Langsung ke konten utama

My Primadona [OneShoot[



Title     : My Primadona
Author : Intan Novela^^

-Satu hari yang menyenangkan bersamamu. Bolehkah aku bergabung?-


Story si~jak!!


Kebanyakan orang, masa sekolah yang paling indah adalah, saat kita berada di masa-masa SMA. Dan yang paling menyenangkan di masa SMA adalah, saat kita berada di kelas 2. Jika di kelas 1 kita masih malu-malu, kelas 3 yang tegang kerena menghadapi ujian kelulusan, tapi berbeda dengan masa kelas 2. Dimana kita menjadi murid yang sewajarnya. Masa yang orang bilang, kita menjadi anak nakal, mencari jati diri, dan yang tak asing adalah, mencari cinta sejati.

“primadona datang….” Teriak murid namja dengan sumringahnya. Begitu juga dengan yang lainnya. Termasuk para yeoja yang sepertinya tak iri atau mempermasalahkan itu.
“beri dia jalan..” teriak namja yang lainnya.
“sunbae, apakah tidurmu semalam nyenyak?” Tanya seorang hobae.
“iya. Terimakasih sudah menanyakannya. Bagaimana denganmu?”
“aku juga nyenyak sunbae. Terimakasih..” hobae itu nampak senang.

Kang Sangneul. Gadis keturunan Kang dengan kesempurnaan yang ia miliki. Hampir semuanya mengidolakannya. Selain orangnya yang manis dan cantik, tapi ia juga ramah dan murah senyum. Keluarganya benar-benar berhasil mendidiknya menjadi wanita yang tumbuh anggun. Keluarga Kang terkenal akan kedermawaannya. Bahkan, saat sekolah Paran, tempat anaknya menuntut ilmu ini sedang masa pembangunan, keluarga Kang menyumbah lebih dari ketetapan yang dibuat. Tuan Kang dan nyonya Kang adalah sosok masyarakat yang mendapat partisipasi dan penghargaan. Mereka keluarga terpandang.

“heumm..” gumam Sangneul saat ia sudah duduk manis di kelasnya.
“primadona, apa kabar?” Tanya seseorang.
“aish, Ye eun-ah, apa yang kau katakan.” Sangneul tampak cemberut dengan teman dekatnya ini.
“hahaha~ aku hanya bercanda. Tapi kau benar-benar dikagumi mereka. Ini..” Ye eun menyerahkan sesuatu pada Sangneul.
“mwo?” Tanya Sangneul.
“seseorang menitipkan ini padaku. Sepertinya sunbae kita.”
“sunbae?” ulang Sangneul seraya menerima benda yang diserahkan Ye eun.
“sepertinya itu coklat.”
“gomawo.” Kata Sangneul sambil menoleh ke tempat duduk yang terletak pojok depan kanan.
“hari ini dia tidak masuk.” Kata Ye eun.
“eh?” Sangneul tampak bingung.
“Cho Kyuhyun. Hari ini dia tidak masuk. Tadi, seorang wanita paruh baya mengirimkan surat ke sekolah. Sepertinya dia ibunya Kyuhyun.”
“wae?”
“aish, aku seperti tidak tahu saja. Kau menyukainyakan?”
“mwo?” ucap Sangneul terkejut. “aish, apa yang kau katakan Ye eun-ah.” Sangneul tampak malu sekarang. Dipandangnya lagi tempat duduk Kyuhyun.

Yeah, hampir semua orang di sekolah tahu. Jika primadona mereka menyukai sosok Cho Kyuhyun. Walaupun itu belum ada buktinya. Hanya saja, setiap ada tugas kelompok di kelas, Sangneul selalu mengajak Kyuhyun agar satu kelompok dengannya. Tapi sayangnya Kyuhyun menolak itu. Itu sudah sedikit membuktikan jika primadona mereka menyukai namja culun tersebut. Kadang mereka terus bertanya pada Sangneul. Kenapa ia bisa menyukai namja kutu buku tersebut. Padahal, jika di sekolah ada istilah primadona wanita, tentu saja sebaliknya ada seseorang yang di sebut primadona pria. Ia adalah Choi Siwon. Tapi sayangnya, Sangneul tak memperdulikan itu. Ia masih berteman baik dengan sunbae-nya itu. Hanya saja, Sangneul tidak suka jika orang-orang men-couple-kannya dengan Siwon. Namja berlesung pipit indah tersebut. Kembali lagi dengan sosok Kyuhyun. Namja yang bermarga Cho tersebut, terkenal dengan pribadi yang tertutup, dengan kebiasaannya yang selalu membaca buku. Untuk itulah ia di sebut kutu buku. Rangking? Tentu saja itu tak perlu diragukan lagi. Ia selalu juara 1 dari sejak ia pertama kali sekolah. Ia juga merupakan rival Sangneul dalam mendapatkan rangking. Terkadang Sangneul yang juara satu, tapi terkadang Kyuhyun juga merebutnya. Keluarga? Tak banyak yang tahu tentang asal usul keluarga yang bermarga Cho tersebut. Karena mereka benar-benar tak tertarik dengan namja culun tersebut. Ia terkenal selain karena primadona yang menyukainya, tapi juga karena Kyuhyun sering menjadi perwakilan sekolahnya dalam olimpiade. Tidak hanya dalam satu mata pelajaran. Tapi hampir semuanya Kyuhyun wakilkan. Hubungan? Hubungan mereka baik. Sangneul selalu mengajak Kyuhyun berbicara. Tapi sepertinya namja itu sendirilah yang menutupi dirinya sendiri.

“hati-hati Sangneul-ssi. Setelah ini, kau harus istirahat ya?”
“Sangneul-ssi, jika sudah sampai rumah, kau harus segera makan.”
“Sangneul sunbae, sampai jumpa..”

Sangneul hanya menghela nafas saat ia sudah berada di dalam mobil. Terkadang ia heran. Kenapa orang-orang seperti sangat mengaguminya. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Sejujurnya, ia tidak terlalu suka dengan sikap berlebihan mereka. Sangneul ingin hidup seperti orang-orang pada umumnya. Mereka lebih terlihat takut atau apalah semacamnya.
“tapi, dia sakit apa ya?” pikir Sangneul. “paman, kita belok ke kiri.” Kata Sangneul pada sopirnya.
“tapi nona, bukankah kita seharusnya belok ke kanan?”
“aku ingin menjenguk temanku.”

