Langsung ke konten utama

Feel and logic



                Rose tersenyum. Gambar manganya hampir jadi untuk taget 20 halaman. Adam mengamatinya. Mengamati tiap detail manga yang digambar Rose. Tangan kanannya mengelus dagunya seperti akan mencari kesalahan yang dibuat Rose. Ada!
                “Ini?” Kata Adam.
                “Kenapa?”
                “Wanita ini pergi, kenapa pria ini tidak mengejarnya?”
                “Memangnya kenapa?”
                “Bahkan di kehidupan nyata, ketika pria membuat kesalahan si pria akan mengejar wanitanya.”
                “Sudah selesai membacanya?”
                “Iya.”
                “Aku hanya ingin membuat beberapa perubahan.”
                “Tentang?”
                “Pria tidak harus selalu mengejar wanita ketika mereka membuat kesalahan.”
                “Kemudian?”
                “Biarkan mereka, berpikir memakai ini. Ditambah ini.” Rose mengarahkan tangan kanan Adam ke kepala lalu ke dada bagian kiri. “Biarkan pria berpikir dengan logika mereka juga dengan perasaan mereka.”
                “Kebanyakan dari mereka menggunakan logika. Susah bagi kami jika harus menggunakan perasaan.”
                “Apa? Coba ulangi.”
                “Susah bagi kami-“
                “STOP!!” Kata Rose.
                Adam terlihat bingung.
                “Kau tahu, di luar sana ada beberapa wanita yang berusaha berpikir logika seperti kalian. Tidakkah kalian ingin mencoba seperti kami? Gunakan sedikit perasaan untuk menghadapi kami.”
                “Ini akan dilanjutkan di season 2 bukan?”
                “Heum.”
                “Aku akan menantinya dengan perasaan.”
                Mereka berdua tertawa bersama.
To be continue

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...