Dari: Fairy
“Kurcaci,
bawakan aku minuman dingin. Sekarang juga.”
Dari:
Kurcaci
“Kau
bodoh? Aku sedang ada pelajaran matematika.”
Dari:
Fairy
“Jika
dalam waktu 5 menit kau tidak datang, dan aku mati. Siapa yang kau pilih? Aku
atau matematika?”
Dari:
Kurcaci
“Tentu
saja aku pilih matematika. Kau tidak bisa memperbaiki nilai 3 ku bukan?”
1
menit.
2
menit.
3
menit.
4
menit.
Tap
tap tap...
Tap
tap tap..
Tap
tap tap..
“Kau
sudah mati?”
*IF*
“Bagaimana
bisa kau dalam seminggu dihukum 4 kali?”
“5
kali”
“Astaga..
Kalau seperti ini kau tidak akan lulus dengan predikat baik.”
“Kau
mengkhawatirkanku?”
“Astaga,
bukan saatnya untuk menggodaku. Ya, aku mengkhawatirkanmu. Kau sudah berjanji
kalau kita akan lulus bersama dan akan melanjutkan ke Universitas yang sama.”
“Lupakan.”
“Ya!!
Park Jimin!!”
Anak
laki-laki yang dipanggil dengan nama Park Jimin hanya diam saja kembali tidur.
Ia merasa lelah setelah mengelilingi lapangan basket sebanyak 20 kali.
“Ini janjiku sebagai anak laki-laki yang berproses
menjadi pria sejati. Kita akan lulus bersama dan masuk ke Universitas yang sama
pula! Semangat Kang Seulgi!!”
Jimin,
mengingat momen 2 tahun yang lalu. Tidak terasa sekarang mereka sudah berada di
tingkat 3. Nafasnya kembali teratur. Ia duduk menatap Seulgi. Gadis berkucir
kuda ini juga menatapnya.
“Aku
baru sadar. Dari awal kita masuk ke sekolah ini, kau sama sekali tidak merubah
gaya rambutmu.”
Seulgi
memegang rambutnya. Rautnya terlihat berpikir “benarkah?”.
“Tentu
saja benar.” Timpal Jimin.
“Ck,
aku jadi malas masuk ke kelas lagi.” Keluh Seulgi.
“Bolos
saja.”
“Cih.”
Raut muka Seulgi menghina Jimin. “Oke. Temani aku ke kantin.” Seulgi bangun
menepuk roknya yang mungkin saja kotor terkena debu lapangan. Disusul Jimin
yang tersenyum juga. Gadis ini sok menghinanya. Pada akhirnya dia juga akan
tahu apa jawaban Seulgi.
*IF*****
“Wah,
bukannya dia sangat tampan? Suaranya juga sangat halus. Ditambah dengan gerakan
dancenya yang sangat keren.”
Wanita muda berpakaian
putih ini sangat berantusias dengan layar televisi yang ada di depannnya.
Begitu juga dengan pria paruh baya yang sedang duduk di kursi roda. Tidak hanya
mereka berdua. Tetapi juga pengunjung lainnya. Mereka yang tidak ada kegiatan,
ikut menonton.
“Aku
yakin anakku pasti mengidolakannya. Dia selalu melihat acara televisi yang
menampilkan mereka.” Kata pria paruh baya di kursi roda.
“Ya!
Suster Kim. Sampai kapan kau akan tetap disana? Kubilang 10 menit tunggu kami,
tapi kau sudah 15 menit tidak datang.” Teriakan itu berasal dari lorong kanan.
“Gawat!”
Suster Kim, segera membalikkan kursi roda. Membawa pasien pria paruh baya pergi
meninggalkan televisi.
“Maafkan
aku suster Im. Pasien memintaku untuk berhenti di ruang tunggu karena ingin
menonton acara televisi.” Kata suster Kim beralasan.
Suster
Im berhenti. Menatap kesal pada suster Kim. “Dengar suster Kim. Dokter sudah
mengatakan keterlambatan. Jika kau lebih dari 5 menit, bisa saja pasien ini
meninggal.”
“Suster
Im.” Suster Kim terkejut dengan pernyataan suster Im yang tidak memikirkan
perasaan pasien yang saat ini berada di antara mereka berdua.
“Cepat!”
Teriak suster Im marah.
*IF*
Seulgi
menyesali keputusannya membolos pelajaran matematika. Meskipun sebenarnya ia
tidak membolos sepenuhnya. Seulgi hanya menyelesaikan jam matematika 30 menit sebelum
waktunya. Hasilnya, sikat lantai ada di tangannya. Jimin hanya tersenyum
melihatnya. Bahkan ia malah asik menghisap lolipop.