Tak perlu waktu lama. Sekitar 15 menit, Sangneul sudah berada di sebuah perkampungan yang menurutnya tak tertata rapi. Benarkah Kyuhyun tinggal disini? Diam-diam ternyata, Sangneul mencuri data sekolah tentang Kyuhyun.
“paman tunggu disini. Aku tidak lama.”
“baik nona.”
Sangneul turun dari mobil. Tampak beberapa orang menatapnya dngan pandangan aneh. Ini pertama kalinya ada sosok artis yang datang ke perkampungan kumuh mereka.
“mianhamnida ahjussi. Aku ingin bertanya. Apakah kau tahu tempat tinggal namja yang bernama Cho Kyuhyun yang bersekolah di Paran?” Tanya sanagneul pada sosok wanita paruh baya yang sedang menggendong beberapa sayuran.
“kau bilang Kyuhyun?” Tanya wanita itu.
“ne.” jawab Sangneul.
“kau siapa?” tanyanya.
“Kang Sangneul imnida. Aku temannya. Hari ini dia tidak masuk sekolah. Jadi, aku berniat untuk menjenguknya.
“kenalkan, aku Cho hyun ah. Aku ibu Kyuhyun.”
“mwo?” kata Sangneul terkejut. Ia tidak menyangka jika wanita ini adalah ibu Kyuhyun. Sangneul segera membungkuk memberi hormat. “mianhamnida nyonya Cho. Aku tidak tahu kalau kau…”
“ah tidak apa-apa. Sayangnya aku tidak bisa mengantarmu. Aku harus mengantar sayuran ini. Kau tahu perempatan itu? Belok kanan, lalu lurus dan ada gang kecil pertama. Kau lewat kesana. Tanyakan pada seseorang dan  au akan tahu.”
“gamsahamnida nyonya Cho.”
“tidak. Harusnya aku yang berterimakasih. Kau mau menjenguk anakku. Ini pertama kalinya ia sekolah SMA dan baru ada satu temannya yang datang ke rumahnya. Apalagi ia seorang gadis yang cantik sepertimu.”
Sangneul merasa malu. Ia tidak menyangka jika nyonya Cho sangat ramah.
“aku pergi dulu Sangneul-ssi.”
“ne, nyonya Cho. Hati-hati di jalan.” Sangenul membungkuk. Setelah cukup, ia mulai menlanjutkan perjalannya.

Sangneul terus bergumam memikirkan perkataan ibunya Kyuhyun tadi. Benarkah ia orang pertama yang datang ke rumah Kyuhyun? Benarkah ia yeoja pertama yang datang ke rumahnya? Entah kenapa, Sangneul merasa malu dan tersenyum tidak jelas.
“apa benar ini rumahnya?” gumam Sangneul setelah menempuh beberapa menit dan berdiri di depan rumah yang sedikit sempit ini.
“e, permisi Agassi. Apa benar ini rumah Cho Kyuhyun?” Tanya Sangneul pada orang yang kebetulan lewat didekatnya.
“ne..” jawabnya.
“o.. gamsahamnida.” Kata Sangneul.
Sangneul mulai mengetuk pintu rumah Kyuhyun. Tapi beberapa ketukan tidak ada sautan dari dalam. Apakah Kyuhyun sedang tidur? Pikir Sangneul. Dengan sedikit ragu, Sangneul memutar knop pintu dan ternyata tidak terkunci. Sedikit ragu memang. Tapi mengingat ia sangat ingin bertemu Kyuhyun dan rasa kawatirnya, akhirnya Sangneul memutuskan untuk masuk. Sedikit mengendap-endap tentunya. Entahlah. Yeoja ini merasa dirinya sudah gila.
“pe-permisi… apa ada orang?” kata Sangneul yang sedikit keras. Hening. Tidak ada sautan sama sekali.
“Kyuhyun-ssi..” panggil Sangneul.
“noona.. apakah itu kau?”
Sangneul menoleh cepat ke sumber suara tadi. Tepatnya berada di kamar samping dengan pintu yang sedikit terbuka.
“apakah ini kamar Kyuhyun?” gumam Sangneul pelan.
Sangneul berjalan pelan seraya menahan degup jantungnya. Sedikit ia mengintip dari luar. Dan benar. Terlihat seorang namja yang lemah sedang berbaring sambil menutup mata di atas ranjang.
“Kyuhyun-ssi.” Kata Sangneul.
“nuguseyo?” kata Kyuhyun sambil membuka matanya perlahan-lahan. Is sadar jika itu bukan suara noona-nya. Ia merasa berat utuk membuka mata. Ditambah lagi, penglihatan Kyuhyun yang memang benar-benar sudah buruk. Ia sedikit menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Kyuhyun meraba-raba meja yang ada di samping ranjang sambil merubah posisinya menjadi duduk bersandar. Mencoba mencari kacamatnya. Barulah ia mendapatkannya, Kyuhyun memakainya dan ia tahu siapa yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
“sangneul-ssi? Ke-kenapa kau ada di sini?” Kyuhyun terkejut bukan main. Darimana Sangneul tahu jika rumahnya di sini? Dan yang paling membuatnya terkejut adalah, sekarang primadona sekolah Paran sedang berada di kamarnya. Kamar Kyuhyun.
“aku dengar kau sakit. Jadi, aku datang untuk mejengukmu. Maaf, aku tidak membawa sesuatu untukmu.” Sangneul mendekati ranjang Kyuhyun.
“gam-gamsahamnida.” Kata Kyuhyun gugup.
“jadi, kau sakit apa?” Tanya Sangneul sambil duduk di pinggir ranjang Kyuhyun.
“hanya demam biasa.” Jawab Kyuhyun merunduk.
“benarkah? Apa masih panas?” Sangneul meletakkan telapak tangan kanannya ke kening Kyuhyun. Sontak namja itu membulatkan matanya. Ini pertama kalinya ada yeoja yang menyentuhnya selain keluarganya.
“aku baik-baik sa..”
“omo. Kyuhyun-ssi.. Kau masih panas.” Potong Sangneul.
“aku baik-baik saja.”
“aku akan mengompresmu. Aku ambil air dulu.” Kata Sangneul tanpa memperdulikan Kyuhyun yang sebenarnya menolaknya. Sangneul dengan cepat keluar dari kamar Kyuhyun dan menuju dapur. Sedangkan Kyuhyun, namja itu sedari tadi mengatur nafasny. Entah kenapa ia merasa senang saat primadona itu perduli dengannya. Ada semburat merah di pipi Kyuhyun.
“berbaringlah Kyuhyun-ssi.” Kata Sangneul yang sudah kembali. Kyuhyun hanya menurut tanpa berkomentar. Sejujurnya, ia tengah mengatur degup jantungnya.
“kuharap kau cepat sembuh dan kembali masuk sekolah.” Dengan telaten, Sangneul meletakkan kain yang sudah ia celupkan ke dalam air dingin dan diperas ke kening Kyuhyun.
“apa kau sudah meminum obatmu?” Tanya Sangneul.
“e, itu..”
“kau belum meminum obatmu?” Sangneul mengambil keputusan sendiri. Kyuhyun hanya diam. Sejujurnya ia memang belum meminum obatnya. Sebelum ibunya pergi, nyonya Cho sudah memperingati Kyuhyun agar meminum obatnya. Tapi sepertinya namja itu mengindahkan perintah ibunya.
“aku akan membuatkan bubur untukmu.” Sangneul beranjak. Tapi dengan cepat Kyuhyun menahan tangannya.
“Sangneul-ssi.”
“ne?” mata mereka saling bertemu. Kyuhyun baru sadar jika mata Sangneul ini seperti Kelinci. Hewan kesukaannya. Mengerjap-ngejap dan bulat seperti Kelinci.
“ada apa Kyuhyun-ssi?”
“tidak apa-apa.” Seperti terpaksa, Kyuhyun melepaskan genggaman tadi. ada apa dengannya?
Kemudian Sangneul keluar dan mulai memasak bubur. Sepertinya yeoja itu merasa jika rumah ini adalah rumahnya sendiri.
Tapi mendadak raut wajah Sangneul menjadi panik. Tunggu, ia lupa jika ia tidak bisa memasak sama sekali. Bagaimana jika bubur yang ia buat kasinan? Atau mungkin terlalu cair. Bisa-bisa itu membuat Kyuhyun semakin tambah sakit.
“aigoo, kenapa kau bodoh sekali Kang Sangneul.” Keluh Sangneul. Ia tampak mulai berpikir. “a, aku tahu.” Dengan cepat Sangneul mengeluarkan ponselnya dan mulai membuka aplikasi internet. Ia akan mencari tahu melalui internet. Apa gunanya, jika alat canggih tidak digunakan?

