Title : Our Love Protect You
Author : Intan Novela
Cast : Hang Sangin, Lee Eunhyuk, and Other Cast
Genre : Sweet Romance
Rating : PG-17
Part
1
-Meet
You-
Story si~ jak!
Awan
putih memang tak terlihat banyak. Hanya segerombolan bintang yang tertabur rata
di atas langit. Sayangnya tak lengkap dengan bulan yang tertutupi oleh sebagian
awan. Karena sepertinya Tuhan membiarkan bulan tak tampil terlebih dahulu.
Walau pun demikian, masihlah nampak keindahan malam hari.
#BUKK
Suaranya
seperti benda jatuh. Tapi sepertinya tidak. Yang ada hanyalah seorang yeoja
dengan pakaian lusuhnya karena mendarat di tanah lapang yang cukup basah karena
embun malam. Ya, ini sudah hampir tengah malam di Seoul.
“Apayo,”
rintihnya.
Ia
mengusap lengan tangan atasnya yang terkena kotoran. Memang, ia memakai dress
dengan lengan yang terbuka. Apalagi dress yang di atas lutut 3 centi.
“Benar-benar
sakit,” ia mendongak ke atas. Lalu mendengus. “Awas saja,”
Mendadak
wajah cantiknya terkejut saat mendengar suara erangan seseorang. Erangan yang
lebih terdengar seperti suara ketakutan.
“tolong..
tolong aku,”
Han
Sangin. Nama yeoja tersebut. Saat ia menoleh ke belakang, Sangin melihat namja
yang tersungkur dengan wajah yang lebam dan penuh darah.
“Omo,”
kaget Sangin.
“PENCURI!!
JANGAN LARI KAU! PENCURI!”
Belum
selesai rasa terkejutnya, tiba-tiba suara teriakan terdengar oleh telinga
Sangin. Ia yakin jika yang teriak itu tidak hanya satu orang. Melainkan
rombongan. Apakah yang dimaksud pencuri itu namja ini?
Satu
detik, dua detik, tiga detik. Ash Sangin terlalu lama berpikir. Lagipula di
hatinya yang terdalam, ia merasa kasian dengan namja ini sekarang.
Rombongan
itu berhenti. Sepertinya ia kehilangan jejak orang yang mereka anggap pencuri
tersebut.
“Sial.
Dia berhasil kabur. Tapi setidaknya kita sudah memeberinya pelajaran,”
“Tapi
ini sangat aneh. Lapangan ini sangat luas. Tidak mungkin dengan keadaan yang
seperti itu dia bisa lari dengan cepat,”
“Masa
bodoh. Ayo kita pulang. Malam ini mungkin kita belum beruntung,”
Beberapa
rombongan tersebut akhirnya kembali dan meninggalkan lapangan yang kosong.
Hanya hembusan angin, rumput yang menari dan semak-semak.
“Syukurlah.
Setidaknya namja ini selamat,” Sangin melihat wajah namja yang sekarang
terbaring di pangkuannya sekarang. “Ya Tuhan, kasihan sekali dia,” Sangin
melihat banyak luka pukulan. Ia ingin menyentuhnya. Tapi takut jika salah-salah
itu malah membuat namja ini semakin kesakitan.
“Apa
yang harus kulakukan?” tanya Sangin pada dirinya sendiri.
“Uhuhkk
uhukk,”
“Agassi,
kau tidak apa-apa?” tanya Sangin.
“Yep-peo,”
“Mwo?
Kau bicara apa? Agassi kau baik-baik saja?” tanya Sangin lagi. Tapi malah
genggaman tangan yang Sangin dapatkan. Mata namja ini masih terpejam.
“Agassi,
aku harus membawamu kemana? Disini dingin. Dengan keadaan tubuhmu yang seperti
ini,“
“Bisakah
kau mengantarku pulang?” potong namja tersebut.
“Ouch?
Aku?” Sangin tampak berpikir. Mengantarnya pulang? Lagipula Sangin juga tidak
punya tujuan.
“Baiklah.
Kau bisa bangun?” Tanya Sangin.
