Langsung ke konten utama

Our Love Protect You part 1



Title     : Our Love Protect You
Author : Intan Novela
Cast     : Hang Sangin, Lee Eunhyuk, and Other Cast
Genre  : Sweet Romance
Rating : PG-17

Part 1
-Meet You-

Story si~ jak!


Awan putih memang tak terlihat banyak. Hanya segerombolan bintang yang tertabur rata di atas langit. Sayangnya tak lengkap dengan bulan yang tertutupi oleh sebagian awan. Karena sepertinya Tuhan membiarkan bulan tak tampil terlebih dahulu. Walau pun demikian, masihlah nampak keindahan malam hari.

#BUKK

Suaranya seperti benda jatuh. Tapi sepertinya tidak. Yang ada hanyalah seorang yeoja dengan pakaian lusuhnya karena mendarat di tanah lapang yang cukup basah karena embun malam. Ya, ini sudah hampir tengah malam di Seoul.
“Apayo,” rintihnya.
Ia mengusap lengan tangan atasnya yang terkena kotoran. Memang, ia memakai dress dengan lengan yang terbuka. Apalagi dress yang di atas lutut 3 centi.
“Benar-benar sakit,” ia mendongak ke atas. Lalu mendengus. “Awas saja,”
Mendadak wajah cantiknya terkejut saat mendengar suara erangan seseorang. Erangan yang lebih terdengar seperti suara ketakutan.
“tolong.. tolong aku,”
Han Sangin. Nama yeoja tersebut. Saat ia menoleh ke belakang, Sangin melihat namja yang tersungkur dengan wajah yang lebam dan penuh darah.
“Omo,” kaget Sangin.
“PENCURI!! JANGAN LARI KAU! PENCURI!”
Belum selesai rasa terkejutnya, tiba-tiba suara teriakan terdengar oleh telinga Sangin. Ia yakin jika yang teriak itu tidak hanya satu orang. Melainkan rombongan. Apakah yang dimaksud pencuri itu namja ini?
Satu detik, dua detik, tiga detik. Ash Sangin terlalu lama berpikir. Lagipula di hatinya yang terdalam, ia merasa kasian dengan namja ini sekarang.