“Hahhh,
ini melelahkan.” Keluh Seulgi.
Jimin
berdiri. Sudah 30 menit dan Seulgi belum menyelesaikan tugasnya.
Sikat
lantai ia rebut dari Seulgi. Menggantikannya? Bukan. Tapi malah
menggeletakkannya di lantai.
“Ayo
kita pulang.” Ajak Jimin dengan mu-dah-nya.
“Apa?
Aku masih ada 2 toilet yang harus kubersihkan dan kau mengajakku pulang. Pfft
Park Jimin, kau tidak ingin sahabatmu ini istirahat? Atau kau malah ingin aku
ditambah tugas atas hukumanku kedua karena hukuman pertamaku belum
kuselesaikan?” Seulgi sedikit kesal.
“Sudah
ayo.” Kali ini Jimin menarik tangan Seulgi. Meninggalkan busa yang masih berceceran
di lantai. Dan satu lagi. Lolipop tadi Jimin buang sembarangan.
Bukannya
mengajaknya pulang, Jimin dan Seulgi hanya berdiam diri di depan gerbang. Apa
yang akan mereka tunggu? Batin Seulgi.
Seulgi
melotot. Mobil hitam dengan plat nomor yang sangat ia kenal, berhenti di depan
mereka. Keluar seorang laki-laki dengan ransel hitam melekat di punggungnya.
Kaca mata hitam yang menambah kharismanya. Rabutnya sedikit bergoyang karena
angin. Langkahnya tegap menuju mereka berdua.
“Apa-apaan
ini?” Kata Seulgi.
“Kau
sudah menunggu lama?”
“Bukankah
mahasiswa coass sangat sibuk?” Tanya Seulgi.
“Aku
meminta Jimin untuk merahasiaka darimu. Ayo kita pulang. Tapi sebelumnya kita
mampir untuk makan siang.”
Seulgi
menoleh ke Jimin. Jimin menoleh balik tapi tidak ada raut untuk menjelaskan.
“Ayo.”
Kata laki-laki tersebut.
“Kau
duluan saja.” Ucap Jimin.
Seulgi
menoleh. Bukankah tadi mereka akan pulang bersama?
“Oppa
tunggu sebentar.” Kata Seulgi.
“Kenapa?
Kau ada urusan?” Tanya Seulgi.
“Ya.
Kau duluan saja dengan Kyuhyun hyeong.” Jawab Jimin.
“Baiklah.
Nanti aku line.” Kata Seulgi. Jimin mengangguk. Ia membungkuk hormat kemudian
pergi.
“Oppa.
Sudah lama kita tidak makan siang bersama sejak Oppa mulai coass.”
“Maka
dari itu, kita nikmati waktu yang ada ini.”
“Kenapa
harus membuat janji rahasia dengan Jimin? Bahkan Oppa bisa langsung
memberitahuku.”
“Bukan
kejutan namanya.”
Mereka
tertawa bersama.
Lalu
kemana perginya Jimin? Jimin tidak pulang. Ia malah masuk ke sekolah lagi.
Mengambil lorong di lantai 2 tempat ia terakhir bersama Seulgi. Membuka pintu
dan mengambil sikat lantai yang tergeletak. Ia tidak ingin ada hukuman tambahan
ataupun laki-laki yang dipanggil “Oppa” tadi tahu kalau sebetulnya Seulgi
sedang dihukum.
*IF*
Seulgi
menikamti waktunya bersama Kyuhyun. Hampir tidak ada raut untuk tidak
tersenyum. Ya, Seulgi sangat menyayangi Oppa yang satu ini. Kyuhyun segalanya
bagi Seulgi. Panutannya sejak 2 tahun lalu. Kyuhyun lebih tua 6 tahun dari
Seulgi dan Jimin. Saat ini dia sedang menjalankan masa coassnya unuk menjadi
seorang dokter sesungguhnya. Adalah impian Keluarga Cho untuk mewarisi
pekerjaan di bidang dokter. Sama dengan keluarga Kang Seulgi. Universitas Korea
adalah tempat ia menuntut pendidikannya sebagai dokter. Jangan meragukan
kemampuannya di bidang akademik. Wajah yang telihat seperti anak kecil ini
menyimpan banyak sekali ilmu. Kyuhyun tipe pria yang bisa belajar dengan cepat.
Untuk itulah Seulgi sangat mengaguminya. Bahkan Seulgi berkeinginan untuk
mengikuti jejak Kyuhyun. Lulus dari masa SMA nya dan melanjutkan pendidikannya
di Universitas Korea jurusan kedokteran.
“Bukankah tahun ini terakhir Oppa coass?” tanya Seulgi.
“Bukankah tahun ini terakhir Oppa coass?” tanya Seulgi.
“Kau
benar. Sudah hampir 4 tahun. Bagaimana denganmu?”
“Aku
tidak yakin Oppa. Banyak sekali nilaiku yang saat ini sedikit demi sedikit
menurun.” Seulgi melemah. Wajahnya kusut jika mengingat nilai sekolahnya.
“Apa
kau terlalu santai dan banyak bermain? Kau tidak ingin menyusulku?”
“Oppa
terlalu jauh untuk kususul. Jika aku masuk sekolah kedokteran, aku harus
menempuh 2 tahun pendidikan preklinik dan 4 tahun coass. 6 tahun dari sekarang
dan 6 tahun untuk Oppa. Oppa pasti sudah menjadi dokter yang terkenal.”
“Menjadi
dokter bukan untuk terkenal Seulgi. Tapi kau menolong mereka yang membutuhkanmu.
Kau harus ingat itu.”
Seulgi
hanya diam saja. “Semangat. Jika kau perlu bantuan, kau bisa menghubungiku.”
Seulgi
memutar bola matanya. Bahkan saat Seulgi mengucapkan selamat tidur di pesanpun,
Kyuhyun sampai saat ini hanya membacanya. Itu sudah 1 bulan yang lalu.
“Bagaimana
dengan Jimin? Apakah dia akan lanjut?” Tanya Kyuhyun.
“Jimin?”
Seulgi mengulang nama Jimin. Bahkan ia tidak tahu apakah Jimin akan lanjut atau
tidak. Tapi bukankah Jimin sudah berjanji untuk selalu bersamanya? “Kupikir dia
akan masuk kedokteran juga.” Jawab Seulgi seadanya.
Kyuhyun
menoleh. Terkejut.
*IF*
Saat
Seulgi menjawab “Kupikir dia akan masuk kedokteran juga.”, saat itulah Jimin
sedang menari dengan lincahnya. Tidak peduli jika orang lain melihatnya, Jimin
membersihkan lantai toilet dengan gerakan menari. Beberapa orang yang
melihatnya hanya terheran-heran. Akan tetapi ada juga para gadis yang
terkagum-kagum. Melihatnya tetapi hanya sekilas.
Gerakan
Jimin terhenti ketika salah satu temannya menghampirinya.
“Jimin.”
Jimin menoleh.
“Ada
apa?” Saut Jimin.
“Guru
Kim ingin bertemu denganmu sekarang.”
“Sekarang?”
Ulang Jimin. Ada apa?
*IF*
“Oppa,
hanya makan malam saja. Oppa tidak bisa?” Tanya Seulgi.
Kyuhyun
tersenyum. Masih dengan jawaban yang sama. Ia tidak bisa. Makan malam masih 2
jam lagi, tetapi 1 jam perjalan ke rumah sakit itu tidak mungkin.
“Kau
harus ingat dengan mimpimu Seulgi. Demi Ayahmu juga. Kau tidak boleh terlalu
banyak bermain. Mengerti?”
Seulgi
tersenyum. Matanya mendadak beralih kearah lain.
“PARK
JIMIN!!” Teriak Seulgi. Seulgi langsung saja menghampiri Jimin. “Jangan katakan
apapun ke Kyuhyun Oppa.”
Jimin
hanya diam. Ia acuh pada Seulgi dan malah mengahampiri Kyuhyun, membungkuk
memberinya hormat.
“Apa-apaan
dia? Apa dia akan mengadu?” Kesal Seulgi.
“Hyeong.”
Sapa Jimin.
“Aku
ingin berbicara denganmu. Mungkin 5 sampai 10 menit. Bagaimana?”
Jimin
mengangguk.
“Seulgi,
kau bisa masuk ke dalam. Aku ingin berbicara sebentar dengan Jimin.” Kata
Kyuhyun.
Seulgi
harap-harap cemas. Bagaimana jika Jimin mengadu? Matilah ia.
“Baiklah.”
2
laki-laki ini melihat langkah Seulgi yang terlihat sangat berbeda. Mata Seulgi
menyipit ketika melewati Jimin. Ada apa? Pikir Kyuhyun dan juga Jimin.
“Ada
apa hyeong?”
“Kau
tahu apa mimpi Seulgi?” Tanya Kyuhyun langsung ke inti pembicaraan. “Aku yakin
kau tahu Jimin. Mendiang Ayahnya adalah dokter terkenal di Korea. Seulgi sangat
menyayanginya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan Ayahnya meskipun, tuan
Kang sudah tidak ada.”
Jimin
hanya diam mendengarkan.
“Aku
tahu perkembangan belajarnya Seulgi. Bahkan untuk hukuman hari ini. Tapi ia
diam-diam merahasiakannya. Hingga aku menunggunya untuk bicara sampai saat ini
tapi Seulgi tak kunjung bicara juga.” Kyuhyun melanjutkan ucapannya.
“Seulgi
memiliki mimpi besar Jimin. Dan mimpi besar itu tidak mudah untuk diraihnya
hanya dengan membolos kelas meskipun hanya 30 menit.” Kyuhyun menarik nafas.
“Bisakah aku meminta tolong Jimin? Buatlah Seulgi untuk dapat meraih mimpinya.
Mimpi besarnya tidak seperti menari yang bisa kau pelajari secara otodidak.”
Jimin
sangat mengerti maksud ucapan pria di depannya ini. Permintaan tolongnya sama
seperti 2 tahun yang lalu. Dengan raut wajah dan tatapan mata yang sama. Jimin
memang tahu apa mimpi Seulgi. Jikapun begitu, maka janjinya 2 tahun yang lalu
harus ia ingkari mulai dari detik ini. Entah itu akan membuat Seulgi
membencinya atau memang itu jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Jimin
menoleh ke arah jendela rumah lantai 3 kamar Seulgi.
“Baiklah.
Aku akan membantu Seulgi mewujudkan mimpi besarnya.” Kata Jimin.
**IF*
Pelayan
di rumah putih tersebut panik. Nona muda mereka sudah tidak terlihat hampir 22
jam. Laki-laki bermarga Cho tersebut akan menelfon pihak kepolisian jika dalam
waktu 24 jam nona muda mereka tidak ada kabar. Cho Kyuhyun panik. Ia bingung.
Saat ini ia harus ke rumah sakit karena masih dalam masa coass, atau mencari
Seulgi yang sudah tidak ada kabar selama 22 jam.
2
hari yang lalu Tuan Kang, Ayah Seulgi meninggal karena serangan jantung.
Semuanya merasa kehilangan sosok dokter terkenal di Korea. Dokter yang ramah
dan penuh dengan pengabdian kepada masyarakat. Sosok yang menjadi panutan bagi
Seulgi. Sosok itu telah pergi selamanya. Bagi Seulgi, kepergian ayahnya terlalu
cepat. 1 hari sebelum kepergian tuan Kang, Seulgi masih bercanda bersama
Ayahnya saat makan malam. Tapi saat makan malam selanjutnya, Ayahnya tiba-tiba
jatuh tersungkur karena serangan jantung.
Pelayan
di rumah putih tersebut masih melayani Seulgi untuk membawakan makanan di
kamarnya. Tetapi ketika makan malam, Seulgi tidak ada di kamarnya. Ia sudah
menghilang selama 22 jam. Tidak ada yang tahu dimana ia sekarang.
Jimin
terengah-engah. Ia secepat mungkin lari menuju rumah Seulgi. Pelayan
memberitahunya jika nona muda sudah menghilang selama 22 jam. Kyuhyun mendapati
Jimin dengan raut sangat khawatir.
“Hyeong,
kau yakin kau tidak tahu dimana Seulgi?” Tanya Jimin. Kyuhyun menggeleng
sebagai jawaban. Jimin mencoba mengatur nafasnya dan berpikir. Seulgi bukan
tipe gadis pergi ke tempat yang tidak ia kenal. Ia hanya sembunyi dari
orang-orang untuk menenangkan pikirannya. Jika begitu maka....
“Aku
sudah mendapat teguran dari rumah sakit untuk segera kembali. Tapi Seulgi belum
juga-“
“Aku
tahu dimana dia.” Potong Jimin.
“Apa?”
“Kau
kembali saja ke rumah sakit. Setelah aku menemukannya, aku akan menghubungimu.”
Kyuhyun
berpikir cepat. Ia sangat percaya dengan Jimin.
“Baiklah.
Aku pergi. Tolong temukan Seulgi, Jimin. Kumohon.” Tatapan mata Kyuhyun sangat
dalam.
“Tuan
muda Jimin, nona muda bahkan sebelumnya tidak makan seharian setelah hilang
selama 22 jam. Aku takut jika ada apa-apa dengan nona Seulgi.”
Dan
Jimin semakin khawatir. Ia segera lari ke suatu tempat. Instingnya mengatakan
jika Seulgi ada di tempat itu.
