Ini akan menjadi tulisan random. Alur
maju mundur karena hidup ternyata berkaitan dengan masa lalu. Jadi, silahkan
baca pelan-pelan tulisan ini. Semoga masuk ke hati kalian, karena ini tentang “Benar
Nggak Sih Aku Kerja Sesuai Passion?”
Kita kembali jauh ke asal saat aku mulai
tertarik dengan dunia tulis menulis. Mari mengenang masa putih biru dongker
alias SMP. Tidak ada alasan khusus kenapa aku mulai menulis cerita yang
bahasanya saat kubaca waktu dewasa langsung ngelus dada. Super kacau dan
berantakan.
Jika mau mengingat, alasan paling kuat
adalah karena rasa ingin tahu dan penasaran serta jika dipersentasekan 60
persen lantaran ingin ikut-ikutan sepupu. Aku punya sepupu yang dia jago nulis.
Menurutku tulisan ceritanya bagus. Maka dari sanalah aku mulai mencoba menulis
di buku seharga Rp. 3000.
Hingga seragam putih biru dongker
berubah menjadi putih abu-abu, tulisan itu berlanjut dan aku merasakan adanya
perubahan. Tulisanku lebih rapi dan enak dibaca. Imajinasi semakin berkembang
karena mungkin mulai mengenal teman lebih banyak tingkat ‘kecamatan’ yang
sebelumnya hanya sebatas ‘kelurahan’.
Teman-teman SMA beberapa juga sudah ada
yang tahu jika aku suka menulis cerita. Aku sendiri yakin beberapa di antara
mereka karena embel-embel namaku ada kata ‘novel’nya. Yakin pakai banget!
Tapi jika boleh jujur, seperti ada
kekuatan magis di namaku itu. Seperti dorongan dan motivasi karena nama yang
ada kata ‘novel’. Membuatku semakin semangat untuk menulis. Sekedar informasi,
di SMA ini, aku baru mengembangkan tulisan cerita. Itu pun juga masuk kategori FanFiction (FF). Kalian sebagai anak
penyuka K-Pop pasti tahu istilah FF. Bagi yang tidak, silahkan cari di google.
Hingga aku mulai merantau demi melanjutkan
pendidikan ke Semarang, lingkup pertemanan semakin luas. Begitu banyak warna
yang aku lihat di setiap orang yang kutemui. Bau-bau adanya cinta mulai tumbuh
hingga lulus pun tak juga ada yang tersangkut (intermezo ini adalah curhat
colongan).
Kuliah adalah puncaknya! Puncak ternyata
aku memang suka menulis. Lantas sebagai perempuan yang bermetamorfosis dari
remaja menuju dewasa, aku ingin mengembangkan diri ini. Banyak sekali unit
pelaksana kegiatan mahasiswa (UPK) yang ditawarkan baik tingkat fakultas maupun
universitas. UPK itu, bak wadah organisasi. Mulai dari BEM (Badan Eksekutif
Mahasiswa), pecinta alam, rohis, fotografi, pecinta binatang, bakti sosial,
paduan suara, tari, dan banyak lagi.
Kembali ke topik soal aku ingin
mengembangkan diri, lantas UPK apa yang ku pilih? Aku masih ingat alasan aku
memilih 2 UPK ini.
Alasan pertama, aku jauh dari orangtua.
Aku merantau di kota besar. Meski selalu di awasi Tuhan, jika tidak ada tameng
dari diri sendiri, maka akan berakibat fatal. Lantas aku memilih UPK rohis
sebagai pilihan pertamaku, dan di sinilah aku semakin memantapkan diri untuk
berhijrah (tolong doakan agar aku tetap istiqomah). Dengan mengikuti UPK itu,
maka secara pribadi aku berada di lingkup orang-orang yang bernuansa positif
(Insya Allah). Bukan berarti lingkup lainnya negatif, bukan. Ini hanya cara
bagi tiap-tiap orang dalam melindungi diri sendiri.
Lanjut alasan kedua, aku ingin
mengembangkan tulisanku. Bukan berarti aku bosan menulis cerita, bukan. Aku
hanya ingin berkembang dan nuansa baru. Tentu kalian tahu aku memilih apa.
Betul, aku memilih UPK pers mahasiswa. Di dalam alasanku ini, terdapat cabang
alasan yakni aku ingin mencoba menulis berita. Pasti ada tantangan di dalamnya.
Ditambah aku ini tipe perempuan-perempuan pemalu di lingkungan dan orang baru.
Lebih lanjut, hingga minggu ke bulan.