Rombongan itu berhenti. Sepertinya ia kehilangan jejak orang yang mereka anggap pencuri tersebut.
“Sial. Dia berhasil kabur. Tapi setidaknya kita sudah memeberinya pelajaran,”
“Tapi ini sangat aneh. Lapangan ini sangat luas. Tidak mungkin dengan keadaan yang seperti itu dia bisa lari dengan cepat,”
“Masa bodoh. Ayo kita pulang. Malam ini mungkin kita belum beruntung,”
Beberapa rombongan tersebut akhirnya kembali dan meninggalkan lapangan yang kosong. Hanya hembusan angin, rumput yang menari dan semak-semak.
“Syukurlah. Setidaknya namja ini selamat,” Sangin melihat wajah namja yang sekarang terbaring di pangkuannya sekarang. “Ya Tuhan, kasihan sekali dia,” Sangin melihat banyak luka pukulan. Ia ingin menyentuhnya. Tapi takut jika salah-salah itu malah membuat namja ini semakin kesakitan.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Sangin pada dirinya sendiri.
“Uhuhkk uhukk,”
“Agassi, kau tidak apa-apa?” tanya Sangin.
“Yep-peo,”
“Mwo? Kau bicara apa? Agassi kau baik-baik saja?” tanya Sangin lagi. Tapi malah genggaman tangan yang Sangin dapatkan. Mata namja ini masih terpejam.
“Agassi, aku harus membawamu kemana? Disini dingin. Dengan keadaan tubuhmu yang seperti ini,“
“Bisakah kau mengantarku pulang?” potong namja tersebut.
“Ouch? Aku?” Sangin tampak berpikir. Mengantarnya pulang? Lagipula Sangin juga tidak punya tujuan.
“Baiklah. Kau bisa bangun?” Tanya Sangin.
            “Bodoh,” jawab namja tersebut. “Jika aku bisa bangun, aku tidak akan meminta bantuanmu,” Lanjutnya. Sangin sebenarnya ingin menendang kaki namja ini. Tapi niatnya ia urungkan karena rasa kasihan.
            “Tuan, siapa namamu?” tanya Sangin di sela-sela perjalanan mereka.
            “Lee Eunhyuk.” jawab namja tersebut.
            “O, lalu, Eunhyuk-ssi, kenapa mereka mengejarmu?” tanya Sangin lagi.
            “Bukan apa-apa. Kau tidak perlu memikirkan itu. Dunia ini kejam. Kau tahu itukan?”
            ‘Dunia ini kejam? Apa maksudnya?’ batin Sangin.
            “Lalu nona, siapa namamu? Di lapangan yang terdengar angker ini. Kenapa ada yeoja secantik kau disini? A~ apa kau penunggu tempat ini?”
            “Mwo? Ya! kau pikir aku hantu, huh?” pekik Sangin. “Namaku Han Sangin.” Lanjutnya.
            “Aigoo, apa kau ingin gendang telingaku pecah, huh?”
            ‘Namja ini. benar-benar tidak sopan.’ Sangin memilih untuk diam. Namja yang bernama Lee Eunhyuk ini benar-benar tidak sopan dengan orang yang baru dikenalnya.
            “Ngomong-ngomong, kau tinggal dimana?” tanya Eunhyuk.
            “Eu, itu, aku,” Sangin tampak gelagapan mendapat pertanyaan dari Eunhyuk. Ia sendiri bingung harus menjawab apa.
            “Waeyo?”
            “Aniya,” Sangin menunduk. Sejujurnya, pertanyaan Eunhyuk tadi membuatnya sedikit sedih.
            “Sudah sampai.”
            “Mwo?”
            “Aku tinggal di rumah susun itu,” tunjuk Eunhyuk.
            Sangin melihat bangunan yang sedikit tua menjulang tinggi. Kira-kira ada tujuh lantai.
            “Tinggi sekali,” kagum Sangin.
            “Ne. Dan sialnya lift rusak.”
            “Untuk itu kau membutuhkan bantuanku?”
            “Yeah, bisa dikatakan seperti itu,”
            “Ck. Menyebalkan,” cemberut Sangin.

            Sangin meletakkan Eunhyuk hati-hati di atas sofa. Membaringkannya dan melihatnya. Ia bingung harus bertindak seperti apa.
            ‘Aku harus apa?’ tanya Sangin pada hatinya sendiri. “Eunhyuk-ssi,” panggil Sangin.
            “Heum,” desah Eunhyuk yang menutup matanya.
            “Kau tidak apa-apa?” tanya Sangin.
            “Ne. Terimakasih atas bantuanmu Sangin-ssi. Kau boleh pulang. Maaf merepotkanmu.”
            “Ne?”
            Eunhyuk tidak mendengar langkah kaki yang bergerak sedikit pun. Hanya keheningan. Ia lalu membuka matanya dan masih mendapati Sangin yang berdiri sambil menunduk.
            “Waeyo?” tanya Eunhyuk.
            “Aku,” gantung Sangin. ‘Tidak apa-apakan? Ini tidak lancangkan?’ tanya Sangin pada dirinya sendiri lagi.
            “Kau tidak punya tempat tinggal?”
            “Ne? Ah, itu. Ne. Aku tidak punya tempat tinggal,”
            ‘Aigoo, tidak mungkin yeoja secantik ini adalah seorang tunawisma.’ batin Eunhyuk.
            “Boleh aku tinggal disini? Aku janji aku tidak akan merepotkanmu. Aku bisa memasak, mencuci, mengepel, menyapu rumahmu ini. aku juga akan menyetrika pakaianmu. Anggap saja itu sebagai balas jasamu,”
            “Ne?”
            “Kumohon Eunhyuk-ssi. Aku tidak mengenal siapa-siapa disini. Hanya kau,” tatap Sangin yang memohon. Eunhyuk tidak mendapati tatapan bohong.
            ‘Heum, bagaimana aku mau menampungnya? Mengurusi diriku sendiri saja aku kewalahan. Tapi,’ pikir Eunhyuk. “Baiklah,” putus Eunhyuk.
            “Jinjja? Kau menginjinkanku?”
            “Ne. Tapi kau bisa lihat sendirikan tempat ini? Sempit dan berantakan,” jelas Eunhyuk.
Sangin melihat keliling ruangan ini. Benar apa yang dikatakan Eunhyuk. Berantakan dan sempit. Ruangan seluas 4x6 yang dibagi dengan kamar mandi, dapur, dan 1 kamar tidur ini kelak akan ditinggali 2 orang. Tapi itu bukan masalah bagi Sangin.
“Tidak apa-apa. Aku bisa tidur dimana saja,”
“Baiklah. Aku akan tidur duluan. Rasanya tubuhku ini remuk,” Eunhyuk bangun dengan susah payah. Tapi sepertinya ia selalu gagal.
“Biar kubantu. Jangan sungkan untuk meminta bantuanku Eunhyuk-ssi,” lagi. Sangin membantu Eunhyuk seperti tadi.
“Terimakasih,”
“Sama-sama. Harusnya aku yang berterimakasih pasdamu. Nah, sekarang tidurlah. Selamat malam,”
“Selamat malam Han Sangin,”