“Bodoh,” jawab namja tersebut. “Jika
aku bisa bangun, aku tidak akan meminta bantuanmu,” Lanjutnya. Sangin
sebenarnya ingin menendang kaki namja ini. Tapi niatnya ia urungkan karena rasa
kasihan.
“Tuan, siapa namamu?” tanya Sangin
di sela-sela perjalanan mereka.
“Lee Eunhyuk.” jawab namja tersebut.
“O, lalu, Eunhyuk-ssi, kenapa mereka
mengejarmu?” tanya Sangin lagi.
“Bukan apa-apa. Kau tidak perlu
memikirkan itu. Dunia ini kejam. Kau tahu itukan?”
‘Dunia
ini kejam? Apa maksudnya?’ batin Sangin.
“Lalu nona, siapa namamu? Di lapangan
yang terdengar angker ini. Kenapa ada yeoja secantik kau disini? A~ apa kau
penunggu tempat ini?”
“Mwo? Ya! kau pikir aku hantu, huh?”
pekik Sangin. “Namaku Han Sangin.” Lanjutnya.
“Aigoo, apa kau ingin gendang
telingaku pecah, huh?”
‘Namja
ini. benar-benar tidak sopan.’ Sangin memilih untuk diam. Namja yang
bernama Lee Eunhyuk ini benar-benar tidak sopan dengan orang yang baru
dikenalnya.
“Ngomong-ngomong, kau tinggal
dimana?” tanya Eunhyuk.
“Eu, itu, aku,” Sangin tampak
gelagapan mendapat pertanyaan dari Eunhyuk. Ia sendiri bingung harus menjawab
apa.
“Waeyo?”
“Aniya,” Sangin menunduk.
Sejujurnya, pertanyaan Eunhyuk tadi membuatnya sedikit sedih.
“Sudah sampai.”
“Mwo?”
“Aku tinggal di rumah susun itu,”
tunjuk Eunhyuk.
Sangin melihat bangunan yang sedikit
tua menjulang tinggi. Kira-kira ada tujuh lantai.
“Tinggi sekali,” kagum Sangin.
“Ne. Dan sialnya lift rusak.”
“Untuk itu kau membutuhkan
bantuanku?”
“Yeah, bisa dikatakan seperti itu,”
“Ck. Menyebalkan,” cemberut Sangin.
Sangin meletakkan Eunhyuk hati-hati
di atas sofa. Membaringkannya dan melihatnya. Ia bingung harus bertindak
seperti apa.
‘Aku
harus apa?’ tanya Sangin pada hatinya sendiri. “Eunhyuk-ssi,” panggil
Sangin.
“Heum,” desah Eunhyuk yang menutup
matanya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Sangin.
“Ne. Terimakasih atas bantuanmu
Sangin-ssi. Kau boleh pulang. Maaf merepotkanmu.”
“Ne?”
Eunhyuk tidak mendengar langkah kaki
yang bergerak sedikit pun. Hanya keheningan. Ia lalu membuka matanya dan masih
mendapati Sangin yang berdiri sambil menunduk.
“Waeyo?” tanya Eunhyuk.
“Aku,” gantung Sangin. ‘Tidak apa-apakan? Ini tidak lancangkan?’
tanya Sangin pada dirinya sendiri lagi.
“Kau tidak punya tempat tinggal?”
“Ne? Ah, itu. Ne. Aku tidak punya
tempat tinggal,”
‘Aigoo,
tidak mungkin yeoja secantik ini adalah seorang tunawisma.’ batin Eunhyuk.
“Boleh aku tinggal disini? Aku janji
aku tidak akan merepotkanmu. Aku bisa memasak, mencuci, mengepel, menyapu
rumahmu ini. aku juga akan menyetrika pakaianmu. Anggap saja itu sebagai balas
jasamu,”
“Ne?”
“Kumohon Eunhyuk-ssi. Aku tidak
mengenal siapa-siapa disini. Hanya kau,” tatap Sangin yang memohon. Eunhyuk
tidak mendapati tatapan bohong.
‘Heum,
bagaimana aku mau menampungnya? Mengurusi diriku sendiri saja aku kewalahan.
Tapi,’ pikir Eunhyuk. “Baiklah,” putus Eunhyuk.