**IF*
Jimin
mengakui jika Seulgi memang masih kekanak-kanakan. Seulgi bahkan bercerita pada
Jimin jika ia memiliki ruang rahasia yang tidak ada yang tahu. Bahkan Ayah
maupun Kyuhyun. Untuk Jimin sendiri, pengecualian. Seulgi sudah bersusah payah
merahasiakan dari Jimin, tapi entah kenapa Jimin mampu membuat Seulgi untuk
memberitahunya dengan mudahnya. Tempat rahasia itu ada di bawah kolong kasur
kamar Seulgi.
Jimin
menghela nafas lega. Benar, Seulgi ada disana. Meringkuk menangis. Tidak ada
langkah kaki sebelumnya. Jikapun ada, maka Seulgi tahu siapa pemilik langkah
tersebut. Seulgi melirik. Wajahnya pucat berantakan. Anak rambut menempel di
wajahnya. Air mata membuat anak rambut tersebut menempel. Sudah berapa lama ia
menangis? 22 jam lebihkan? Jimin merasa bersalah. Setelah ikut melayat, Jimin
langsung pergi ke Busan kampung
halamannya karena ada urusan disana. Tidak berada di samping Seulgi. Gadis ini
malah seperti sekarang kondisinya.
“Seulgi.”
Panggil Jimin lirih. Kenapa rasanya sakit?
“Seulgi,
aku..” Jimin tidak bisa berkata apa-apa. Seulgi hanya diam sambil meliriknya
tajam. Ia masih sesenggukan. Satu air matanya menetes. Saat itulah Jimin
langsung merengkuhnya. Memprihatikan sekali sahabatnya ini. Tidak ada suara
yang keluar kecuali suara sesenggukan dari Seulgi. Semaki lama dan semakin erat
Jimin merengkuhnya. Memberinya kekuatan bahwa Seulgi tidaklah sendirian. Masih
ada dia. Jimin mengutuk dirinya sendiri.
“Jimin.”
Setelah kurang lebih 1,5 jam Seulgi bersua.
“Aku
takut.” Sambungnya. “Aku takut Jimin. Aku seperti berjalan sendirian.”Seulgi
menatap Jimin. “Aku ingin berada satu rumah sakit dengan Ayah suatu hari nanti.
Tapi kenapa dia pergi begitu cepat? Kenapa?” Jimin merengkuhnya lagi. Saat
seperti ini, Jimin tidak bisa menjawab pertanyaan Seulgi. Kenapa orang yang
kita sayangi harus pergi ketika kita membutuhkannya? Kenapa orang yang ingin
kita tunjukan suatu keberhasilan harus pergi sebelum keberhasilan itu terwujud.
Kenapa?
“Jika
seperti ini, maka mimpiku akan sia-sia. Tidak akan ada sosok Ayah yang akan
menyambutku ketika aku berhasil menjadi seorang dokter. Tidak akan.”
“Seulgi.”
Jimin merapikan anakan rambut yang berceceran di wajah Seulgi. Menghapus air
mata yang tersisa. “Kau bisa mewujudkan mimpimu meskipun tidak ada lagi sosok
Tuan Kang. Kau, harus ingat dengan ucapan Ayahmu. Alasan kenapa beliau ingin
menjadi seorang dokter.”
“Kau
tidak akan sendirian. Aku janji. Kita akan terus bersama. Kau tidak perlu takut
untuk berjalan sendirian. Ini janjiku sebagai anak laki-laki yang berproses
menjadi pria sejati. Kita akan lulus bersama dan masuk ke Universitas yang sama
pula! Semangat Kang Seulgi!!”
Seulgi
tidak membalas ucapan Jimin. Ia hanya tersenyum, menyandar di dada Jimin
kemudian menutup matanya. Mengulang kalimat Jimin sebagai suatu mantra di
pikirannya. Ia tidak akan berjalan sendirian karena Jimin akan selalu
bersamanya. Jimin sudah berjanji dan ia mempercayainya.
Jimin
mengeluarkan ponselnya. Mengetik sesuatu untuk Kyuhyun.
“Aku
sudah menemukannya. Kau tidak perlu khawatir.”
Terkirim.
*IF*
“Ini janjiku sebagai anak laki-laki yang
berproses menjadi pria sejati. Kita akan lulus bersama dan masuk ke Universitas
yang sama pula! Semangat Kang Seulgi!!”
Masih
6 bulan lebih menuju ujian kelulusan. Jimin teringat janjinya dan selembar
kertas yang ia genggam sekarang menjadi beban pikirannya. Langkah apa yang akan
ia ambil?
To
Be continue

Komentar
Posting Komentar