Langsung ke konten utama

Magic Love [oneshoot]



Title     : Magic Love
Author : Intan Novela
Cast     : Cho Kyuhyun, Kang Sangneul, and Other Cast
Genre  : Sweet Romance
Rating : PG-17

“Present to all”


Story si~ jak!

            Seperti memunyai dunia sendiri, seorang Cho Kyuhyun sedang melamunkan seseorang. Orang yang selama ini sudah membuat jantungnya berdegub melampui batas normal. Seseorang dengan kesempurnaa menurutnya. Benar. Cho Kyuhyun sedang jatuh cinta.
            ‘Aku beruntung sudah dilahirkan di dunia ini,’ batinnya.
            Ia menyeruput minuman jus alpukatnya hingga seruputan terakhir. Berdiri dari tidurannya di atas rumput hijau dan menepuk-nepuk pantatnya yang mungkin terkena debu.
            “Sudah cukup untuk pengamatan hari ini,” gumamnya.
            Kyuhyun merenggangkan tangannya dan membenarkan posisi kacamatanya. Tanpa sadar, Kyuhyun merasakan sesuatu menganai kepalanya.
            “Hai anak aneh. Apa yang kau lakukan sekarang eoh? Mengamati Moon ra Eoni lagi? Apa kau menyukainya? Aku bisa membantumu dengan mengatakan padanya jika ada teman sekelasku yang menyukainya,”
            “Mwoya? A-aniyo. Aku sedang tidak mengamati Moon ra eoni. Aku sedang, eum… sedang,” Kyuhyun tampak mencari alasan.
            “Lihat wajahnya yang terlihat bodoh itu,” gumam Sangneul. Seseorang yang telah melempar botol plastik bekas minumannya ke kepala Kyuhyun.
            “Sudah. Kita sudah sering mem-bully-nya Sangneul-ah. Masih ada banyak waktu untuk mem-bully-nya,”
            “Kau benar. Terlalu lama meminta jawabannya. Hahaha,”
            Sangneul dan gerombolannya meninggalkan Kyuhyun yang merunduk seperti ketakutan. Namja ini sepertinya belum sadar jika Sangneul dan gerombolannya sudah pergi sejak tadi.
            “Sial! Dan aku menyesal kenapa dia satu kelas denganku!” gumam Kyuhyun.
            Siapa sangka jika Kyuhyun adalah daftar siswa yang pantas untuk di bully. Sebenarnya bukan dalam arti pantas atau tidak. Kyuhyun termasuk daftar sisa yang pandai dan disegani oleh sisa siswi lainnya. Ia murah senyum dan suka membantu. Tapi keramahannya tersebut pantang untuk yeoja yang bernama Kang Sangneul. Yeoja yang menurutnya angkuh dan sombong. Tidak ada kebanggaan pada dirinya selain kecantikan. Oke, Kyuhyun akui jika Sangneul itu cantik. Tapi menurutnya, Kim Moon ra yang notabennya adalah sunbe-nya lebih canti ketimbang Moon ra. Tidak ada yang tahu jika Kyuhyun mengagumi sosok Moon ra kecuali Sangneul dan gerombolannya.

Magic Love

            Sangneul tengah bermain-main dengan bublle-nya. Rasa manis yang sudah hilang sejak tadi, tapi Sangneul masih enggan untuk membuangnya. Ia masih sangat sayang jika harus membuangnya. Lagipula, masih ada hal yang menarik dengan permen karet ini.
            “Cho Kyu!!!” panggil Sangneul.
            “Mwo? Kau panggil aku tadi apa?”
            “Cho Kyu. Waeyo?”
            “Benar-benar. Sekarang kau mau apalagi, huh? Dimana gerombolanmu?” Kyuhyun menoleh ke kanan dank e kiri.
            “Waeyo? Apa kau juga tertarik dengan Minna dan Karin?” goda Sangneul.
            “Mwoya? Bahkan aku tidak tertarik sama sekali dengan kalian,” Kyuhyun melanjutkan langkahnya.