Our Love Protect You

            Apa arti dari sebuah perlindungan? Apakah seseorang yang sedang memeluk kita dalam hati sedih sudah termaksud dalam arti perlindungan? Setiap orang mempunyai pengartian yang berbeda-beda. Hanya inti yang sama. Yakni melindungi sesuatu yang berharga. Entah itu barang, atau perasaan.
            Kamar Eunhyuk terletak di lantai paling atas. Ia sengaja memilihnya karena harga yang murah. Sejujurnya Eunhyuk bukanlah orang kaya. Bahkan ia bingung sendiri dengan status pekerjaannya yang tidak tetap.
            Harusnya pagi ini ia mencari uang untuk sesuap nasi. Tapi tubuh yang tidak mendukungnya inilah yang menghalanginya. Jika saja ia lupa bahwa sekarang ia tak inggal sendiri, Eunhyuk akan tetap memanjakan matanya untuk tidur. Sayangnya Eunhyuk ingat hal itu.
            “Ini gila. Semalam aku tidur dengan yeoja cantik yang tinggal disini. Apa jadinya jika tubuhnya ini sehat?”
            Eunhyuk mencoba bangun. Sedikit membaik. Setidaknya ia bisa menahan tubuhnya sendiri walaupun masih berpegangan dengan benda disekelilingnya.
            “Eunhyuk-ssi. Apa kau sudah bangun?” tanya Sangin dari luar.
            “Ne,”
            “Boleh aku masuk?”
            “Masuklah,”
            Eunhyuk heran saat Sangin yang masuk dengan membawa baskom besar. Untuk apa?
            “Harusnya aku mengobati lukamu kemarin malam. Tapi aku bingung harus berbuat apa. Karena aku bukan,” hampir saja sangin keceplosan. “Karena aku takut jika lancang. Kau tidak keberatankan?”
            “Aniya,” jawab Eunhyuk. Ia masih merasa malas untuk bangun.
            “Darahnya sudah mengering. Pasti sulit. Katakan jika terlalu keras,”
            “Heum,”
            “Selesai ini, cepat mandi dan kita sarapan bersama. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,”
            “Kau,”
            “Aku akan menepati ucapanku semalam. Aku tidak akan tinggal secara gratis disini,”
            “Terserah kau saja,”
            “Tapi, aku masih memikirkan ucapanmu semalam. Kau bilang, dunia ini kejam. Bukankah dunia itu indah?”
            “Dunia kejam hanya untuk orang yang tidak beruntung sepertiku. Tapi indah bagi orang yang beruntung.”
            “Aku tidak tahu.”
            “Sangin-ssi. Sebelum kau tinggal dengaku. Dimana kau tinggal?” tanya Eunhyuk. Tapi Sangin hanya diam saja. Entahlah. Apakah dia akan berbohong lagi? Sejujurnya ia membenci kebohongan. Tapi ia malah harus berbohong.
            “Aku mengelana. Dan hari dimana kita bertemu, saat itulah aku merasa lelah. Sebenarnya aku akan mencari tempat tinggal. Tapi aku tidak mempunyai sepeser uang sedikit pun,”
            “Lagi-lagi uang,” gumam Eunhyuk malas.

