Jadi, 1 minggu sebelum hari H hari Sabtu tanggal 23 September 2017, ada
poster tentang seminar jurnalistik yang diadakan Oleh Fakultas Psikologi Undip.
Kulihatlah siapa pembicaranya. SekeTIka aku langsung bilang “Waaaaaa...
Omaigat.. Ya ampun..”
Bayangin 2 penulis favorit kamu dalam
satu acara. Langsung dong aku tanya-tanya sama narahubungnya. Pengen daftar yang
gold, yang bisa dapat signature nya, tapi apa daya yang gold udah habis dan
tinggal bagian silver 2. Wih banyak juga yang daftar. Langsung aja aku ketik
nama dan lain-lain buat daftar. Masalah uang, nantilah yang penting daftar
dulu. Alhamdulilah di ATM masih ada buat sekedar transfer hehehe.
Sebelum acara semjurnas tersebut, hari
sebelumnya hehehe aku ada sidang skripsi buat gelar S.P. Kalau kalian baca
tolong ucapin selamat buat aku dong. Ending sidang yang menurutku bikin malu. Sungai-suangi
kecil yang dibendung akhirnya keluar juga.
Oke kembali lagi ke inti penulisan ini. Acara
dibuka seperti biasanya. Dan sampailah ke pembicara pertama yaitu Azhar Nurun
Ala, atau kita bisa memanggilnya bang Azhar. Aku lihat nih bang Azhar. Terakhir
aku datang ke acara yang pembicanya dia adalah tahun 2015 dan sekarang udah
2017. Aku mikir “wah nambah subur aja nih bapak baru”. Tetep manis bang Azharnya
(Dia udah beristri dan punya baby lucu abis). Oke seperti biasa bang Azhar buka
acara dengan pantunnya yang super kocak abis. Singkatnya aja nih, dia
menyampaikan materinya seperti orang stand up comedy tapi ya masih bisa bikin
baper. Kebayang gimana kak Vidia (istrinya) yang digombalin gimana ya? Hahaha
Dan dan dan... pembicara kedua.... Ini
pertama kalinya aku betemu dengan dia. Aku sering shae tulisan bijak, bapernya
atau singgungannya di facebook. Dan finally, hari ini aku diberi kesempatan
buat bertemu dengan dia.
Kutengok belakang nih dimana pembicara
muncul. Kupikir gimana gitu ya ternyata... jeng jeng jeng.. Darwis “Tere Liye”
datang dengan kaos, celana jeans, sendal kayak carvil, dengan tas punggung di
cantolin samping nebuka lagi, dan bawa aqua 1500 ml. Inikah sosok Tere Liye
dibalik kata romantisnya itu. Dia begitu sederhana untuk ukuran penulis best
seller. Oke keterkejutanku tidak hanya sampai itu, dia juga menyuruh untuk panitia
masuk karena menurutnya panitia bekerja keras dari sebelum hingga sesudah tapi
mereka tidak mendapatkan ilmunya.
Lanjutlah dia Tere Liye berbicara.
Larut
Larut
Larut
Bang Tere Liye ramah banget. Matanya yang
sipit dan dia juga sepeti bang Azhar, cara menyampaikannya juga lucu. Ilmunya dapet
banget. Sumpah makin suka sama bang Tere Meskipun ya maaf-maaf nih bang kalau bang
Tere baca blog ku ini (ngarep banget) aku belum baca semua novel bang Tere.
Baru baca yang Rindu, Rembulan tenggelam di wamu, dan Hujan. Kau, aku an
sepucuk angpao merah aja belum kelar-kelar.
Buat tambah-tambah aja nih, kata bang
Tere Liye, kalau bingung cara nutup tulisan ya udah tinggal nulis penutupnya
yang seperti biasanya . Kayak tulisan paling bawah ini.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar