Title : My Destiny
Author : Intan Novela
Cast : Kang Sangneul, Cho Kyuhyun, and Other
Cast
Genre : Sweet Romance
Rating : PG-17
-ini gila..!! arrgghh..!!!-
Story
si~jak!
Seperti
malam sebelumnya. Malam ini tetap cerah. Tuhan tak pelit untuk menyuruh bintang-bintang
tampil. Memberikan kesan gemerlap alami. Dengan angin yang alami, suara
dedaunan dan ranting yang bertrubukan dengan angin. Bukankah itu alami?
Namun
bukan manusia jika tak ingin seperti Tuhan. Manusia terkadang pikiran dan hati
tak sejalan dengan apa yang diciptakan Tuhan. Padahal, ciptaan Tuhanlah yang
paling sempurna.
-My
Destiny-
Musik
malam berdentum keras selaras dengan lampu berwarna-warni. Menghanyutkan insan
manusia yang asik dengan gerakannya masing-masing. Bahkan jika kau tak bisa
menari pun, itu tak masalah. Asal kau menggoyangkan tubuhnya dan tak diam
seperti patung, kau tidak akan merasa aneh dari beberapa orang di sekitarmu.
Yeoja
yang duduk sendirian itu hanya bisa tersenyum manis melihat teman-temannya yang
bergoyang. Ia tak mau turun. Selain ia tak berminat, ia sebenarnya lebih sayang
dengan wine yang ia pegang saat ini. Entah apa yang membuatnya begitu, yang
jelas ia menikmatinya. Jangan tanya ia sudah habis berapa? Yang jelas, saat
teman-temannya menghampirinya selesai dari bergoyang, mereka terkejut.
“Ya!
Sangneul-ah, kau sudah habis berapa? Huh?” tanya Eunbi. Tapi sang empu yang
ditanya hanya tersenyum tak jelas. Ia yakin jika temannya ini sudah mabuk
berat.
“Omo..
kenapa kita bisa sampai lupa? Aish, ini sangat berbahaya,” sela Yunah.
“Paman.
Kami tadi sudah berpesan padamu. Jangan berikan dia lebih dari 2 botol. Kami
sudah menjadi pelangganmu tapi kau masih belum juga sadar akan resikonya ini,”
Eubi kesal dengan pelayan minuman yang ada di club malam ini.
“Ah
mianhe, aku tadi harus melayani pengunjung lainnya. Aku tak sadar jika ada
botol lain yang ada di mejanya. Aku menyesal,”
“Aish,
eotteohkeyo? Lebih baik kita bawa Sangneul pulang Yunah-ah,”
“Kau
benar. Aku takut dia akan berbuat macam-macam,” Yunah tampak bergidik ngeri
mengingat apa yang dilakukan temannya ini. Sesuatu yang memalukan dan juga
sangat berbahaya.
“Ya!
kalian mau membawaku kemana huh? Aku belum menghabiskannya. Kita akan rugi jika
tidak menghabiskannya. Ya! Eunbi-ah Yunah-ah kau dengar aku tidak? Hahaha~”
“Aish,
dia benar-benar sudah mabuk,” Yunah tampak kesulitan saat membantu Sangneul
berdiri.
“Cho
Yunah, kau mau membawaku kemana? Aku belum turun ke lantai dansa. Ayo kita
berdansa,”
Eubi
dan Yunah hanya menghela nafas berat dan menggeleng. Mereka menyesal karena
meninggalkan Sangneul sendirian.
“Sangneul-ah,
kau jangan banyak bergerak,”
“Ya!
Aku tidak bergerak. Aku diam. Lihat ini,” Sangneul menutup matanya dan diam.
“Ck.
Dasar. Awas saja jika kau sudah sadar,” ancam Eunbi.
“Hahaha~
dia akan memakai alasan jika yang seperti ini bukan dia,”
“Ya
ya ya.. dia akan mengatakan bahwa dirinya sedang dirasuki hantu mabuk club ini.
Dasar konyol,”
“Aigoo..
Eubi-ah, kau tunggu disini ya?”
“Mwo?
Kau mau kemana?” tanya Yunah.
“Aku
ingin ke kamar mandi. Hanya sebentar.” Eunbi segera melepas Sangneul dan pergi.
“Bocah
itu. Omo. Sangneul-ah, jangan terlalu banyak gerak. Aish.” Yunah mencoba meraih
ponselnya mencoba menelfon seseorang.
“Hash..
disini terlalu bising. Sangneul-ah, kau tunggu disini ne? Aku akan menelfon
seseorang,” Yunah menyandarkan Sangneul pada dinding.
“Ne,”
Sangeul mengiyakan. Ia seperti anak yang menurut. Tapi masih dengan pengaruh
alcohol.
“Ingat.
Tunggu disini. Jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali,” dengan lucunya
Sangneul mengarahkan tangannya dengan symbol hormat ke Yunah.
“Siap
kapten,”
“Ck,
dasar,” tinggal Yunah.
Sangneul
mengangguk-angukan kepalanya. Memang, musik dari dalam masih terdengar. Dan
Sangneul merasa berputar-putar.
“Aku
mengantuk. Kenapa semuanya berputar-putar? Pulang…” Sangneul berdiri dengan
sedikit tak seimbang. Ia tak sadar jika berjalan keluar.
“Heum,
dingin. Yunah-ah, Eunbi-ah.. aku pulang.. kalian hati-hati ne? Aku baik-baik
saja? Hahaha~” Sangneul terlihat bodoh dengan berbicara sendiri dan melambaikan
tangan ke udara.
“Dimana
taksi? Aku lelah untuk berjalan,” Sangneul berjalan gontai menuju beberapa
taksi yang terparkir.
“aku
pilih taksi yang mana? Semuanya terlihat bagus,” Sangneul menghitung ada berapa
taksi disini. “Banyak sekali..” sebenarnya, jika Sangneul tak mabuk, disini
hanya ada satu taksi. Mungkin efek alkohol yang ia mnum sudah mulai meracuni
otaknya.
“ajussi..
antar aku pulang..” kata Sangneul.
“Kemana
aku harus mengantarmu, nona?” tanya sopir taksi.
“Ayo
jalan.. aku akan memberi tahumu jika taksi ini sudah jalan,”
“Ah
baiklah,”
Sementara
di club, dua yeoja ini terlihat panik. Ia mencari Sangneul dimana pun. Mulai
dari dalam club, toilet, kamar, maupun halaman club. Tapi hasilnya nihil.
“Coba
kau hubungi nomorny,” suruh Yunah.
“Aku
sudah mencobanya berulang-ulang Eunbi,”
“Ya!
Aku baru ingat. Sebelum kita berangkat, Sangneul tadi mengatakan jika ponselnya
mati,”
“Mwo?
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bisa
saja ia,”
“Ya!
Jangan berpikiran yang macam-macam. Aku yakin Sangneul akan baik-baik saja,”
“Aku
harap begitu,”
Taksi
yang ditumpangi Sangneul terus melaju. Sesekali sopir taksi tersebut bertanya
pada Sangneul kemana tujuannya. Tapi Sangneul hanya menyuruhnya diam dan diam.
Hingga taksi itu berhenti.
“Nona,
dimana alamatmu?” tanyanya.
“Aku
tidak tahu..” jawab Sangneul.
“Ck.
Kalau begitu, apa kau bawa ponsel?”
“Kau
mau mencuri ya? Ck, itu perbuatan dosa,”
“Mwo?
Aku hanya ingin menghubungi keluargamu,”
“Ini..
ambil saja kalau perlu,”
Sopir
itu menggeleng.
“mMwo!
Nona ponselmu mati,”
“Ah
benar. Ponselku memang mati. Lalu bagaimana?” tanya Sangneul yang jauh dari
kata panik. Ia malah menjatuhkan kepalanya di jok mobil dan tidur.