#THOK THOK THOk
           
            “Sepertinya ada yang mengetuk pintu. Biar aku yang membuka,” kata Sangin.
            Eunhyuk menatap punggung Sangin yang menghilang. Lagipula, siapa yang datang bertamu sepagi ini jika bukan…
            “aisshh,” dengus Eunhyuk.


            “Nuguseyo?” tanya Sangin.
            “Nuguseyo? Harusnya aku yang bertanya denganmu. Nuguseyo?”
            “Han Sangin imnida. Bibi siapa?”
            “Aku pegawai di rumah susun ini di bagian administrasi. Dimana Eunhyuk? Dan siapa kau? Kenapa bisa tinggal bersamanya?”
            “Ah, aku,”
            “Bibi Kim. Kau datang?” sela Eunhyuk cepat. Ia bahkan juga merangkuk pinggang Sangin mesra.
            “Eunhyuk-ssi,” Sangin merasa risih dengan tingkah aneh Eunhyuk ini.
            “Mana janjimu Lee Eunhyuk. Kau sudah telat 4 bulan. Dan ini sudah 2 minggu lebih,”
            “Ah, aku akan membayarnya besok. Aku lupa mengambil uangku di bank,”
            “Cih! Bahkan aku tidak yakin kau punya nomor rekening,”
            “Ya! bibi Kim. Aku ini punya,”
            “Lalu. Siapa yeoja ini? Kau ingat dengan peraturan rumah susun lantai 7 ini bukan?”
            “Tentu saja. Itu peraturan nomor 1 yang paling utama. Tidak boleh membawa yeoja untuk menginap jika tidak ada ikatan,”
            “Lalu, siapa yeoja ini?”
            “bibi, aku lupa memberitahumu. Dia istriku,”
            “Mwo!” pekik Sangin terkejut. Istri dia bilang.
            “Istri? Kapan kau menikah?”
            “Haisshh bibi. Aku menikah di kampungku. Aku merahasiakan pernikahanku,”
            “Tapi dia bilang dia Han Sangin.”
            “Bibi benar. Namanya memang Han Sangin. Kami baru menikah beberapa minggu. Mungkin dia belum terbiasa memperkenalkan diri dengan marga Lee. Chagiya, perkenalkan dirimu dengan sebutan Lee. Lee Sangin?” Eunhyuk semakin merapatkan jarak mereka.
            “ck. Aku kasihan denganmu nona. Kenapa kau mau menikah dengan namja penganggurann ini. Kau terlalu cantik untuknya,”
            “Ya! Bibi Kim. Apa kau berniat utuk menghasutnya agar menceraikanku?”
            “Aku tidak peduli. Tapi yang jelas, besok kau harus menyiapkan uangnya. Kau tahu resikonya bukan?”
            “ne bibi Kim. Terimakasih,” Eunhyuk membungkuk. “Huuuhhh,” ia menghela nafas lega. Bahkan ia belum sadar akan posisinya.
            “Eunhyuk-ssi!! Kau bilang apa tadi?  Ya!! Aku ini bukan istrimu!!”
            “Sssttt. Kita bicara di dalam. Aku tidak ingin ada orang yang mendengarnya,”
            “Tapi,”
            “Ayo masuk.” potong Eunhyuk.
            Sangin mendengus kesal. Berani-beraninya ia mengatakan jika dirinya adalah istrinya. Lee sangin ia bilang? Huh!
            Eunhyuk meneguk segelas air putih untuk menjernihkan pikirannya. Ia sendiri bingung dari mana mendapatkan ide seperti itu. Jika ia tak bohong, ia akan di tendang keluar dan menjadi tunawisma. Ia tak mau lagi.
            “Kau bisa menjelaskannya sekarang Lee Eunhyuk,” Sangin melipat kedua tangannya di depan.
            “Peraturan disini adalah. Tidak boleh mengajak seorang yeoja untuk menginap jika tidak mempunyai ikatan. Bahkan seorang kekasih pun dilarang. Jadi aku mengatakan jika kau adalah istriku. Bukan berarti aku mengharapkannya. Hanya saja, aku memang benar-benar tidak ingin di tendang. Kau sendiri juga tidak mempunyai tempat tinggal bukan? Jadi jika bibi Kim datang, berpura-puralah untuk menjadi istriku. Jika ia tidak ada, kita hanya akan bersikap layaknya teman. Itu mudah bukan?”
            “Tapi itu sama saja berbohong,”
            “Dengar Han Sangin. Hampir manusia di seluruh dunia ini berbohong. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah,”
            “Apakah kau juga akan membohongiku?” tanya Sangin. Perlu beberapa detik untuk dapat dijawab Eunhyuk.
            “Aku tidak tahu. Aku mau mandi,”
            Sangin duduk di meja makan. apakah keputusannya ini tepat? Kenapa sangat sulit? Ia menyesal. Sangat menyesal. Menyesal dengan dirinya sendiri. Sangin menggerakkan tangannya ke belakang. Dan mengusap punggung atasnya. Kemudian, satu titi air mata jatuh membasahi pipinya.
            Sementara Eunhyuk, ia tak mengindahkan rasa perihnya air mengguyur wajahnya. Ini bukan apa-apa. Malah ia pernah merasakan hal yang lebih berat dari ini. Kehidupannya tidak semulus seperti orang kebanyakan. Ia gagal dalam semua hal. Bahkan cinta.