“Jinjja? Kau menginjinkanku?”
“Ne. Tapi kau bisa lihat sendirikan
tempat ini? Sempit dan berantakan,” jelas Eunhyuk.
Sangin
melihat keliling ruangan ini. Benar apa yang dikatakan Eunhyuk. Berantakan dan sempit.
Ruangan seluas 4x6 yang dibagi dengan kamar mandi, dapur, dan 1 kamar tidur ini
kelak akan ditinggali 2 orang. Tapi itu bukan masalah bagi Sangin.
“Tidak
apa-apa. Aku bisa tidur dimana saja,”
“Baiklah.
Aku akan tidur duluan. Rasanya tubuhku ini remuk,” Eunhyuk bangun dengan susah
payah. Tapi sepertinya ia selalu gagal.
“Biar
kubantu. Jangan sungkan untuk meminta bantuanku Eunhyuk-ssi,” lagi. Sangin
membantu Eunhyuk seperti tadi.
“Terimakasih,”
“Sama-sama.
Harusnya aku yang berterimakasih pasdamu. Nah, sekarang tidurlah. Selamat malam,”
“Selamat
malam Han Sangin,”
Our
Love Protect You
Apa arti dari sebuah perlindungan?
Apakah seseorang yang sedang memeluk kita dalam hati sedih sudah termaksud
dalam arti perlindungan? Setiap orang mempunyai pengartian yang berbeda-beda.
Hanya inti yang sama. Yakni melindungi sesuatu yang berharga. Entah itu barang,
atau perasaan.
Kamar Eunhyuk terletak di lantai
paling atas. Ia sengaja memilihnya karena harga yang murah. Sejujurnya Eunhyuk
bukanlah orang kaya. Bahkan ia bingung sendiri dengan status pekerjaannya yang
tidak tetap.
Harusnya pagi ini ia mencari uang
untuk sesuap nasi. Tapi tubuh yang tidak mendukungnya inilah yang
menghalanginya. Jika saja ia lupa bahwa sekarang ia tak inggal sendiri, Eunhyuk
akan tetap memanjakan matanya untuk tidur. Sayangnya Eunhyuk ingat hal itu.
“Ini gila. Semalam aku tidur dengan
yeoja cantik yang tinggal disini. Apa jadinya jika tubuhnya ini sehat?”
Eunhyuk mencoba bangun. Sedikit
membaik. Setidaknya ia bisa menahan tubuhnya sendiri walaupun masih berpegangan
dengan benda disekelilingnya.
“Eunhyuk-ssi. Apa kau sudah bangun?”
tanya Sangin dari luar.
“Ne,”
“Boleh aku masuk?”
“Masuklah,”
Eunhyuk heran saat Sangin yang masuk
dengan membawa baskom besar. Untuk apa?
“Harusnya aku mengobati lukamu
kemarin malam. Tapi aku bingung harus berbuat apa. Karena aku bukan,” hampir
saja sangin keceplosan. “Karena aku takut jika lancang. Kau tidak
keberatankan?”
“Aniya,” jawab Eunhyuk. Ia masih
merasa malas untuk bangun.
“Darahnya sudah mengering. Pasti
sulit. Katakan jika terlalu keras,”
“Heum,”
“Selesai ini, cepat mandi dan kita
sarapan bersama. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,”
“Kau,”
“Aku akan menepati ucapanku semalam.
Aku tidak akan tinggal secara gratis disini,”
“Terserah kau saja,”
“Tapi, aku masih memikirkan ucapanmu
semalam. Kau bilang, dunia ini kejam. Bukankah dunia itu indah?”
“Dunia kejam hanya untuk orang yang
tidak beruntung sepertiku. Tapi indah bagi orang yang beruntung.”
“Aku tidak tahu.”
“Sangin-ssi. Sebelum kau tinggal
dengaku. Dimana kau tinggal?” tanya Eunhyuk. Tapi Sangin hanya diam saja.
Entahlah. Apakah dia akan berbohong lagi? Sejujurnya ia membenci kebohongan.
Tapi ia malah harus berbohong.