Bulan ke tahun, aku benar-benar mengalami perubahan dalam hidup. Tidak hanya
soal akademik, lewat UPK itu aku semakin berkembang terutama soal manajemen
diri, waktu, dan keuangan. Terlebih bagaimana tulisanku. Teknik menulis berita
tak segampang tulisan cerita. Jika menulis cerita terutama fiksi, kita bebas
tanpa aturan. Namun lain dengan tulisan berita yang harus bersifat fakta,
aktual, dan komunikatif.
Terlepas dari tulisan, mengikuti
jurnalis juga mengasah kemampuan komunikasi dan bonusnya melatih rasa minderku.
Aku bersyukur telah mengikuti kedua UPK itu. Hingga siapa sangka, Allah
memberiku amanah memimpin UPK yang sesuai hobiku itu.
Dari masa lalu, maka sampailah kita ke
masa depan. Sempat frustasi menunggu pekerjaan yang tak kunjung lolos atau pun
panggilan. Jika boleh jujur, awal lulus aku masih idealis soal pekerjaan impian
yang harus sesuai pendidikan yang kutempuh. Aku adalah lulusan anak pertanian.
Hingga karena terkikis waktu, idealis
itu luntur karena rasa yang hampir pesimis. Lantas otak ini berpikir, aku
memiliki sesuatu lain selain ilmu pertanianku. Maka dari itu, dari yang awalnya
coba-coba, aku menuliskan kata kunci yang berkaitan dengan menulis saat mencari
pekerjaan di career browser. Mulai
dari ‘writers’, ‘penulis’, ‘jurnalis’,
dan lainnya.
Allah punya cara sendiri ternyata. Entah
apakah ini termasuk sebuah keberuntungan, aku dipanggil dan diterima kerja di
bidang menulis. Lebih tepatnya sebagai content
writers.
Nyatanya, kurang lebih 3 tahun bergelut
dengan organisasi pers, tak cukup untuk beradaptasi cepat di lingkungan kantor.
Meski dasarnya sama yakni menulis, aku masih harus terus belajar mengolah kata
yang lebih komunikatif pada pembaca.
Jadi, kembali ke judul tulisan ini tentang
“Benar Nggak Sih Aku Kerja Sesuai Passion?”
Aku pribadi tidak tahu. Serius
benar-benar tidak tahu. Tapi, beberapa temanku yang tahu aku bekerja di sini,
mereka yang dekat denganku, seolah memberi pujian dan semangat bahwa aku
bekerja sesuai passion.
Ya, aku suka menulis. Aku suka mengolah
kata-kata ini hingga dibaca pemirsa. Ya, aku juga merasa tertekan (hingga saat
ini entah sampai kapan) dengan pekerjaan ini karena sehari ditarget 12 berita.
Tapi, kalian tahukah? Aku seperti
menikmati rasa tertekan itu. Nah, bagian inilah yang aku bingungkan bagaimana
menjelaskan. Aku tertekan, tapi aku senang. Seolah tiap bangun pagi dan perjalanan
ke kantor, aku dibuat rasa penasaran tentang pertanyaan ‘berita apa yang aku
buat hari ini?’. Aku tertekan, tapi aku suka karena penasaran. Seperti, bahasa
apa yang akan aku tulis. Seperti rasa senang saat mengolah kata. Hanya itu
alasan yang baru bisa kusebut.
Jadi untuk kalian yang mungkin tidak
sengaja membaca ini, berdasarkan tulisan di atas, benarkah aku bekerja sesuai passion? Lantas jika masuk sebagai content writers, berita apa yang aku
tulis? Aku, masuk tim redaksi berita selebriti Indonesia dan beberapa nasional.
Tulisan ini adalah bentuk hutang diri
sendiri. Dan, akhirnya lunas ketika rencana akan menulis di satu bulan pertama
kerja, lanjut bulan kedua, hingga sekarang ketiga.
Memang masih seumur jagung untuk
menuliskan pengalaman ini. Atau aku harus menunggu beberapa waktu lagi agar
mampu menjawab “Benarkah Aku Bekerja Sesuai Passion?”
***
Untuk kalian yang mungkin di posisi
menunggu panggilan kerja, semangat! Kita tidak tahu rejeki akan datang dari dan
dengan cara apa. Kenali potensi kalian, dan kembangkan! Kata teman, dengan
punya tujuan di hidup, kita akan tahu apa makna bekerja selain sebagai ibadah.
Sekian.
Di tulis di kamar kos dengan cat dinding
yang mulai rontok, 28 Juni 2018. Mau cat sendiri, tapi kok ya gimana gitu ya...
Beli catnya dulu kak
BalasHapus