Langsung ke konten utama

Ruang A dan B



Halo
Aku ingin meminta pendapat kalian jika kalian sudah membaca tulisan ini?
Apakah aku yang aneh, atau memang hanya kepribadianku ganda. Sebenarnya memang ada tentang teori kepribadian ganda. Tapi yang ingin aku singgung disini bukan tentang kepribadian gender. Tapi mungkin lebih ke sifat.
Aku ambil contoh di diriku sendiri. Hari ini aku merasa sangat merindukan teman-temanku. Kami adalah teman dalam suatu kelompok, yang membuat kami dekat dan menjudge kami sebagai sahabat.
Tahu apa arti atau definisi sahabatkan?
Aku senang ketika akan ada acara kumpul. Aku hanya sebagai anggota yang mengatakan “iya ayo kita kumpul.” Tapi di lain sisi aku hanya iya-iya saja karena memang tidak ada saran yang ingin aku sampaikan. Aku menyetujui pendapat mereka. Saat itu aku antusias ingin bertemu mereka. Tapi ketika dihari H, aku merasa gugup.
Dan ketika kami bertemu, apa yang terjadi? Aku hanya diam dan tersenyum mendengarkan mereka. I just smile without speak another. Aku hanya menyaut jika itu berkaitan denganku atau memang ada pertanyaan yang tidak aku pahami. Maksudku, sesuatu yang aku tanyakan seperti “kenapa seperti itu?”
Yang aku lihat lainnya adalah, kenapa orang-orang ini selalu bisa bercerita dan selalu ada topik pembicaraan?
Aku disana hanya sebagai pendengar. Aku menganggap diriku seperti orang asing diantara mereka. Kenyataannya aku sudah mengenal mereka 5 tahun lebih sejak aku SMA. Akukah yang tidak bisa memahami diriku, atau aku yang belum terlalu bisa terbuka dengan mereka?

Posisi kedua adalah, aku memiliki teman bermain di awal perkuliahan. Total kami adalah 3 orang. Seiring dengan berjalannya waktu, aku dekat dengan mereka. segala rahasia kami share. Mungkin itulah yang membuat kami dekat.
Aku begitu cerewet ketika bertemu dengan mereka. Aku merasa risih sendiri ketika suasana diam tidak ada topik pembicaraan. Bahkan hal sepele seperti, “Aku tadi menemukan uang Rp 20.000 di kantong. Bahagia sekali.” Itupun aku ceritakan hingga bahan pembicaraan lain muncul lagi. Aku mengenal mereka sudah 3 tahun lebih.

Sahabatku SMA terdiri dari 5 cowok, dan 4 cewek plus aku menjadi 5 hingga total kami 10 orang. Ketika kami berkumpul, aku menjadi pemeran entah keberapa. Mungkin 10. Tetapi jika aku dengan teman kuliahku 2 orang (mereka cewek) aku bisa bercerita terbuka. Bahkan menceritakan 9 sahabatku itu. Tapi ketika aku dengan 9 orang, aku tidak bisa menceritakan 2 orang.
Apakah aku memiliki kepribadan aneh? Jujur, im feel fake person. Seolah-olah aku memiliki 2 muka padahal saat di posisi tersebut, sama sekali aku merasa natural. Tidak aku buat-buat. Apakah ada yang aneh dengan diriku?
Ataukah, ada perbedaan pergaulan antara sahabat di tempat kelahiranku dengan tempat perantauan menuntut ilmu?
Aku yang satu sebagai seorang pendiam dan aku yang satunya sebagai pengisi suasana.
Tapi catatan lainnya adalah, aku tidak bisa begitu akrab dengan teman kuliahku lainnya. Ada beberapa teman yang akrab denganku. Maksudnya adalah, aku bisa ngelucu dengan mereka, tapi ada juga teman yang aku hanya sekedar kenal dan berbicara membahas umum.
Sejauh ini, yang bisa kuputuskankan, adalah bahwa aku seorang pemalu. Aku hanya bisa terbuka dan apa adanya bahkan malu-maluin dengan orang yang dekat denganku.
Ada teori lain yang aku pikirkan. Entahlah, ini memang ada teorinya atau aku hanya mengarangnya sendiri.

Jadi, bayangkan jika kalian berada di sebuah ruangan A. Di ruangan A kalian sudah mengenal orang-orang yang ada di ruangan tersebut dan mereka sudah mengenal sifat kalian. Sifat yang mereka nilai ke kamu adalah sifat pendiam, pemalu dan kalem. Tiba-tiba, kalian diberi kesempatan untuk masuk keruangan kalian. Otomatis kamu pisah dengan orang-orang yang ada di ruangan A. Lalu kamu masuk ke ruangan B dengan orang-orang yang tidak kamu kenal. Bahkan mereka juga tidak mengenalmu baik sifat maupun lainnya. Dari sana kamu mulai inisiatif untuk mencari kenalan. Sikap yang kamu lakukan, menjadi tolak ukur orang-orang di ruangan B untuk menilaimu.
Maka akan ada perbedaan antara pendapat sifat ruangan A dan B tentangmu. Padahal kamu bersikap natural.

Itu adalah kiasannya. Dan teorinya adalah, apakah aku di ruangan B adalah aku yang sebenarnya? Aku yag sudah mengenal dunia luar selain ruangan A?
Ataukah aku yang takut dengan penilaian dari orang-orang ruangan A? Penilaian tentang “Dia sekarang begini ya?”, “Kamu ternyata begini ya?”
Akukah yang sebenarnya fake person? Akukah yang takut dengan penilaian orang lama terhadap diriku yang baru?

*******************************************

Ketika semuanya teraduk di pikiran, satu pelajaran yang aku dapat selama ini adalah, bahwa setiap orang akan bersikap berbeda dengan satu orang yang ditemui.
Akan jahat jika aku sendiri menganggap diriku sebagai fake person. Merendahkan diri sendiri itu jangan! Maka untuk menenangkannya, aku menganggap, bahwa aku cukup menjadi orang baik. Seorang teman yang kalian kenal. Entah mereka akan melihatku berbeda jika orang-orang A dan B bertemu denganku dalam satu waktu. Dan jika ada pertanyaan yang timbul di pikiran mereka dan
mengatakannya, maka aku hanya bisa menjawab “Aku tetaplah teman atau orang yang kau kenal. Sikapku akan berbeda dengan siapa aku berhadapan atau berinteraksi.”

-End-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...