“Aku mengelana. Dan hari dimana kita
bertemu, saat itulah aku merasa lelah. Sebenarnya aku akan mencari tempat
tinggal. Tapi aku tidak mempunyai sepeser uang sedikit pun,”
“Lagi-lagi uang,” gumam Eunhyuk
malas.
#THOK THOK THOk
“Sepertinya ada yang mengetuk pintu.
Biar aku yang membuka,” kata Sangin.
Eunhyuk menatap punggung Sangin yang
menghilang. Lagipula, siapa yang datang bertamu sepagi ini jika bukan…
“aisshh,” dengus Eunhyuk.
“Nuguseyo?” tanya Sangin.
“Nuguseyo? Harusnya aku yang
bertanya denganmu. Nuguseyo?”
“Han Sangin imnida. Bibi siapa?”
“Aku pegawai di rumah susun ini di bagian
administrasi. Dimana Eunhyuk? Dan siapa kau? Kenapa bisa tinggal bersamanya?”
“Ah, aku,”
“Bibi Kim. Kau datang?” sela Eunhyuk
cepat. Ia bahkan juga merangkuk pinggang Sangin mesra.
“Eunhyuk-ssi,” Sangin merasa risih
dengan tingkah aneh Eunhyuk ini.
“Mana janjimu Lee Eunhyuk. Kau sudah
telat 4 bulan. Dan ini sudah 2 minggu lebih,”
“Ah, aku akan membayarnya besok. Aku
lupa mengambil uangku di bank,”
“Cih! Bahkan aku tidak yakin kau
punya nomor rekening,”
“Ya! bibi Kim. Aku ini punya,”
“Lalu. Siapa yeoja ini? Kau ingat
dengan peraturan rumah susun lantai 7 ini bukan?”
“Tentu saja. Itu peraturan nomor 1
yang paling utama. Tidak boleh membawa yeoja untuk menginap jika tidak ada
ikatan,”
“Lalu, siapa yeoja ini?”
“bibi, aku lupa memberitahumu. Dia
istriku,”
“Mwo!” pekik Sangin terkejut. Istri
dia bilang.
“Istri? Kapan kau menikah?”
“Haisshh bibi. Aku menikah di
kampungku. Aku merahasiakan pernikahanku,”
“Tapi dia bilang dia Han Sangin.”
“Bibi benar. Namanya memang Han
Sangin. Kami baru menikah beberapa minggu. Mungkin dia belum terbiasa
memperkenalkan diri dengan marga Lee. Chagiya, perkenalkan dirimu dengan
sebutan Lee. Lee Sangin?” Eunhyuk semakin merapatkan jarak mereka.
“ck. Aku kasihan denganmu nona.
Kenapa kau mau menikah dengan namja penganggurann ini. Kau terlalu cantik
untuknya,”
“Ya! Bibi Kim. Apa kau berniat utuk
menghasutnya agar menceraikanku?”
“Aku tidak peduli. Tapi yang jelas,
besok kau harus menyiapkan uangnya. Kau tahu resikonya bukan?”
“ne bibi Kim. Terimakasih,” Eunhyuk
membungkuk. “Huuuhhh,” ia menghela nafas lega. Bahkan ia belum sadar akan
posisinya.
“Eunhyuk-ssi!! Kau bilang apa
tadi? Ya!! Aku ini bukan istrimu!!”
“Sssttt. Kita bicara di dalam. Aku
tidak ingin ada orang yang mendengarnya,”
“Tapi,”
“Ayo masuk.” potong Eunhyuk.
Sangin mendengus kesal. Berani-beraninya
ia mengatakan jika dirinya adalah istrinya. Lee sangin ia bilang? Huh!
Eunhyuk meneguk segelas air putih
untuk menjernihkan pikirannya. Ia sendiri bingung dari mana mendapatkan ide
seperti itu. Jika ia tak bohong, ia akan di tendang keluar dan menjadi
tunawisma. Ia tak mau lagi.
“Kau bisa menjelaskannya sekarang
Lee Eunhyuk,” Sangin melipat kedua tangannya di depan.