Kyuhyun sedari tadi terus menatapi ambang pintunya. Sosok Sangneul belum juga datang. Apakah yeoja itu mengalami kesulitan? Ia tahu jika primadona itu sangat baik pada semua orang. Berkali-kali sangneul mengajaknya berbicara. Tapi Kyuhyun malah menjauh dan menutup diri lebih dalam. Sejujurnya, ia kagum dengan Sangneul. Yeoja itu sangat periang dimana pun. Itu sebabnya banyak yang menyukainya. Sosoknya yang friendly dan juga suka menolong. Itu terlalu sulit untuk Kyuhyun jangkau. Tiba-tiba Kyuhyun tersenyum rendah. Bukan merendahkan Sangneul. Tapi merendahkan dirinya sendiri. Ia mendengar jika Sangneul menyukainya. Sungguh namja itu terlihat tersenyum \miris pada dirinya sendiri. Mana mungkin primadona menyukai namja culun sepertinya?
“Kyuhyun-ssi, kenapa kau melamun?” suara Sangneul membuyarkan lamunan Kyuhyun.
“a-aniya.”
“baiklah. Kalau begitu, makan bubur ini lalu minum obatmu.” Sangneul lagi-;agi duduk di pinggir ranjang Kyuhyun. “kau mau aku suapi?”
“ne? e, jika kau tidak keberatan.”
“tidak. A… ayo buka mulutmu.” Sangneul mengarahkan sendok yang berisi bubur ini kearah mulut Kyuhyun. Detik ini juga, Kyuhyun berpikir jika sakit itu enak. -_-“
Hening. Suapan demi suapan hanya dilalui dengan keheningan. Setiap sendok masuk ke dalam mulut Kyuhyun, namja itu hanya melihat kea rah lain. Sedangkan Sangneul, tentu saja yeoja it uterus menatap Kyuhyun. Ia sendiri heran. Kenapa sosok Cho ini mampu menarik perhatiannya. Sosoknya sudah menarik Sangneul sejak upacara pembukaan penerimaan sisa baru di Paran.

“paman, apakah ini masih lama?” Sangneul terlihat cemas. Ia yakin jika dirinya akan telat. Hari pertama masuk, ia sudah telat. Itu memalukan.
“mianhamnida nona muda. Tapi sepertinya mobil ini benar-benar mogok.”
“aish, jinjja. Lagipula kenapa tidak ada mobil satu pun yang lewat..” sangneul semakin cemas.
“apa kau butuh bantuan?” sebuah suara muncul tiba-tiba. Sangneul dan sopirnya sontak menoleh ke sumber suara.
“nuguseyo?” Tanya Sangneul. Melihat seorang namja dengan seragam yang sama dengan dirinya.
“mungkin, kau butuh tumpangan? Kukira kita satu sekolah yang sama.”
“jinjja? E..” Sangneul tampak ragu. Sebenarnya ia senang ada orang yang menawarkan bantuan. Tapi benarkah ia akan naik ke sepeda dengan namja ini? Sebelumnya ia belum pernah naik ataupun diboncengkan dengan sepeda.
“nona, sebaiknya anda menerima bantuannya.” Usul sopir Sangneul.
“ne?” Sangneul terkejut.
“bagaimana Agassi? Kau harus memberiku jawaban segera agar aku juga tak ikut telat.”
“ouh, baiklah. Aku ikut denganmu Agassi.” Sangneul duduk keboncengan tersebut. Dan tanpa sadar, ia melingkarkan tangannya pada namja yang menolongnya ini.
“paman, aku pergi dulu.”

