ada kalimatku yang menyinggung. Aku harap kalian bisa menerima hidup ini dengan penuh syukur.

Ditulis di ruang kelas anak SMP bercat tembok hijau dengan hiasan kertas berbentuk bintang pada atap langitnya, 20 Oktober 2019. Suasana angin semilir menimbulkan suara decit pintu kelas.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...