Langsung ke konten utama

Sesakit Apapun Keadaan, Selalu Ada Hal Indah di Atasnya


   
Yang pernah kubaca adalah, bahwa Allah memberi kita cobaan dengan 2 cara yaitu cobaan kategori kesedihan dan kesenangan.
Kira-kira kita kembali 5 bulan yang lalu. Ketika keputusan kuambil dengan rasa yakin yang sebenarnya tidak mencapai 85%. Ibu selalu bertanya, “Apa kau yakin?” Mereka berdua juga bertanya, “Apa kau yakin?” Dan teman lainnya mengatakan, “Jika aku jadi kau, aku akan tidak akan melakukannya.”
Lalu, apakah aku yakin?
Apa yang membuatku yakin? Magnet apa yang meggerakkan hati ini?
“Aku akan berangkat, karena aku tidak salah.” Itulah kalimat yang saat itu menjadi kekuatan terbesar. Kalimat yang keluar dari seorang teman satunya. Aku hanya bermodalkan itu. Atau lebih tepatnya rasa nekad.
***
“Allah, aku menyesal.”
“Allah, aku ingin pulang.”
“Allah, aku ingin bertemu oangtuaku.”
“Allah, aku merindukan teman-temanku.”
“Allah, aku sedih. Aku tidak kuat.”
“Allah, why?”
***
Balkon, bintang, bulan, kabut, angin malam, derungan motor, dan segelas susu cokelat panas menjadi saksi ungkapan-ungkapan itu.
“Allah, inikah salah satu cobaan yang Kau berikan? Atau ini karma atas perbuatan yang kulakukan ketika aku menyakiti perasaan orang?”
 ***
Sesakit apapun keadaan, selalu ada hal indah di atasnya.
“Hai, namaku ....”
“Kalau sudah selesai berkegiatan, kita ke taman yuk.”
“Mau ikut ke pasar nggak ....?”
“Aku mau makan bubur...”
“Aku itu punya pacar...”
“Orang-orang menganggapku...”
***
Sesakit apapun keadaan, selalu ada hal indah di atasnya.
Allah, dia memang cerewet? Tapi entah kenapa, dia seperti hadiah yang Kau berikan untukku. Tapi aku suka cerewetnya untuk seorang yang tak banyak bicara ini.

Allah, terimaksih untuk hadiah langsung dan tidak langsung. Kau kirimkan seorang teman baru dan orang-orang yang menyayangiku di jauh sana.

Allah, thanks.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...