            “Kau hanya makan itu?” tanya Eunhyuk.
            “Aku, tidak suka daging,” jawab Sangin.
            “o, kau vegetarian. Apa kau juga frutarian?”
            “Ne,”
            “Heum, berarti aku bisa lebih hemat. Kukira aku akan berpikir keras untuk menghidupimu,”
            “aku berusaha untuk tidak merepotkanmu Euhyuk-ssi,”
            “Eunhyuk-ssi? Itu terlalu canggung. Panggil aku oppa. Kukira aku lebih tua darimu. Jadikan itu kebiasaanmu. Jadi, panggil aku oppa. Termasuk saat ada bibi Kim. Kau mengerti?”
            “Ne. Eunhyuk oppa,”
            “Pintar dan cantik.”
            “Mwo?”
            “Tidak. Heum, sepertinya ada yang kurang,” pikir Eunhyuk. “Benar. Kita membutuhkan pakaian untukmu,”
            “Aniya, aku tidak ingin merepotkanmu. Bibi itu bilang, kau telat membayar 4 bulan. Bukankah,”
            “Ck. Hanya sekedar untuk membeli pakaian untukmu, itu tidak masalah. Setelah sarapan, kita pergi berbelanja,” Eunhyuk mendapati raut wajah Sangin yang berarti jika ia merepotkannya. “Ssudah kubilang tidak apa-apa. Anggap saja ini juga sebagai balasan karena kau sudah menolongku dan merapikan ruangan ini. Atau, kau bisa menganggapnya sebagai seorang kakak yang membelikan hadiah untuk adiknya,”
            “Ne,”

Our Love Protect You

            Sangin telah mengganti pakainnya dengan pakaian Eunhyuk yang kecil. Dress putih yang ia pakai pagi tadi sudah ia lepas dan ia cuci sebelum pergi keluar. Eunhyuk menatap Sangin yang memakai pakaiannya. Bukan tidak pantas. Tapi Sangin malah lebih terlihat cantik dengan kaos kebesarannya dan hampir menutupi lututnya.
            “Jja~ kita berangkat,” ajak Sangin.
            “Aniya,” cegah Eunhyuk.
            “Wae?”
            “Ini terlalu terbuka. Lebih baik kau memakai mantel ini saja. Lagipula diluar udara dingin,”
            “Tapi jika aku pakai ini. Lalu kau?”
            “Aish tidak apa-apa. Itu masalah kecil. Pakai ini,” Eunhyuk membantu Sangin memakaikan mantelnya.
            “Ini terlalu besar,” keluh Sangin.
            “Hanya sementara. Setelah kita membeli pakaian, kau tidak perlu memakai ini lagi,” Hibur Eunhyuk. “Jja~ sebaiknya kita cepat karena aku masih banyak urusan,”