“Peraturan disini adalah. Tidak
boleh mengajak seorang yeoja untuk menginap jika tidak mempunyai ikatan. Bahkan
seorang kekasih pun dilarang. Jadi aku mengatakan jika kau adalah istriku.
Bukan berarti aku mengharapkannya. Hanya saja, aku memang benar-benar tidak
ingin di tendang. Kau sendiri juga tidak mempunyai tempat tinggal bukan? Jadi
jika bibi Kim datang, berpura-puralah untuk menjadi istriku. Jika ia tidak ada,
kita hanya akan bersikap layaknya teman. Itu mudah bukan?”
“Tapi itu sama saja berbohong,”
“Dengar Han Sangin. Hampir manusia
di seluruh dunia ini berbohong. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah,”
“Apakah kau juga akan membohongiku?”
tanya Sangin. Perlu beberapa detik untuk dapat dijawab Eunhyuk.
“Aku tidak tahu. Aku mau mandi,”
Sangin duduk di meja makan. apakah
keputusannya ini tepat? Kenapa sangat sulit? Ia menyesal. Sangat menyesal.
Menyesal dengan dirinya sendiri. Sangin menggerakkan tangannya ke belakang. Dan
mengusap punggung atasnya. Kemudian, satu titi air mata jatuh membasahi
pipinya.
Sementara Eunhyuk, ia tak
mengindahkan rasa perihnya air mengguyur wajahnya. Ini bukan apa-apa. Malah ia
pernah merasakan hal yang lebih berat dari ini. Kehidupannya tidak semulus
seperti orang kebanyakan. Ia gagal dalam semua hal. Bahkan cinta.
“Kau hanya makan itu?” tanya
Eunhyuk.
“Aku, tidak suka daging,” jawab
Sangin.
“o, kau vegetarian. Apa kau juga
frutarian?”
“Ne,”
“Heum, berarti aku bisa lebih hemat.
Kukira aku akan berpikir keras untuk menghidupimu,”
“aku berusaha untuk tidak merepotkanmu
Euhyuk-ssi,”
“Eunhyuk-ssi? Itu terlalu canggung.
Panggil aku oppa. Kukira aku lebih tua darimu. Jadikan itu kebiasaanmu. Jadi,
panggil aku oppa. Termasuk saat ada bibi Kim. Kau mengerti?”
“Ne. Eunhyuk oppa,”
“Pintar dan cantik.”
“Mwo?”
“Tidak. Heum, sepertinya ada yang
kurang,” pikir Eunhyuk. “Benar. Kita membutuhkan pakaian untukmu,”
“Aniya, aku tidak ingin
merepotkanmu. Bibi itu bilang, kau telat membayar 4 bulan. Bukankah,”
“Ck. Hanya sekedar untuk membeli
pakaian untukmu, itu tidak masalah. Setelah sarapan, kita pergi berbelanja,”
Eunhyuk mendapati raut wajah Sangin yang berarti jika ia merepotkannya. “Ssudah
kubilang tidak apa-apa. Anggap saja ini juga sebagai balasan karena kau sudah
menolongku dan merapikan ruangan ini. Atau, kau bisa menganggapnya sebagai
seorang kakak yang membelikan hadiah untuk adiknya,”
“Ne,”
Our
Love Protect You
Sangin telah mengganti pakainnya
dengan pakaian Eunhyuk yang kecil. Dress putih yang ia pakai pagi tadi sudah ia
lepas dan ia cuci sebelum pergi keluar. Eunhyuk menatap Sangin yang memakai
pakaiannya. Bukan tidak pantas. Tapi Sangin malah lebih terlihat cantik dengan
kaos kebesarannya dan hampir menutupi lututnya.
“Jja~ kita berangkat,” ajak Sangin.
“Aniya,” cegah Eunhyuk.
“Wae?”
“Ini terlalu terbuka. Lebih baik kau
memakai mantel ini saja. Lagipula diluar udara dingin,”
“Tapi jika aku pakai ini. Lalu kau?”
“Aish tidak apa-apa. Itu masalah
kecil. Pakai ini,” Eunhyuk membantu Sangin memakaikan mantelnya.
“Ini terlalu besar,” keluh Sangin.
