Langsung ke konten utama

Karena Ini Perjalan Pertamaku

“Kamu coba sekali-kali melakukan perjalanan sendiri Tan. Uhh sensasinya akan beda. Disitu kamu akan benar-benar menghargai sama yang namanya partner jalan.”

Kurang lebih begitu. Percakapan malam di kamar ± 3x3 meter dengan cahaya remang-remang.
Entah kenapa ucapan yang sederhana tersebut membekas dalam hati ini. Perjalanan jauh, dengan sensasi beda. Bagaimana rasanya?

Dan pertanyaan itu, terjawab 28 Maret 2018 kemarin.

Tulisan ini akan membagikan pengalaman perjalanan perempuan usia 22 tahun yang pertama kalinya ke kota yang dikenal sebagai ibu kota kedua setelah Jakarta: Surabaya.

Tidak terencanakan tentang perjalanan ini. Bukan sebuah perjalanan liburan atau berkunjung ke rumah teman atau saudara. Perjalanan ini terjadi karena panggilan kerja yang saya lamar.

Sedikit bimbang apakah saya perlu datang atau tidak mengingat beberapa pertimbangan yaitu jauh, tidak ada kenalan disana, dan dimana saya akan mandi nanti? Tapi di luar itu, kenapa saya merasa sangat tertarik dengan perjalanan ini?

Berbekal dengan restu orang tua, yang mereka selalu bertanya dengan pertanyaan:
“Apa kau berani?”
“Apa kau berani?
Dan “Apa kau berani?”
Jawabanku adalah “Ya Saya berani.”

Saya berani, dan rasa penasaranku juga besar. Surabaya. Jika diingat-ingat, saya belum pernah kesana. Sekedar lewat saat perjalanan ke Bali (tolong hubungi saya jika salah apakah ke Bali melewati Surabaya), itu pun saya teler karena minum antimo. Karena saya termasuk orang mabuk darat.

Selesai pertimbangan, Rp 280.000 ku berikan secara ikhlas pada petugas indomart dengan ganti 2 tiket pulang pergi Solo Balapan dan Surabaya Gubeng.

27 Maret 2018 pukul 23.10 WIB adalah jam keberangkatan dari stasiun Solo Balapan. Orangtua mengantar hingga saya bisa melambaikan tangan di dalam kereta. Ya, mereka menemani hingga saya masuk ke dalam kereta.

Ada perasaan bahagia ketika sudah masuk kereta. Karena saya jarang menggunakan jasa transportasi kereta, sehingga tidak terlalu tahu perkembangan kereta Indonesia. Kursiya enak. Jauh dari pikiran saya tentang kursi untuk 3 orang yang saling berhadapan. Tetapi kursi seperti bis untuk 2 orang dan bisa diturunkan. Bakal nyenyak tidur saya ini.

Situasi kereta cukup sepi. Masih banyak kursi kosong. Tidak masalah bagi saya karena gangguan suara saat tidur akan semakin kecil: Ngorok.

28 Maret 2018 pukul 03.47 WIB, kereta Jayakarta Premium kereta yang saya naiki sampai di stasiun Surabaya Gubeng. Kondisi yang saya rasakan adalah bahagia, semangat, sedikit masih mengantuk, haus dan lapar. Saya duduk cukup lama di ruang tunggu bagian dalam. Begitu terdengar suara ngaji sebelum adzan subuh, saya menanyakan kepada petugas dimana Mushola dan dijawab disana (bagian utara) lewat pintu luar. Saya angguk-angguk paham.

Melewati lantai ubin putih dengan penawaran taksi dari bapak-bapak yang sama semangatnya dengan saya, saya menuju Mushola. Baca-baca tulisan petunjuk seperti toilet, lapis kukus khas Surabaya (saya beli buat oleh-oleh), jadwal keberangkatan, customer service, dan lain-lain. Dimana tulisan Musholanya??

Saya duduk di ruang tunggu luar. Hingga suara adzan berkumandang. Waktu itu, bodohnya saya adalah kenapa saya tidak bertanya dengan lainnya?

Suara adzan sangat jelas. Bahkan saya mungkin bisa mengikuti petunjuk suara panggilan Allah. Dan saya megikuti suara tersebut. Tidak terlalu jauh, saya melihat kubah masjid. Alhamdulillah, bukan Mushola tapi menemukan masjid. Sholat subuh pertama saya di Surabaya.

Kegiatan habis sholat subuh saya skip. Hingga saya bertemu dengan mbak Meris. Anak Jember. Saya berkenalan dengannya di masjid tempat sholat subuh tadi. Mbak Meris ada urusan di Surabaya untuk training kerja. Saya menebak-nebak dia 1 tahun lebih tua dari ceritanya yang lulus SMA tahun 2012.
Mbak Meris sama bingungnya mau mandi dimana. Alhasil, kami memutuskan untuk mandi di toilet bagian luar. Keadaan masih sepi. Berhubung mbak Meris kegiatannya jam 07.30 maka saya memperilahkan untuk masuk duluan hingga saya menjaga tasnya.

Skip skip skip. Hanya obrolan biasa hingga kami bertukar nomor telfon. Kenalan pertama saya di Surabaya.

Hingga saya sendiri lagi karena interview pukul 10.00 WIB, kemudian memutuskan untuk sarapan di kantin stasiun setelah itu berbenah alias ganti baju dan pakai makeup. Saya memesan nasi kukus bungkus daun pisang dimana isinya nasi, telur cokelat setengah, potongan ati, suwiran ayam campur sambel dan sayur daun singkong  dan aqua dengan total Rp 23.000.

