Langsung ke konten utama

Sajak "Menjadi Kita"

Aku tak seberani mereka
Tapi aku mengatakannya
Lantas kau menerimanya
Saat itu juga aku bahagia

Tapi, kenapa harus aku?
Andai kata itu darimu
Aku bahkan akan tersipu
Omongan yang hanya membuatku,
mambatu

Aku tak berbeda dengan wanita lainnya
Ucapan sanjungan nan sederhana
Mampu membuatku terbata
Senyum dan tertawa

Jika kesempatan ada lagi
Kuharap kau tidak grogi
Begitupun dengan diri ini
Berani dan berani

Kau tahu aku sudah menanti
Hingga detik ini
Tak berubahpun hingga secenti
Kuharap kau mengerti

Mari abadikan momen kita
Memulai kedua untuk pertama
Jika kau berkata
Maka kan kujawab iya

Semisal kau merasa
Maka aku juga
Dan kuharap menjadi kita
Di waktu yang tlah tercipta

(Jika kau merasa,  maka itu kau dan kuharap menjadi kita)
-Karanganyar,  220118, 01.29-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...