Sudah lama aku tidak
menulis di blog (heheh maaf). Tapi kenapa tiba-tiba ingin menulis? Aku tidak
sengaja membaca deretan folder yang bertuliskan mengenai masing-masing naskah
yang kutulis. Mulai dari Wattpad, Blog, sampai ruang khusus curhatan.
Ketika aku membaca
folder bernama “blog”, aku teringat dengan sebuah obrolan cukup panjang dengan
temanku. Obrolan tersebut mengenai masa depan yang rupanya sudah mulai kami
pikirkan perlahan tapi pasti. Tema obrolan itu adalah soal pasangan hidup
hahaha.
Aku cukup terkejut
ketika temanku si A mengatakan bahwa si B memiliki hashtag #2020menujuhalal.
Kupikir dia sudah memiliki calon pendamping hingga berani menargetkan hal
tersebut. Tapi ketika aku baca ulang, kenapa “menuju”? Seperti ada sesuatu
kejanggalan.
Rupanya, kejanggalan
itu benar adanya. Jika seseorang memiliki kekasih dan berkomitmen untuk
melanjutkan hubungan ke jenjang serius, maka mereka akan menargetkan kapan
bakal mewujudkan hari bahagia itu. Tetapi teman si A ini, yang juga adalah
temanku, dia ingin membaliknya. Dia ingin menargetkan, entah bagaimana langkah
ke depannya nanti. Kupikir lagi, ternyata unik juga.
Obrolan kami kemudian
lanjut mengenai pertanyaan “Bagaimana calon pasangan yang cocok untukku?”. Kami
memang cukup lama kenal dan sudah saling mengenai antar personal. Meski
demikian, ketika dilontarkan pertanyaan seperti itu, cukup sulit juga untuk
menjawabnya.
Aku pribadi, pernah
membaca bahwa calon pasangan kita merupakan cerminan dari diri sendiri. Ada
pula yang menyebut, bahwa setiap manusia dipasangkan untuk saling melengkapi
kekurangan satu sama lain. Aku sendiri, jujur sangat setuju dengan tulisan yang
kubaca itu. Meskipun secara praktiknya belum terlaksana, namun secara imajinasi
di cerita kuterapkan hahaha...
Namun pada akhirnya,
kami: si A, B dan aku, saling mengutarakan satu sama lain bagaimana calon
pasangan yang cocok untuk kita. Meskipun pada akhirnya, masing-masing dari kami
ingin memiliki calon pendamping yang memiliki sifat seperti ini, hobi seperti
itu dan sikap seperti bla bla bla. Lucu ketika mengingat obrolan semalam
(Sabtu, 23 Februari 2019).
Sementara itu, benar
adanya dengan kalimat-kalimat bijak yang sering kubaca di media sosial.
Bahwasanya, di usia-usia seperti kami yakni menuju 23 dan 24 tahun, meski tidak
sering, akan selalu ada masa dimana memikirkan soal siapa dan bagaimana bertemu
dengan calon teman hidup kelak. Jika kupikirkan, lucu juga fase hidup ini. Tapi
memang begitulah semesta.
Ada bagian obrolan
malam itu yang seolah terpatri di memori. Hal itu tentang, ucapan temanku yang
ingin sosok masa depannya adalah seseorang yang membuatnya bisa terbuka dan
nyaman. Bukan hanya itu, tapi juga bisa membuat diri sendiri merasa aman,
percaya dengan apa yang kita ceritakan kategori persoalan intim dan menjadi
tempat menggantungkan. Aku tidak pandai menjabarkan hal ini, pada kalian wahai
pembaca setiaku entah itu siapa. Tapi aku paham dengan yang dimaksud kawanku
itu.
Sebagai penutup, dalam tulisan
terakhirku sebelum postingan ini, aku membahas soal tempat baruku yakni pekerjaan.
Usai beberapa waktu di sana, aku hanya bisa mendiskripsikan bahwa salah satu
penghuni semesta ini baik-baik saja, dan semoga seterusnya begitu.
Ditulis di kamar kos
dengan cat dinding yang makin rontok, 24 Februari 2019. Usai nonton Bon Voyage
BTS season 2.

Komentar
Posting Komentar