Dan sekarang, sosok namja yang menolongnya itu, kini tengah ia suapi sekarang. Sangneul tahu jika Kyuhyun adalah namja yang baik.
“yeoboseyo?” angkat Kyuhyun. Segera Sangneul menahan suapan tersebut.
“Kyuhyun-ah, apa kau sudah sehat?” Tanya seseorang di seberang.
“aniya noona. Waeyo?” Tanya Kyuhyun.
“aish, eotteokeyo? Mendadak dosen noona datang dan noona tidak bisa ijin. Sepertinya noona tidak bisa menjemput mereka.” Terdengar nada merasa bersalah dari noona-nya Kyuhyun.
“gwaencahana noona. Aku yang akan menjemput mereka.”
“jinnja? Tapi bukankah kau masih sakit?”
“gwaenchana. Aku baik-baik saja noona.”
“ouh, kau memang adik yang baik Kyuhyun-ah.. eon janji akan membalasnya.”
Kyuhyun hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian yang terdengar hanya suara piip. Sambungan telah terputus.
“nuguseyo?” Tanya Sangneul hati-hati.
“noona-ku.” Jawab Kyuhyun.
“kau punya noona?” Tanya Sangneul lagi. Kali ini Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. “omo.. kau mau kemana Kyuhyun-ssi? Kaukan masih sakit."
“mendadak noona ada urusan. Dosennya tiba-tiba datang. Dan dia tidak bisa ijin. Dan, aku harus menggantikannya untuk menjeput adik-adik kami.”
“kau punya adik?” Sangneul terkejut. Sebenarnya, berapa jumlah anggota keluarga Cho?
“ne..” Kyuhyun mencoba bangun. Tapi sepertinya namja itu merasa kesusahan.
“omona…” teriak Sangneul yang langsung berdiri saat Kyuhyun berdiri tak seimbang. Ia terlalu memaksakan diri hingga Sangneul harus menahannya. Alhasil mereka malah berpelukan. Kyuhyun jatuh tepat di atas pundak kanan Sangneul. Bahkan namja ini mampu mencium aroma rambut Sangneul. Wangi. “Kyuhyun-ssi, gwaencahanayo?” Tanya Sangneul. Jujur, ia merasa berat dengan tubuh Kyuhyun.
“mi-mianhe.” Kyuhyun gugup. Ia kembali pada posisinya dengan dibantu Sangneul.
“dimana adikmu sekolah?” Tanya Sangneul.
“mwo?!”
“biar aku yang menjemputnya.”
“ne?! kau serius?”
“tidak apa-apa. Aku yakin jika tubuhmu ini masih sangat lemah. Biar aku yang menjemput mereka. Jangan sungkan.”
‘bahkan ia pantas disebut primadona.’ batin Kyuhyun. ‘mana mungkin, primadona sepertimu menyukai seseorang yang culun sepertiku?’ namja itu menunduk seolah-olah ia sadar akan kedudukannya.
“Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja?” Sangneul melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kyuhyun.
“oh, ne..”

Sesekali Sangneul melihat secarik kertas yang diberikan Kyuhyun beberapa menit yang lalu. Untungnya sopir Song tahu alamat yang dimaksud Sangneul. Sesekali Sangneul melihat keluar jendela. Sekedar mengingat jalan yang mereka tempuh. Bahkan Sangneul sendiri shok dengan apa yang dilontarkan Kyuhyun saat ia bertanya siapa nama adiknya.
“ada tiga? Aigoo.. banyak sekali anak nyonya Cho.” Gumam sangneul. Bagaimana tidak? Ternyata Kyuhyun anak kedua dari lima bersaudara. Ia tidak menyangka jika Kyuhyun satu-satunya anak namja di keluarganya. Apakah hanya Sangneul yang mengetahui ini? Entah kenapa yeoja ini malah tersenyum tak jelas.
“nona, kita sudah sampai.” Suara sopir Song membuyarkan lamunan Sangneul.
“oh, jinjja?” Sangneul melihat keluar. Sekolah memang sudah sedikit sepi. Hanya beberapa murid yang terlihat menunggu jemputan atau sekedar membeli makanan pedagang kaki lima.
“benarkah ini sekolahannya?” gumam Sangneul seraya turun. Matanya mencari sosok tiga gadis kecil dan bingo! Sangneul mendapatkannya. Segera ia berlari kearah mereka.
“annyeonghaseyo..” sapa sangneul ramah.
Ketiga anak kecil ini hanya saling lirik satu sama lain.
“nuguseyo?” Tanya salah satu diantara mereka.
“Kang sangneul imnida. Aku adalah teman oppa kalian. Cho Kyuhyun. Aku menggantikannya untuk menjemput kalian karena keadaan Kyuhyun yang masih lemas.”
Lagi. Mereka saling melirik. Ada sedikit rasa takut dari mereka. Apalagi di berita-berita sering menayangkan penculikan anak dengan segala motif.
“aku tidak sedang menculik kalian.” Kata Sangneul cepat saat menyadari sesuatu.
“eoni, kau tampak mencurigakan.”
“aish, mana mungkin mencurigakan? Mana ada penculik yang cantik sepertinya.”
“lagipula, lihat seragamnya. Sama seperti yang dipakai Kyuhyun oppa.”
“benar sekali. Adik manis, siapa namamu?” Tanya Sangneul sedikit membungkuk.
“Cho Kyuseong.” Jawabnya.
“aku ini satu kelas dengan oppa kalian. Percaya padaku. Kyuhyun oppa sedang menunggu kalian di rumah. Keadaannya masih lemah. Kalian tidak inginkan Kyuhyun oppa di rumah sendri dalam keadaan seperti itu?”
“baiklah. eoni, kami percaya padamu.”
“anak pintar. Jja~ kita pulang.” Ajak Sangneul.
Satu per satu mereka masuk kedalam mobil. Tapi saat giliran adik Kyuhyun yang bernama Cho Ahmi, ia tak lekas masuk.
“waeyo Ahmi-ssi?”
“eum, boleh aku duduk didepan? Kami jarang sekali naik mobil. Jadi..”
“arasseo. Kau boleh duduk di depan.” Kata Sangneul yang menyetujuinya.
“gamsahamnida Sangneul eon.” Ahmi pun masuk kedalam.

Sepertinya Sangneul mulai akrab dengan mereka. Terlihat raut bahagia dan senyum yang tak lepas dari mereka. Bagi Sangneul, adik-adik Kyuhyun ini sangat manis. Ditambah mereka masih duduk di Sekolah Dasar. Hanya sesekali Sangneul melirik pada Cho Kyura yang sepertinya sedikit pendiam seperti oppa-nya.
“eoni, jadi apa hubunganmu dengan Kyuhyun oppa?” Tanya Ami sambil menoleh ke belakang.
“apa kau kekasihnya?” sambung Kyuseong.
“aniya. Kami hanya satu teman satu kelas.”
“Kyuhyun oppa sangat jarang membawa temannya ke rumah. Apalagi ini pertama kalinya ia dikunjungi teman yeoja-nya.” Kyura ikut menimbrung.
“jinjja?” Sangneul tampak senang.