“Hanya sementara. Setelah kita
membeli pakaian, kau tidak perlu memakai ini lagi,” Hibur Eunhyuk. “Jja~
sebaiknya kita cepat karena aku masih banyak urusan,”
Eunhyuk sengaja menggandeng tangan
Sangin agar bibi Kim tidak curiga. Lagipula, mempunyai istri secantik Sangin
siapa yang tidak mau? Walaupun itu hanya pura-pura.
‘Mwo?
Aish, apa yang kau pikirkan Lee Eunhyuk,’
“Oppa. Kau sedang memikirkan apa?”
“Mwo? Oppa? Ah benar,” Eunhyuk baru
ingat jika ia sendiri yang menyuruh Sangin untuk memanggil dirinya oppa. Toh
Eunhyuk memang lebih tua dari Sangin. “Tidak memikirkan apa-apa,”
“Heum begitu rupanya,”
“Jangan berpikir terlalu keras.
Mulai sekarang, kau jangan bersikap canggung denganku,”
“Baik. Tapi ada yang ingin
kutanyakan padamu oppa,”
“Ne? Apa itu?”
“Apa kau mencuri? Waktu tengah malam
di lapangan itu, orang-orang meneriakimu pencuri. Kau..”
“Bukan. Aku tidak mencuri. Sekalipun
aku berbohong, aku tidak akan mencuri. Mereka sama-sama susahnya mendapatkan
sesuatu yang mereka inginkan dan dengan instannya kita mencurinya.” potong
Euhyuk. “Itu sama saja kita seperti samaph,” lanjutnya.
“Jadi?”
“Hanya korban,”
“Korban?”
“Kau terlalu banyak tanya. Apa kau
benar-benar ingin menjadi istriku, huh?”
“Mwo? Aniya,“ tolak Sangin cepat.
“Hahaha~”
Sangin melihat Eunhyuk yang tertawa
lepas. Baru kali ini ia melihat senyum selebar itu. Maksudnya, Eunhyuk terlihat
seperti tidak punya beban. Sekalipun wajahnya ada bekas memar, tapi tidak
memungkiri bagi Sangin bahwa Eunhyuk memang tampan.
‘Dunia
ini, tidak seburuk yang kau kira oppa. Jika kau percaya, aku akan membuatmu
bahagia,’ batin Sangin.
Mereka sibuk dengan pemandangan
masing-masing. Melihat keliling lingkungan yang bagi Sangin sangat baru tapi
tidak untuk Eunhyuk. Jalan-jalan pagi seperti ini sangat menyenangkan. Walaupun
terkadang Sangin mendapati tatapan aneh dari orang-orang. Ia yakin jika
orang-orang itu sedang mengomentari dirinya yang aneh karena mantel Eunhyuk
yang ia kenakan kebesaran.
Sangin merasakan genggaman Eunhyuk
mengerat. Ia yakin jika Eunhyuk hanya memberinya semangat. Tidak apa-apa.
Mungkin itulah maksud dari genggaman dari tangan ini.
“Jika kau terlalu memperhatikan
orang-orang yang menatapmu aneh, kau tidak akan maju Han Sangin.” kata Eunhyuk
yang fokus ke depan. “Uruslah urusanmu masing-masing. Toh jika kau terlalu
memperhatikan, mereka juga tak akan memberimu apa-apa. Hanya tatapan yang
mungkin akan membuatmu berkecil hati,” kali ini Eunhyuk menatap lawan
bicaranya.
‘Kenapa kau bicara seperti itu oppa.
Seakan-akan, kau tidak percaya dengan orang lain. Mungkin, kau juga tidak akan
percaya denganku yang baru beberapa hari kau kenal,’
“LEE EUNHYUK!!!”
Sangin dan Eunhyuk menoleh ke
belakang. Sangin hanya mengernyitkan dahinya. Kemudian menoleh ke arah Eunhyuk
apakah dia mengenal orang itu.
“Oppa,” desah Sangin. Raut wajah
Eunhyuk tegang dan pucat. Sangin juga merasa genggaman Eunhyuk menjadi dingin.
Ada apa?
“Oppa,”
TBC
Komentar
Posting Komentar