            Eunhyuk sengaja menggandeng tangan Sangin agar bibi Kim tidak curiga. Lagipula, mempunyai istri secantik Sangin siapa yang tidak mau? Walaupun itu hanya pura-pura.
            ‘Mwo? Aish, apa yang kau pikirkan Lee Eunhyuk,’
            “Oppa. Kau sedang memikirkan apa?”
            “Mwo? Oppa? Ah benar,” Eunhyuk baru ingat jika ia sendiri yang menyuruh Sangin untuk memanggil dirinya oppa. Toh Eunhyuk memang lebih tua dari Sangin. “Tidak memikirkan apa-apa,”
            “Heum begitu rupanya,”
            “Jangan berpikir terlalu keras. Mulai sekarang, kau jangan bersikap canggung denganku,”
            “Baik. Tapi ada yang ingin kutanyakan padamu oppa,”
            “Ne? Apa itu?”
            “Apa kau mencuri? Waktu tengah malam di lapangan itu, orang-orang meneriakimu pencuri. Kau..”
            “Bukan. Aku tidak mencuri. Sekalipun aku berbohong, aku tidak akan mencuri. Mereka sama-sama susahnya mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan dan dengan instannya kita mencurinya.” potong Euhyuk. “Itu sama saja kita seperti samaph,” lanjutnya.
            “Jadi?”
            “Hanya korban,”
            “Korban?”
            “Kau terlalu banyak tanya. Apa kau benar-benar ingin menjadi istriku, huh?”
            “Mwo? Aniya,“ tolak Sangin cepat.
            “Hahaha~”
            Sangin melihat Eunhyuk yang tertawa lepas. Baru kali ini ia melihat senyum selebar itu. Maksudnya, Eunhyuk terlihat seperti tidak punya beban. Sekalipun wajahnya ada bekas memar, tapi tidak memungkiri bagi Sangin bahwa Eunhyuk memang tampan.
            ‘Dunia ini, tidak seburuk yang kau kira oppa. Jika kau percaya, aku akan membuatmu bahagia,’ batin Sangin.
            Mereka sibuk dengan pemandangan masing-masing. Melihat keliling lingkungan yang bagi Sangin sangat baru tapi tidak untuk Eunhyuk. Jalan-jalan pagi seperti ini sangat menyenangkan. Walaupun terkadang Sangin mendapati tatapan aneh dari orang-orang. Ia yakin jika orang-orang itu sedang mengomentari dirinya yang aneh karena mantel Eunhyuk yang ia kenakan kebesaran.
            Sangin merasakan genggaman Eunhyuk mengerat. Ia yakin jika Eunhyuk hanya memberinya semangat. Tidak apa-apa. Mungkin itulah maksud dari genggaman dari tangan ini.
            “Jika kau terlalu memperhatikan orang-orang yang menatapmu aneh, kau tidak akan maju Han Sangin.” kata Eunhyuk yang fokus ke depan. “Uruslah urusanmu masing-masing. Toh jika kau terlalu memperhatikan, mereka juga tak akan memberimu apa-apa. Hanya tatapan yang mungkin akan membuatmu berkecil hati,” kali ini Eunhyuk menatap lawan bicaranya.
            ‘Kenapa kau bicara seperti itu oppa. Seakan-akan, kau tidak percaya dengan orang lain. Mungkin, kau juga tidak akan percaya denganku yang baru beberapa hari kau kenal,’
            “LEE EUNHYUK!!!”
            Sangin dan Eunhyuk menoleh ke belakang. Sangin hanya mengernyitkan dahinya. Kemudian menoleh ke arah Eunhyuk apakah dia mengenal orang itu.
            “Oppa,” desah Sangin. Raut wajah Eunhyuk tegang dan pucat. Sangin juga merasa genggaman Eunhyuk menjadi dingin. Ada apa?
            “Oppa,”


TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...