Mereka berempat turun dari mobil dan segera masuk kedalam rumah. Saat pintu depan terbuka, mereka langsung berhambur ke kamar Kyuhyu. Sangneul hanya bisa mengikutinya dari belakang.
“oppa… kau masih sakit?” Tanya Kyuseong yang terlihat sedih.
“oppa, cepatlah sembuh..” kini giliran Ahmi yang duduk di kaki Kyuhyun.
“oppa, siapa dia? Apa dia kekasihmu?” Tanya Kyura yang berada di pinggir ranjang.
Sangneul yang berdiri tak jauh dari ranjang hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sejujurnya, ada rasa iri yang muncul di hari Sangneul.
“dia hanya teman oppa. Oya, kenapa kalian tak ganti baju lalu makan siang? Kalian pasti lapar.”
“ah, oppa benar. Kami ganti baju dulu oppa.” Kata mereka sambil satu per satu mencium wajah Kyuhyun. Dimana pun. Baik kening, pipi, hidung, bahkan bibir. Sangneul yang melihatmya hanya merona merah.
“eoni, silahkan berduaan dengan oppa-ku.” Kata Ahmi sambil mengedipkan matanya sebelah.
“mwo?!” Sangneul terkejut.
“ya! Cho Ahmi apa yang kau katakan? Cepat ganti baju..” teriak Kyuhyun. Sedangkan Ahmi hanya tertawa sambil keluar dari kamar Kyuhyun.
“mianhe jika mereka merepotkanmu.” Kata Kyuhyun.
“kau gila? Mereka sangat lucu. Aku iri dengan keluargamu Kyuhyun..”
“mwo?”
“ah, lupakan. Jadi, apakah sudah sedikit membaik?”
“ne. ini berkat rawatanmu.”
“jinjja? Aku senang mendengarnya.” Sangneul tersenyum tulus.
“Sangneul-ssi.” Panggil Kyuhyun.
“ya?”
“eum, apa kau tak pulang? Maksudku, kau pasti ditunggu keluargamu di rumah.”
“ah, aku tahu maksudmu Kyuhyun.”
“bukan. Aku, aku tidak bermaksud mengusirmu.” Kyuhyun tertunduk. Ia takut dan khawatir jika Sangneul menyalah artikan ucapannya barusan. “kau,”
“gwaenchana. Kukira, 3 bidadari kecil mampu merawatmu.” Potong Sangneul. “sudah turun rupanya.” Sangneul meletakkan telapak tangannya ke kening Kyuhyun. “aku pulang. Jaga kesehatanmu Kyuhyun-ssi. Kelas tanpamu, rasanya sangat sunyi.”
“mwo?!”
Sangneul sadar sesuatu. Ia terlalu emosional. Bahkan semburat merah mendadak muncul di pipinya.
“eu, maksudku. Kau tahu, kau selalu menjadi rivalku saat seonsaengnimdeul melontarkan pertanyaan susulan.”
“begitu rupanya.” Kyuhyun sedikit kecewa dengan alasan Sangneul.
“sampai jumpa.” Pamit Sangneul.
“ne, hati-hati di jalan sangneul-ssi. Dan terimakasih.”
“tidak masalah.” Sangneul keluar dari kamar Kyuhyun.

Sementara di luar, Sangneul menemukan 3 adik Kyuhyun yang sedang makan siang dengan akrab. Sungguh ia sedikit iri dengan keluarga ini. Benarkah hanya sedikit. Jauh di lubuk hatinya ia sangat iri banyak. Ada yang tidak ia punya tapi orang lain memunyainya.
“Sangneul eoni..” panggil Kyura.
“ne?” Sangneul menghampiri mereka.
“apa eoni akan pulang?” Tanya Ahmi.
“ne. eoni sudah terlalu lama disini. Lagipula, eoni masih ada sedikit urusan.” Jawabnya.
“apa eoni besok datang lagi?” Tanya Kyura.
“mwo?! Waeyo? Apa kalian ingin eoni datang?”
“jika eoni tidak keberatan, tidak apa-apa. Lagipula, sepertinya Kyuhyun oppa senang saat eoni disini.” Kata Kyura.
“jinjja?”
“ne..” jawab mereka bertiga.
“baiklah. Jika ada waktu, eoni akan mampir. Eoni pulang ne?”
“ne, eooni. Hati-hati..” kompak mereka sambil melambaikan tangan.


-segudang berlian, intan, dan emas. Jika itu bisa membuatku bahagia, aku akan menukarkannya dengan sesuatu yang diberi nama kebahagiaan tersebut-

Semerbak harumnya bunga Tulip yang tertanam di sekolah Paran, membuat siapa saja betah untuk belajar disana. Tidak hanya sebagai penghias, Tulip merupakan lambing sekolah Paran. Entahlah, sejarah sudah mencatatnya seperti itu.
Lagipula, Tulip itu indah. Siapa yang tak suka Tulip? Sungguh orang itu harus berpikir 2 kali.

Masih seperti biasanya. Sangneul selalu mendapatkan hadiah di hari-harinya. Orang-orang pasti akan iri dengannya. Tapi dibalik itu semua, gadis itu sebenarnya lebih iri dari mereka-mereka. Tapi yang membuatnya senang adalah, saat Kyuhyun sudah kembali masuk dan mengisi kekosongan pada bangkunya. Pantulan mata Sangneul tak lepas dari sorot sosoknya. Karena diam-diam gadis itu mengamatinya. Tak sulit bagi Sangneul. Gadis berotak encer itu harus membagi konsentrasi saat seonsaengnim menerangkan dan juga mengamati Kyuhyun.
“apa kau tahu, kau terlalu mencolok hingga orang-orang tahu kalau kau sedang mengamati tuan Cho.” Bisik Ye Eun yang sedikit membungkukkan badannya ke depan. Karena posisi duduknya yang berada di belakang Sangneul.
“mwo?!”
“Kim Yeeun! Kang Sangneul! Apa yang kalian bicarakan?!” bentak Kim seonsaengnim.
Sangneul dan Yeeun hanya menunduk takut. Bahkan semua mata tertuju kearah mereka. Bahkan Kyuhyun juga.
“dan kau Kang Sangneul-ssi. Bisakah kau tidak menduakanku?” Tanya Kim seonsaengnim yang lebih kearah menyindir.
“ne?” Sangneul mendongak. Apa maksud Kim seonsaengnim.
“kau bisa saja mengamati Kyuhyun di waktu istirahat. Bukan di pelajaranku. Apa, kau menyukainya?”
Mata Sangneul melebar. Ia malu. Apalagi seisi kelas menertawainya. Kecuali Yeeun yang tersenyum melihatnya dan Kyuhyun yang malah mengalihkan pandangnnya. Siapa sangka dibalik kacamata Kyuhyun, ada semburat merah. Ia tak kalah malu seperti Sangneul.

