Langsung ke konten utama

Our Life [oneshoot]



Title     : Our Life
Author : Intan Novela
Cast     : Kim Kibum, Kim Moonra, and Other Cast
Genre  : Married Life, Sweet Romance
Rating : PG- 17

Present to : KIM KIBUM
We are always waiting for you. ^^ Our Cindy, how are you?

Story si~ jak!


Seoul – 13.35 KST                        

            Sederet orang-orang melihat tingkah pria dengan kacamat yang bertengker di wajahnya. Langkahnya yan cepat, atau lebih seperti lari membuat rambut yang cukup lebat tersebut ikut menari-nari dengan udara. Keringat dingin mengalir tipis di pelipisnya. Tapi itu bukanlah masalah. Mengingat ia rela meninggalkan meeting yang akan di mulai setengah jam lagi, tapi pria itu dengan cepat mengambil kunci dan menyuruh sekertarisnya untuk menundanya terlebih dahulu. Jangan tanya bagaimana ia saat mengemudi. Bahkan ia bersumpah serapah dengan keadaan jalan yang tidak mendukungnya. Dan ia paling benci dengan yang namanya lampu merah jika keadaan tak mendukungnya.
            Pria itu terengah-engah. Ia berhenti di pertigaan. Lorong mana yang ia ambil. Pikirannya sudah sangat kacau. Ketika ia menoleh ke lorong kanan, barulah ia yakin jika ini jalannya.
            “Kibum,” desah wanita tua dengan pakaian yang anggun saat sang anak datang.
            “Umma, bagaimana? Bagaimana keadaan Moonra?” tanya Kibum dengan nafas yang masih terengah-engah.
            “Ia tidak ingin diganggu. Bahkan kami sudah berbicara baik-baik. Tapi ia malah berteriak,”
            Kibum menghela nafas. Ia melihat lantai rumah sakit yang putih nan dingin. Kemudian mendongak menatap pintu pasien yang bernomorkan 36B. menatapnya lekat. Istrinya ada di dalam. Sendiri dengan perasaan yang mungkin lebih kacau darinya.
            “Aku akan masuk,”
            “Dia ingin sendiri Kibum,” ingat umma-nya.
            “Tapi aku suaminya, umma,”
            Ya, ia memang suaminya. Mau tak mau Moonra harus menerima kehadiran Kibum. Walaupun ia ingin sendiri.
            Kibum menutup pintu pelan. Matanya menangkap sosok wanita yang sangat ia cintai dengan tidur memunggunginya. Rambut hitam lurus teruai berantakan. Sungguh tidak seperti hari-hari biasanya.
            Lagi. Kibum hanya menghela nafas pelan. Ia bahkan akan ikut sakit jika melihat istrinya seperti ini. perlahan Kibum menghampiri Moonra dengan diam. Kacamata yang ia gunakan ia lepas dan dikaitkan ke bajunya.
            Moonra merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Ia kenal betul siapa pemilik bau perfume ini. Bau parfum dengan campuran keringat. Ia tahu.
            Air mata yang sudah tak keluar tadi, perlahan mulai muncul lagi. Memberi bekas pada peda bekas pertama yang sudah mengering. Tubuh Moonra juga mulai bergetar lagi. Ia memang ingin sendiri. Tapi bohong jika ia menolak suaminya. Kim Kibum.
            “Tidak apa. Tidak apa-apa sayang,” ucap Kibum pelan. Tepat di telinga kiri Moonra. Perkataan itu malah membuat tangis Moonra yang diam malah semakin deras.
            “Kita relakan dia. Tidak apa,”
            Moonra keguguran. Dan ini sudah yang keempat kalinya. Keempat kalinya ia tidak bisa mempertahankan bayinya. Bukannya Moonra tak hati-hati. Tapi selalu saja ada masalah bagi mereka. Keguguran pertama, karena Moonra memakan makanan yang tidak ia ketahui jika mengandung nanas. Jiwanya tergoncang saat itu. keguguran kedua, Moonra terserempet Mobil saat ia hendak menyeberang. Dan karena keguguran pertama dan kedua tersebut, membuat rahim Moonra melemah hingga kehamilan yang ketiga, ia keguguran lagi. Dan untuk yang terakhir ini, Moonra hanyalah hamil anggur. Ia dan keluarga mengira jika Moonra hamil. Dan setelah beberapa minggu di cek, Moonra hanya hamil anggur. Lagi-lagi ia gagal.
            “Aku gagal oppa. Aku gagal,” desah Moonra.
            Kibum menambah pelukannya. Ia tahu jiwa istrinya ini pasti sangat terguncang. Empat kali ia gagal dann itu pasti sangat berat bagi Moonra. Walaupun usia pernikahan mereka yang masih terbilang muda. Yakni dua setengah tahun, tapi tetap saja ada pengalaman pahit.