Tidak ada yang menarik ketika saya sedang bermakeup maka dari itu saya skip lagi.

Pukul 09.45 saya sudah di ruang tunggu kantor yang sepiiii. Sudah mengucapkan salam dan permisi 3 kali. Dalam Al-Qur’an jika sudah 3 kali maka pulang dan kembali lagi. Tapi untuk saya, pasti pengecualiankan? Tidak mungkin balik ke Karanganyarkan? Hehehe...

Hikmah dari saya menunggu adalah, saya mendapat kenalan baru lagi. Dia perempuan lulusan Komunikasi UNAIR Maret 2018. Dia berasal dari Wonogiri dan menyukai Kpop. Kami bercerita mengenai pekerjaan yang kami lamar dan tentunya pembicaraan tentang Kpop. Hingga sosok perempuan datang dari balik pintu samping kami. Memanggil nama kami dan menyuruhku untuk interview pertama.

Sekitar 1 jam kurang, saya selesai interview. Mengobrol sedikit dengan kenalan kedua saya. Ketika ia masuk untuk giliran interview, disana saya sangat menyesal kenapa tidak menanyakan nama dan meminta nomor telfonnya untuk menambah kenalan di Surabaya.

Saya sendiri lagi hingga jemputan jaket hijau datang.

Sebelum ke Surabaya, saya sudah sering membuka google map jarak antara stasiun dan lokasi interview. Ada beberapa lokasi tempat yang menarik mata saya. Salah satunya adalah Taman Korea. Maka dari itu, jemputan jaket hijau tadi mengantar saya ke Taman Korea. Tamannya bagus. Ada simbol bangunan tulisan Indonesia-Inggris-dan Korea. Bahwa Taman Korea ini sebagai simbol bentuk hubungan baik Indonesia (Surabaya) dengan Korea.

Tidak lama saya di Taman Korea karena saya lapar dan memang berkeinginan makan khas Surabaya. Atau makanan yang perlu dicoba di Surabaya. Maka keputusan saya adalah tempat makan Mie Pecun. Lagi saya dijemput jaket hijau.

Mie Pecun sendiri singkatan dari Pedas Bebas Racun. Unik juga. Dengan lokasi di Jl. Kedungsari no. 135 A, Sawahan, Wonorejo, Tegalsari, Kota Surabaya. Akhirnya saya memesan Mie Pecun Mletek Suwek dan minuman teh tarik. Dengan total Rp 26.000. Bagi saya, lumayan rasa makanan ini. Saya pribadi memang menyukai rasa pedas. Namun yang sangat disayangkan adalah, maaf sebelumnya rasa mie ini yang familiar atau memang menggunakan mie merk dagang mie se*dap rasa special kari. Meskipun mereka berkreasi dengan menambahkan sawi, telur, udang, kornet, dan bakso. Tetapi cita rasanya masih sangat kentara dengan mie tersebut.

Cukup lama saya di tempat makan tersebut. Mengingat masih banyak waktu dan saya juga harus mengisi daya baterai android.

Terakhir kalinya di hari tersebut, saya dijemput oleh jaket hijau lagi. Ada pengalaman menarik dengan bapak ini. Beliau berasal dari Solobaru. Sudah 5 tahun di Surabaya dan menemukan pujaan hatinya disana.

Bercerita seputar pekerjaan dan pengalaman hidup, hingga tak terasa sampai ke stasiun Gubeng.

“Nggak usah bu, sama-sama orang solo, gapapa.”

Saya terkejut. Dengan sedikit berdebat mengenai saya menolak karena saya tahu cari uang itu juga sulit, bapak tersebut masih ngotot, dan membuat saya mengalah kemudian beliau pergi. Semoga Allah melancarkan rejekinya ya pak.

Pukul 14.30 WIB saya sudah di ruang tunggu bagian dalam dengan 1 bungkus Kukus Lapis Surabaya sebagai oleh-oleh.

Pukul 15.00 WIB kereta Jayakarta Premium tiba dan sebagai akhir cerita pengalaman pertama saya di Surabaya.

***
Apa yang dapat saya ambil? Banyak. Sangat banyak. Semua perkataan teman saya di atas semuanya benar. Bagaimana sensasi luar biasanya dan menghargai parner jalan.

Merasakan bagaimana saat dimana kita datang tanpa ada yang menyambut satupun. Merasa asing tetapi kita harus membaur. Belajar mengenai pola tingkah Surabaya meskipun hanya sebentar. Ramah terhadap orang baru tetapi tetap waspada nomor satu. Dan yang terpenting bagaimana kita menyikapi sikap berani kita.

Saya cukup bangga dengan diri saya. Dimanapun kita berada, asal tetap menjaga attitude, saya rasa kita bisa melakukannya meskipun seorang diri. Percaya dengan kemampuan diri sendiri dan selalu ingat bahwa Allah selalu bersama kita.

Menghargai orang-orang disekitar kita. Mungkin saja, kebaikan yang saya terima di Surabaya merupakan tabungan kebaikan saya atau oranglain di masa lalu. Mungkin saya pernah menolong atau orangtua, keluarga, atau teman kita yang menolong orang lain. Sehingga kebaikan tersebut melingkar. Menyebar pada siapapun. Damai sekali.

Selamat menikmati perjalan jauh pertama menurut kalian. ^^

Di tulis di kamar cat putih salju, 30 Maret 2018 dengan 95% diceritakan secara jujur dan 5% karena kejadian yang memalukan untuk diceritakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...