-My
Destiny-
Lagi-lagi
Tuhan tak pelit. Ia mengirimkan suara-suara imut dari hewan berbulu.
Suara-suara merdu dari burung yang bertengger di pohon. Dan Tuhan juga tak
membiarkan suara-suara itu bernyanyi sendirian. Tuhan juga memberikan pasangan
untuk hewan-hewan tersebut. Ia sungguh sangat adil.
Berbeda
dengan suara yang ada di ruang kamar ini. Hanya terdengar dengkuran kecil dan
teratur. Lambat laun, dengkuran itu mulai hilang karena pemilik suara dengkur
itu sedikit demi sedikit terbangun.
Sangneul
mengerjap-ngerjapkan matanya. Mencoba beradaptasi dengan sinar yang masuk
melalui korden yang sudah dibuka. Ia merenggangkan kedua tangannya.
“Ouhh..”
desahnya. Ia merasakan ngilu di kepalanya. Apa yang terjadi?
“Dimana
aku?” Sangneul melihat ke semua arah kamar ini.
“ini
bukan kamarku. Ini…” Sangneul melebarkan matanya. Ini memang bukan kamarnya.
Lalu ini kamar siapa? Dimana dia? Apakah dia? Sangneul segera melihat dirinya
sendiri. Masih lengkap pakainnya. Tapi kenapa ada yang ia rasakan berbeda. “Aku
dimana? Eunbi-ah.. Yunah-ah,” panggilnya.
Ia harap ia berada di apartemen salah satu temannya. Tapi sepertinya
tidak. Ia yakin kamar kedua sahabatnya bukan seperti ini.
Sangneul
turun dari ranjang. Ia harap ia bisa segera keluar dari kamar ini. Dimulai dari
kepalanya yang melihat keluar ruangan. Sepi. Sangneul segera berjalan ke
ruangan lainnya.
“Itu
dia pintunya.” Gumam Sangneul. Ia berjalan jinjit agar mengurangi volume
langkah kakinya. Sedikit lagi.. tinggal beberapa langkah.
“Kau
mau kemana?” sebuah suara mengejutkan dan menghentikan langkah kaki Sangneul.
Ia takut berbalik. “Setelah kau melakukan sesuatu padaku, kau mau pergi begitu
saja, huh?”
“Aku
melakukan apa?” tanya sangneul sambil berbalik.
“Sek-seksi
sekali..” gumam Sangneul.
“Kau
bilang apa?”
Sangneul
terlalu terkejut dan terpesona. Bahkan ia tak menyangka dengan apa yang dikatakan
bibirnya barusan.
“Memangnya
aku melakukan apa tuan?” tanya Sangneul balik.
“Kau
tidak ingat?” tanyanya. Sangneul menggeleng. “Ck. Bodoh. Lihat ini,”
“Ya!
Apa yang kau lakukan? Dasar pria mesum!” Sangneul mengalihkan pandangannya. Apa
yang akan kau pikirkan selain sesuatu yang tidak ingin terjadi padamu jika ada
pria memakai handuk dalam bentuk pakaian dengan keadaan rambutnya yang masih
basah.
“Memangnya
apa yang ingin kulakukan? Lihat ini,”
“SHIRREO!!
Aku tidak akan melihatnya. Aku hanya akan melihatnya dengan seseorang yang
sudah menikahiku,”
“Mwo?
Ck. Lihat! Lihat leherku bodoh! Kau pikir aku mau telanjang di depanmu, huh?!
“Mwo?”
perlahan Sangneul melirik pria yang ada di depannya ini. Benar. Ia tidak
telanjang. Hanya menyingkirkan handuk yang menutupi lehernya tadi. tunggu,
kenapa dengan lehernya?
“Apa,
kau digigit nyamuk semalam?” tanya Sangneul.
“Jadi
kau benar-benar tak ingat? Kau tak ingat semuanya?”
“ne?”
“Ini
tidak terlihat seperti gigitan nyamuk. Tapi ini, lebih seperti hisapan dan
gigitan dari bibir manusia.”