Akibat dari ulah Sangneul dan Yeeun tadi, mau tak mau mereka mendapatkan hukuman dari Kim seonsaengnim. Walaupun Sangneul yang terkenal dengan julukan primadona dan murid cerdas, itu tak memungkiri dirinya terbebas dari hukuman. Apalagi jika ia memang benar-benar berulah. Ia masih siswi normal. Terkadang ia jail bersama Yeeun.
Sedihnya, hukuman Sangneul 2 kali lipat dari Yeeun. Sahabatnya itu kini sudah pulang terlebih dahulu yang memang ada urusan dengan keluarganya. Sedangkan Sangneul, ia harus tetap tinggal di sekolah untuk menyelesaikan tugasnya. Masih ada satu tugas lagi yang harus ia selesaikan. Yakni merapikan buku perpustakaan di rak. Cukup melelahkan memang.
“sepertinya hanya tinggal aku penghuni di sekolah ini.” Gumam Sangneul. “kau bodoh, Kang sangneul!” rutuk Sangneul pada dirinya sendiri.
“kau mau aku bantu?”
“omo…”
Semula suasana yang sepi dan hening, mendadak ada sebuah suara yang membuat Sangneul terkejut dan terjengkal karena ia naik 4 anak tangga di tangga lipat.
“Kyu-Kyuhun?” gumam sangneul. ‘omo.. ini terlalu dekat. Kumohon jangan sampai aku pingsan.’ Doa Sangneul di hati.
Kyuhyun membantu Sangneul berdiri dari tangkapannya. Bahkan namja itu juga tak tahan dengan jarak wajah mereka yang terlalu amat dekat. Kyuhyun gugup.
“maaf membuatmu terkejut.” Kata Kyuhyun.
“gwaenchana.” Sangneul mencoba menenangkan dirinya agar tak terlalu gugup. “tapi, kenapa kau belum pulang?”
“kukira kau butuh bantuan.” Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“kau mau membantuku?” Tanya Sangneul.
“itu jika kau tidak keberatan.” Kyuhyun mengalihkan pandangannya saat Sangneul menatapnya seperti tadi. Sangneul terkekeh dalam hati. Kadang, ia merasa ingin tertawa melihat tingkah Kyuhyun yang malu-malu seperti ini.
“Kyuhyun-ssi, tolong bantu aku. Kau maukan?” Sangneul menepuk pundak kanan Kyuhyun.
“ne.” Kyuhyun mengiyakan.
Mengantisipasi agar Sangneul tak terjatuh lagi, akhirnya Kyuhyun memilih membantu Sangneul merapikan pada rak bagian atas. Sedangkah Sangneul yang dibawah. Ada-ada saja tingkah mereka berdua. Dimulai dari Kyuhyun yang diam-diam mengamati Sangneul, ataupun Sangneul yang mengamati Kyuhyun. Sepertinya 2 insan ini belum juga sadar akan perasaan mereka yang sama.
Karena terlalu fokusnya, mereka tak sadar jika ada langkah kaki menuju ruang perpustakaan. Sangneul penasaran. Ia mendongak melihat siapa yang datang melalui jendela.
‘omo.. Kim seonsaengnim. Bagaimana ini? Jika beliau tahu kalau Kyuhyun membantuku. Bisa-bisa Kyuhyn ikut terhukum juga.’ Panik Sangneul. Segera ia berlari kearah Kyuhyun.
“waeyo?” Tanya Kyuhyun yang melihat wajah panik Sangneul.
“kau harus pergi dari sini Kyuhyun-ssi.”
“mwo? Wae?”
“kukira semua seonsaengnim disini sudah pulang semua. Ternyata Kim seonsaengnim masih ada disini dan sepertinya beliau mau mengecek apakah aku melaksanakan tugasnya.”
“jinjja?” Tanya Kyuhyun memastikan.
“ne.. kau harus segera pergi. Lagipula, tinggal merapikan beberapa rak lagi dan selesai. Kau bisa pulang sekarang.”
“eoh, baiklah. Hati-hati Sangneul-ssi.”
“ne..”
Kyuhyun meninggalkan Sangneul dengan lewat pintu samping. Tapi langkahnya terhenti saat Sangneul memanggilnya pelan.
“Kyuhyun-ssi..”
“ne?”
“gamsahamnida.” Sangneul membungkuk.
“gwaenchanayo. Aku senang membantumu.” Balas Kyuhyun.
‘sepertinya, aku memang menyukainya. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku harap, dialah cinta pertamaku.’
“kau sedang apa Kang Sangneul?”
Sontak suara dengan nada tinggi itu membuyarkan lamunan Sangneul. Kosong. Kyuhyun sudah pergi saat ia melamun karena terpukau dengan senyum yang Kyuhyun berikan tadi. Ini pertama kalinya ia melihat Kyuhyun tersenyum tulus seperti tadi.
“a-aniya.” Jawab Sangneul sambil berbalik.
“apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?”
“sebentar lagi Kim seonsaengnim.”
Kim seonsaengnim melihat hasil kerja Sangneul. Cukup rapi memang.
“baiklah, kau boleh pulang.”
“mwo? Ta-tapi aku belum menyelesaikannya.”
“hhaahh..” Kim seonsaengnim menghela nafas. “pulanglah. Lagi pula, hanya tinggal beberapa rak lagi. Biarkan petugas perpustakaan yang melanjutkannya.”
“eoh, gamsahamnida Kim seonsaengnim.” Sangneul membungkuk lalu berlalu. Terkadang seonsaengnim itu baik juga.