Our Life

            Kibum dan nyonya Kim menemui dokter yang menangani Moonra tadi. Ada beberapa penjelasan dokter yang harus diketahui Kibum dan umma-nya.
            “Jadi, bagaimana keadaan istri saya, dokter?” tanya Kibum.
            “Ibu Moonra baik-baik saja dalam fisiknya. Tapi untuk batinnya, ia mengalami guncangan yang hebat. Keguguran yang sudah empat kali, membuat batinnya lemah. Untuk saat ini, peran keluarga sangatlah penting. Terutama utuk anda, tuan Kim. Saya sarankan anda menemani istri anda sampai keadaan ibu Moonra baik. Baik dalam fisik, maupun batin,”
            “Apakah menantu saya masih bisa hamil? Maksudku, riwayat kehamilannya sangat tidak baik,”
            “Ibu Moonra masih muda. Peluangnya untuk hamil masih sangat besar. Saya mengecek dan rahimnya masih sangat baik. Penyakit yang ia alami beberapa tahun yang lalu sudah mulai menghilang. Tapi saya sarankan, kehamilan ibu Moonra untuk di tunda. Kita hanya mencegah terjadinya hamil anggur untuk kedua kalinya. Saya akan memberi resep untuk ketenangan ibu Moonra dan satu resep lagi untuk memperkuat rahimnya. Asalkan diminum secara teratur, mungkin keadaan Ibu Moonra akan cepat kembali membaik,”
            “Terimakasih dokter,”

Our Life

            Sekali lagi nyonya Kim melihat Moonra sebelum ia benar-benar pulang. Bahkan sejak pulang dari rumah sakit kemarin, Moonra tak kunjung bicara. Ia hanya duduk diam dengan pandangan kosong.
            “Suruh dia makan, dan minum obatnya. Umma pulang dulu sayang. Jaga dia,”
            “Itu sudah kewajibanku. Terimakasih umma,”
            “Tidak apa-apa. Jika butuh bantuan, segera hubungi umma,”
            “Ne,”
            Kibum menatap punggung umma-nya lekat-lekat. Tanpanya, Kibum bukanlah apa-apa. Sekali lagi ia menghela nafas. Ia sengaja mengambil cuti beberapa minggu untuk menjaga istrinya. Kali ini ia harus lebih exstra menjaganya.
            Ditatapinya wanita yang tak lain adalah istrinya tengah melamun di pinggir jendela. Moonra sering melakukan ini. Setiap keguguran, Moonra selalu bertingkah seperti ini. seakan-akan Tuhan tidak percaya untuk menitipkan anak kepadanya.
            “Kau sedang apa Moonra?” peluk Kibum dari belakang.
            Hening.
            “Bagaimana jika kita sarapan bersama?” tanya Kibum. Dan sekali lagi hening.
            “Kita sarapan bersama, lalu kau minum obatmu,” Kibum tak pantang menyerah.
            Moonra membalikkan badannya menghadap Kibum. Menatapnya dengan kekosongan.
            “Harusnya kau ke kantor,” ucap Moonra lemah.
            “Aku mengambil cuti beberapa hari untuk menjagamu,”
            “Kau tidak perlu melakukan ini oppa. Aku baik-baik saja,”
            “Sudah berapa kali ku bilang. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu, kau itu tidak pandai berbohong,”
            Moonra meraih kedua tangan Kibum. Menggenggegamnya erat dan menciumnya. Kemudian menempelkannya ke pipi kanan.
            “Maafkan aku,” lirih Moonra.
            “Ini bukan kesalahanmu sayang,”
            “Bagaimana jika pada kenyataanya aku memang ditakdirkan untuk tidak punya anak?”
            “Kim Moonra! Bicara apa kau ini?”
            “Empat kali oppa. Empat kali. Empat kali aku keguguran. Bukankah Tuhan memang tidak berkehendak untuk memberi kita anak?”
            “Hentikan!”
            “Aku gagal. Aku bukan wanita sempurna. Aku bukan menantu yang baik. Aku-“
            Kibum menciumnya. Ia tidak suka jika Moonra merendahkan dirinya. Ia tidak ingin Moonra menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan ia sangat membenci ketika Moonra beranggapan jika Tuhan tak berkehendak atas keinginan mereka. Semua yang Kibum lakukan semata-mata ingin menenangkan istrinya ini. Terbukti dengan Moonra yang diam saja. Hanya menempel. Tidak ada pergesekan apapun.
            “Hu.. hu..hu.huuhu…” isak Moonra.
            “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri sayang. Kita tidak tahu rencana apa yang Tuhan berikan untuk kita di masa depan. Aku tidak suka kau menyalahkan dirimu sendiri,”
            “Tapi-“
            “Kim Moonra,” potong Kibum.
            “Aku beruntung. Sangat beruntung. Setidaknya Tuhan mengijinkanku untuk memiliki suami sepertimu,” peluk Moonra.
            “Dan jangan lupa jika aku juga beruntung. Kim Moonra, aku mencintaimu,” Kibum merenggangkan jarak mereka. “Sekarang, kita sarapan dan kau harus meminum obatmu,” lanjutnya.
            “Kau mau menyuapiku?”
            “Dasar. Tentu saja aku mau,” dengan cepat Kibum mengecup bibir mungil itu sekilas.


End

“happy birth day KIM KIBUM. Saranghae… <3”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...