Butuh
beberap detik untuk mencerna kaliamt pria ini. Hingga..
“ANDWE!!!!”
teriak Sangneul. Bahkan pria itu harus menutup telinganya. Sangneul menutup
mulutnya. Tidak mungkin ia melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin.
Sangneul
menunduk. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Flash
back.
Sopir
taksi tersebut pasrah. Penumpangnya ini sepertinya sudah mabuk berat. Bahkan
untuk menjawab pertanyaanya tentang dimana alamatnya, Sangneul tak bergeming.
“Aku
dimana?” tanya Sangneul.
“Maaf
nona. Aku harus membawamu ke rumahku,”
“Hahaha~ tuan sopir, siapa namamu? Kau baik sekali,”
“Kyuhyun.
Cho Kyuhyun. Itu namaku. Lalu, siapa namamu nona?”
“Kang-Sang-neul.
itu namaku.. hoooahh.. aku mengantuk,”
Sopir
yang bernama Kyuhyun itu hanya bisa pasrah. Bahkan rangkulan pada yeoja yang
baru ia kenal ini sedikit terlepas karena Sangneul banyak gerak.
“Sangneul-ssi,
lebih baik kau istirahat di kamarku. Mungkin pagi hari kau sudah sadar.”
Kyuhyun meletakkan Sangneul di atas ranjangnya secara hati-hati.
“Tidurlah
nona Kang.” kata Kyuhyun. Ia pergi keluar, tapi langkahnya terhenti saat
tangannya tertahan sesuatu.
“Kau
mau kemana? Aku tidak bisa tidur sendirian,”
“Mwo?”
teriak Kyuhyun pelan. Apa yeoja ini gila?
“Ya!
Apa yang kau lakukan?” teriak Kyuhyun. Secara tiba-tiba Sangneul menariknya
hingga ia terjatuh di atas ranjang.
Falsh
back end
Sangneul
merutuki dirinya sendiri. Ia ingat kejadian semalam. Memang dia pelakunya.
Bagaimana bisa ia melakukan hal seperti itu? Pantas saja saat bangun ia
merasakan ada yang aneh. Tepatnya di bibirnya. Ia merasa bibirnya bengkak.
Seperti habis melakukan ciuman, dan… arrgh bahkan sangneul tak mau
membayangkannya.
“Mianhe
Kyuhyun-ssi,”
“Ck,
jadi kau sudah ingat namaku, Kang Sangneul,”
“Mianhe..”
Sangneul mengatupkan tangannya dan menatap Kyuhyun dengan wajah memelas.
“Huh.
Untung aku tidak terbawa suasana. Jika iya,“
“Jadi
semalam kau menikmatinya?”
“Mwo?
Huh, bagaimana pun aku ini pria normal. Sangat normal. Gigitanmu enak juga,
walaupun hanya di leher. Harusnya kemarin malam aku tidak perlu menahan diri.
Aku bisa saja,“
“Ya!
Apa yang kau katakan? Kau mau mencuri kesempatan pada orang mabuk?”
“Hey..
secara logika, aku ini adalah korban. Dan kau pelakunya. Kau yang memperko-“
“Ya!
Hentikan!” Sangneul menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
Sejujurnya ia kesal dan malu dengan pria yang bernama Cho Kyuhyun ini.
“Jadi,
kau harus bertanggung jawab!”
“SHIRREO!!!”
Sangneul segera berlari ke pintu depan.
Kyuhyun
hanya menghela nafas. Ia bahkan tak berminat untuk mengejar Sangneul. Lagipula,
ia hanya orang asing. Toh, ia sendiri tak rugi sebagai korban. Hanya saja lehernya
memang sudah tersentuh dengan yeoja yang bermarga Kang tersebut.
“Kang-Sang-Neul.”
eja Kyuhyun. Lalu bibirnya terangkat sebelah. Sebuah senyum yang sulit
diartikan.
END
Jangan
bilang End-nya gantung. Khkhkh~ see u next time. ^^
Komentar
Posting Komentar