Sangneul meregangkan tubuhnya. Ini adalah hukuman terberat yang ia rasakan selam ia dihukum. Mungkinkah Sangneul akan mengulanginya lagi? Mungkin.
“benar. Memang sudah sepi.” Gumam Sangneul. Memang sudah sepi. Tapi mata Sangneul menangkap sosok namja yang sedang membaca buku di bawah pohon. Tak jauh dari tempat ia berdiri. “dia belum pulang?” sangneul memastikan apakah namja itu benar-benar. “Cho Kyuhyun.” Ucapnya sambil menghampiri Kyuhyun.
“kau masih disini?” Tanya Sangneul.
Kyuhyun menurunkan bukunya. Mendongak melihat Sangneul yang dalam posisi berdiri.
“aku sedang menggunakan waktu.”
“ne?”
“daripada pulang dan kembali lagi, lebih baik aku disini. Hari ini aku akan menjemput adik-adikku. Jadi, daripada aku bolak-balik, lebih baik aku menunggunya disini.”
“oh, jinjja?” Sangneul ikut duduk.
“cepat sekali kau selesai.”
“Kim seonsaengnim berbaik hati.” Sangneul tersenyum.
Hening. Tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Sangneul melihat tingkah Kyuhyun yang tenang. Benar, jika namja ini sudah membaca buku, bahkan oranglain akan ia hiraukan. Termasuk Sangneul.
“hehh..” Sangneul menghela nafas. Haruskah ia pergi sekarang? Tidak!
Kyuhyun terkejut saat Sangneul menepuk-nepuk pahanya seakan-akan membersihkannya. Kemudian, saat ia rasa sudah bersih, Sangneul meletakkan kepalanya. Paha Kyuhyun ia gunakan sebagai pengganti bantal. Tentu saja itu membuat Kyuhyun terkejut.
“aku sangat lelah Kyuhyun-ah.” Kata Sangneul sambil pura-pura memejamkan matanya.
Kyuhyun-ah? Ini pertama kalinya Kyuhyun mendengar Sangneul memanggilnya dengan sebutan Kyuhyun-ah.
“terserah kau saja.” Kyuhyun melanjutkan aktivitas membacanya.
Sangneul kembali mendengus. Setidaknya Kyuhyun harus mengajaknya bicara. Kenapa Sangneul harus repot-repot disini? Bahkan Kyuhyun tak menyuruhnya. Tentu saja ia gunakan kesempatan ini untuk berdekatan dengannya.
“mwo? Aish, aku tidak bisa melihat.”
Sangneul terkekeh. Ia sengaja mengusili Kyuhyun dengan mengambil kacamatanya.
“kenapa kau selalu memakai kacamata ini? Apa benar kau tidak bisa melihat jelas tanpa menggunakannya?” dengan usil Sangneul memakainya.
“Sangneul-ssi, berikan padaku.”
“hahaha~ Kyuhyun-ah, apa aku pantas?” Tanya Sangneul sambil bergaya.
“primadona, kau jangan memakainya. Mata indahmu bisa saja tertular.” Kata Kyuhyun.
Sangneul terdiam. Kyuhyun memanggilnya dengan sebutan primadona. Dan dia mengatakan matanya indah. Benar-benar. Kyuhyun mampu membuat Sangneul beku di tempat.
“ah dapat.” Kyuhyun berhasil merebutnya. Toh Sangneul tak berkutik lagi saat Kyuhyun memujinya tadi.
“kenapa kau tak pulang?” Tanya Kyuhyun. Selalu, ia mengatakan seperti itu.
“aku tidak ingin pulang. Aku ingin hari cepat malam, jadi pagi hari bisa cepat datang.” Sangneul menunduk.
Kyuhyun tampak bingung dengan yang dikatakan Sangneul.
“Kyuhyun-ah. Aku iri denganmu.” Sangneul menoleh kearah Kyuhyun.
“mwo?”
“setiap kau pulang, selalu ada yang menyambutmu. Benarkan?”
“ne. Terkadang umma-ku, noona, atau ketiga adikku. Wae?”
“aku benar-benar iri.” Sangneul tertunduk.
“apa kedua orangtuamu tidak,”
“mereka terlalu sibuk. Bahkan aku tidak yakin apakah mereka ingat dengan putrid satu-satunya. Disambut oleh pelayan, berbeda saat kita disambut kedua orangtua kita.”
“Sangneul-ssi.”
“aish. Memalukan. Aku malah seperti ini didepanmu. Hahaha~” Sangneul mencoba tertawa. Tapi yang ia dapatkan malah sakit hati. Sedangkan Kyuhyun, ia menyesal telah bertanya seprti itu.
“baiklah. Aku memang harus pulang. Hati-hati Kyuhyun-ah. Ah~ salam untuk ketiga bidadari kecilmu.”
“tunggu!”
“ne?”
“kemarin, saat kau pulang. Ketiga adikku menanyakanmu. Mereka mengatakan, jika mereka ingin kau datang lagi.”
“jinjja?”
“kau mau menemaniku menjamput mereka?” Tanya Kyuhyun.
“kau serius?” Tanya Sangneuk. Kyuhyun mengangguk.
“kajja.” Ajak Kyuhyun.

Ini pertama kalinya Sangneul berjalan kaki saat pulang. Selama ia sekolah, selalu ada sopir yang siap di tempat untuk menjemputnya. Tapi sekarang? Dengan halus, ia menyuruh sopirnya pulang dengan sedikit negosiasi. Ia yakin jika tidak begitu, sopirnya akan mengadu pada orangtuanya. Dulu Sangneul mengira jika pulang jalan kaki akan ada orang yang menculiknya. Tapi sekarang, entahlah. Berjalan di samping Kyuhyun, Sangneul merasa aman. Ia merasa Kyuhyun mampu melindunginya.
Suasana perjalanan mereka pun berdominansi dengan keheningan. Hanya ada beberapa suara. Itu pun saat Kyuhyun menanyakan apakah Sangneul haus. Selanjutnya hening. Sangneul juga gugup, karena jarak mereka berjalan satu sama lain sangat dekat. Sesekali tangan mereka bersentuhan dan itu membuat Sangneul harus menahan gejolak hatinya.
“eh?” Sangneul mendongak melihat Kyuhyun. Tapi namja itu malah fokus kedepan tanpa suara sepatah kata pun.
Bagaimana tidak? Mendadak Sangneul merasakan tangannya digenggam erat oleh Kyuhyun. Hangat dan nyaman. Itulah yang dirasakan Kyuhyun dan Sangneul. Sepertinya, warna yang cocok untuk menggambarkan suasana ini adalah warna pink.

“Sangneul eoni..” teriak mereka bertiga. Kyura, Ahmni, dan Kyuseong segera berhambur memeluk Sangneul.
“eoni.. bogoshippeo..” kata Kyura.
“hahaha~ padahal kita baru bertemu kemarin. Tapi, eoni juga merindukan kalian.”
Kyuhyun ikut tersenyum melihat mereka berempat. Bahkan raut sedih Sangneul tadi terganti dengan ini. Apakah mungkin, Kyuhyun juga menyukai Sangneul? Molla.
“oppa.. kenapa kau berdiri disitu? Jja~ kemarilah..” ajak Ahmi menggandeng tangan Kyuhyun.
“oppa.. bagaimana jika kita membeli ice cream? Kita jalan-jalan sebentar di taman.” Usul Kyuseong.
“aniya. Umma menyuruh agar sepulang dari sekolah kita langsung pulang.”
“eeeuhh.. ayo oppa.. sekali saja. Kita bertiga ingin jalan-jalan.”
“ne.. jebal oppa-ga..”
“eoni, bujuk Kyuhyun oppa agar mau..”
“ne?!” Sangneul terkejut. Membujuk Kyuhyun? Apa dia akan mau?
“tidak. Kajja kita pulang.” Ajak Kyuhyun.
“mungkin jalan-jalan sebentar tidak ada salahnya Kyuhyun-ah.” Sela sangneul.
“mwo?!”
“benar. Kajja eoni..” mereka bertiga menarik Sangneul agar berjalan lebih dulu bersama mereka. Meninggalkan Kyuhyun yang terbengong dengan tingkah adiknya.
“benar-benar mereka.” Kyuhyun menggeleng.

Sesampai di taman, yang jalannya searah dengan jalan pulang rumah mereka, ketiga adik bermarga Cho tersebut berhambur bermain sendiri. Mereka sengaja membiarkan oppa-nya berduaan dengan Sangneul.
Kyura, Kyuseong, dan Ahmi bermain kejar-kejaran dengan cerianya. Sangneul yang melihatnya hanya tersenyum melihatnya. Masa kecilnya tidak seperti itu. ia tidak memiliki teman luar. Bagaikan tinggal di kerajaan yang terpenuhi kebutuhannya, tapi seperti tinggal di penjara bagi Sangneul.
“kau mau aku belikan sesuatu?” Tanya Kyuhyun.
“tidak. Ice cream tadi cukup. Gomawoyo.” Jawab Sangneul.
“rumahmu pasti sangat ramai.”
“benar. Terkadang aku, noona, dan umma sampai jengkel dengan tingkah mereka bertiga.”
“lalu, bagaimana dengan appa-mu?”
“beliau bekerja du luar kota. Kota yang jauh. Mencari uang untuk biaya sekolah kami.”
‘aku benar-benar iri. Bahkan saat keluarga mereka hidup sederhana,’
“memangnya, kau berpisah dengan orangtuamu? Kemana mereka?” Tanya Kyuhyun hati-hati.
“Italy. Mereka ada disana.”
“oh..” Kyuhyun hanya bisa menanggapinya seperti itu.
“kya.. apa yang kalian lakukan! Jangan bermain air atau umma akan memarahi kalian!” Teriak Kyuhyun. Mau tak mau ia menghampiri ketiga adiknya.
“aish, oppa.. kami tidak akan basah kuyup.” Kata Kyuseong.
“ya! Tidak boleh. Kalau kalian seperti ini, oppa akan pulang lebih dulu.”
“kya! Oppa. Kau tega sekali dengan adikmu.” Cemberut Kyura.
“aniya. Oppa serius. Kajja. Lebih baik kita pulang. Oppa tidak mau umma cemas mencari kalian.”
“heum.. baiklah..” kata Ahmi.
Inilah sosok Kyuhyun yang dilihat Sangneul. Ia adalah kakak yang baik untuk adiknya. Melindungi dan menyayangi mereka dengan tulus. Walaupun dengan sedikit bentakan, tapi Sangneul yakin. Ada cinta didalamnya.

Nyonya Cho sangat ramah pada Sangneul. Bahkan Sangneul dipersilahkan untuk makan malam bersama. Pulang? Tentu saja Kyuhyun lah yang akan mengantarkannya. Karena dialah satu-satunya namja disini. Dan dikeluarga ini juga, Sangneul menemukan kehangatan. Kyuhyun benar. Suasana sangat ramai karena tingakh adik-adik Kyuhyun. Bahkan Ahra eoni juga ramah dengan Sangneul. Sesekali dia menggoda Sangneul dan Kyuhyun dengan menyebut mereka sebagai sepasang kekasih.
Sangneul membungkuk. Selesai makan malam, ia sempatkan mengobrol sebentar dengan keluar Cho. Dan lagi. Suasana hangatlah yang Sangneul dapatkan.
“aku pulang, bibi Cho. Ahra eoni.” Pamit Sangneul. Bagaimana dengan ketiga kembar? Mereka sedang fokus belajar di kamar.
“aku antar Sangneul pulang dulu, umma.” Pamit Kyuhyun.
“ne. hati-hati kalian.” Kata nyonya Cho.

Tidak seperti tadi. sekarang, Sangneul dan Kyuhyun mulai ada bahan untuk mereka obrolkan. Sesekali Sangneul tertawa pelan dengan tingkah Kyuhyun. Anggapan bahwa Kyuhyun itu tidak menarik di sekolah, itu salah. Mereka belum mengenalnya. Bahkan Sangneul menilai Kyuhyun itu menarik. Untuk itulah, ia menyukainya. Jatuh cinta? Tentu saja.
“aku ingin, kelak di masa depan aku memiliki keluarga sepertimu. Memiliki banyak keluarga. Jadi, rumah tidak akan sepi dan akan selalu ramai. Benarkan Kyuhyun-ah?” Tanya Sangneul.
“ne.” jawabnya. Kyuhyun merasa berbeda saat sangneul mengucapkan masa depan. Bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan masa depannya? Apakah ia masih bersama dengan Sangneul.
“bagaimana denganmu Kyuhyun-ah?”
“aku? A-aku sama sepertimu. Memiliki masa depan dengan banyak keluarga.”
“benarkah?”
“ne.”
“baguslah. Cita-cita kita sama.” Sangneul tersenyum.
Cukup! Kyuhyun tak tahan lagi. Ia yakin jika dirinya benar-benar jatuh cinta dengan yeoja bermarga Kang ini.

#CHU~
Sedikit susah memang. Karena posisi Kyuhyun yang memakai kacamata. Lagipula jika ia tak memakai, ia tak akan bisa melihat Sangneul dengan jelas.
“k-kau?”
“kau harus bertanggungjawab Kang Sangneul.”
“mwo?”
“aku telah memberikanmu ciuman pertamaku. Kau harus bertanggungjawab.” Kata Kyuhyun yang melihat kearah lain. Namja ini benar-benar malu dan merasa bodoh akan tindakannya barusan. Sedangkan Sangneul mengerjap-ngerjap. Cho Kyuhyun, namja pendiam di kelasnya tiba-tiba…
“tapi bagaimana denganku? Kau telah, telah mencuri ciuman pertamaku. Kau harus bertanggungjawab Cho Kyuhyun.” Kata Sangneul terunduk malu. Sontak Kyuhyun menoleh kearahnya. Benarkah yang ia dengar?
“kalau begitu, aku akan mewujudkan cita-citamu di masa depan. Kelak, di masa depan. Kau ingin memiliki keluarga yang banyak bukan? Aku bisa memberimu keluarga yang banyak.” Kyuhyun mencengkram erat kedua pundak Sangneul. Membuat yeoja itu mau tak mau menatap mata Kyuhyun dan wajah Kyuhyun yang terlihat serius.
Tahukah Kyuhyun, jika kata-katamu tadi membuat Sangneul panas dingin dan tidak bisa mengontrol debaran jantungnya. Memiliki keluarga banyak bersama Kyuhyun? Itu berarti, apakah di masa depan Kyuhyun akan menikahinya?


End.                      


Biodata penulis :
Nama               : Intan Novela
Alamat                        : Jetis Rt 2/ VII, Jati, Jaten, Karanganyar.
No. HP            : 087836054815

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...