Puk
            Mata Kyuhyun melebar. Tidak mungkin jika perkiraannya salah. Kyuhyun memegang kepala belakangnya. Dan, lengket.
            “Kau?” pekik Kyuhyun.
            “Kau tampak tampan dengan hiasan di kepalamu,” kata Sangneul dengan santainya.
            “Ya! Kang Sangneul! Apa yang kau lakukan huh? Rambutku!”
            “Sepertinya aku harus menyusul Minna dan Karin,”
            “Kau mau kemana huh!!” cegah Kyuhyun mencengkram erat pergelangan tangan
            “Mwo?”
            “Kau pikir kau ini cantik, huh? Kukira mata namja itu yang buta atau perlu dibawa ke dokter mata. Bahkan jika pun kau cantik, tapi tingkah lakumu sangat jauh dari paras yang kau miliki!”
            “Kau,” gumam Sangneul.
            “Kenapa? Apa aku salah jika mengagumi sosok Moon ra noona? Bagiku dia adalah wanita tercantik di muka bumi ini. Dan berhentilah menggangguku Kang Sangneul! Pikirkan sekolahanmu! Ada banyak nilai C yang kau dapatkan!”
            “Lepaskan aku!”
            “Tidak! Yeoja sepertimu harus tahu apa itu sopan santun. Apa orangtuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun?”
            “Apa hakmu membawa kata orangtua disini? Sebelum kau berbicara, sebaiknya pikirkan dulu perasaan orang lain Cho Kyuhyun!” Sangneul mengambil nafas dan mengeluarkannya berat. Dan sekali hentakan, ia melepas genggaman Kyuhyun. “Aku merasa dunia ini tidak adil!” tatap Sangneul tajam.
            Kyuhyun menatap punggung Sangneul yang semakin menjauh. Langkahnya pun terlihat tergesa-gesa. Satu hal yang Kyuhyun simpulkan, jika Sangneul menangis. Terlihat bagaimana cara ia berjalan.
            “Kau sendiri yang membuatnya tidak adil,” ucap Kyuhyun pelan.
            “Aish, padahal aku berniat untuk memanjangkan rambut ini demi Moon ra noona. Gadis sialan!”
***
            Sementara di sisi hati manusia yang lain, Sangneul terlihat mengumpat Kyuhyun dalam hatinya. Apakah didalam otaknya hanya ada buku dan buku? Atau mungkin ia hanya bertopeng jika dalam hatinya hanya ada kata yang dapat ia eja tanpa menggunakan otak yakni Kim Moon ra. Sangneul terus mengusap air matanya. Sial! Kenapa ini tidak berhenti? Terakhir yang ia ingat adalah, menangis di masa lalu.
            “Tahu apa dia tentang orangtuaku?” Sangneul mendongak ke atas. “Maaf. Kalian jadi tidak tenang di surga. Aku berjanji akan memukul wajahnya dengan salah satu anggota tubuhku!” janji Sangneul.
            “Sangneul-ah….” Panggil Karin dan Minna bersamaan.
            “Disini rupanya. Kami mencarimu. Bukankah tempat pertemuan kita harusnya di depan gerbang? Kenapa malah toilet belakang yang terdengar angker ini. jja~ kita pergi. aku sudah merasakan hawa yang tidak mengenakkan disini,” Karin melihat sekeliling.
            “Huh, baiklah,” setuju Sangneul. Untuk saat ini sepertinya ia tidak ingin menceritakan kepada Karin dan Minna.
            “Apa kau berhasil menempelkan permen karet di rambut Kyuhyun?” tanya Minna.
            “Eu, itu..”
            “Jangan bilang kau gagal. Kau tidak ingat dengan taruhan kita. Jika gagal, kau harus mentraktir kami selama dua hari dan kau harus mau menerima tawaran ciuman dengan Siwon. Aku heran kenapa dia ingin sekali berciuman denganmu,” kata Karin.
            “Ya! kalian ini bicara apa, huh? Siapa yang tidak akan menolak berciuman dengan Siwon? Lagipula, hanya dua hari aku mentraktir kalian. Itu adalah masalah kecil bagiku! Tempat sampah adalah tempat paling terbaik bagi permen karet tersebut daripada rambut kotor milik Kyuhyun!”
            “Mwo?? Kau serius? Apa kau tidak sedang sakit Kang Sangneul?” tanya Minna.
            “Setelah kupikir-pikir, Siwon cukup tampan. Lagipula, dia memiliki bibir yang sangat seksi sekarang. Beruntungnya dia mengejarku,” Sangneul tersenyum miring.
            “Padahal dia sendiri yang menolaknya. Kenapa dia malah menerimanya? Besok adalah hari besar. Bukan begitu Karin-ah?” tanya Minna.
            “Ne,” jawab Karin.

Magic Love

            SMA Kyunghee dihebohkan dengan dua insan yang kini tengah saling berhadapan. Kang Sangneul dan Choi Siwon. Dua orang yang menjadi orang paling berpengaruh di sekolah. Siwon yang pewaris tunggal perusahaan Choi dan Sangneul, yeoja yang bisa dikatakan bad girl bagi orang umum. Percayalah jika itu hanya kamuflase yang diciptakan Sangneul sendiri.
            “Jadi, kau menerima ciumanku? Jika pun begitu, kau juga harus mau menjadi pasanganku,” kata Siwon dengan wajah yang sudah sangat melebihi batas yang bernama berbunga-bunga.
            “Aku punya pilihan apa? Sepertinya tidak ada,”
            Inilah yang disukai Sangneul oleh Siwon. Yeoja yang santai dan membuat orang penasaran.
***
            Di tempat lain, tepatnya di lorong kelas. Kyuhyun dengan seribu umpatan pada Sangneul karena rambutnya yang terpotong lebih pendek dari kemarin. Jika kemarin rambutnya usdah hampir menutupi leher dan telinganya. Sekarang Kyuhyun harus dengan ikhlas memotong rambutnya dengan memperlihatkan leher dan telinga. Mau tak mau ia harus menyesuaikan bentuk wajahnya. Walaupun yang di otong hanya beberapa. Sebenarnya permen karet kemarin hanya menempal sedikit. Tapi karena tangan Kyuhyun yang ingin menghilangkannya, permen karet tersebut malah menyebar.
            “Ada apa disana? Apa ada demo lagi? Ck ck ck, anak sekolah sekarang. Mereka ingin berdemontrasi tanpa argumentasi yang jelas,” Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi rasa penasaran juga muncul.
            “CIUM CIUM CIUM,”
            ‘Apanya yang dicium? Baru kali ini ada demontrasi menggunakan ciuman, ‘ batin Kyuhyun.
            “Sekarang waktunya. Ayo cium,” kata salah satu dari rombongan.
            “Mungkin Sangneul memang sengaja tidak menempelkan permen karet tersebut ke rambut Kyuhyun. Siapa pun tidak akan menolak jika berciuman dengan Siwon,” bisik Minna.
            Good! Sayangnya bisikan tersebut didengar oleh Kyuhyun. Ia ingin mendapatkan dua-duanya? Licik sekali dia? Mungkin itulah pendapat Kyuhyun terhadap Sangneul.
            Hanya tinggal beberapa centi lagi bibir mereka saling bertaut. Beberapa centi lagi. Tapi sayangnya, suara lengkingan tegas menghentikan aktivitas mereka dan membuat semua orang yang berkumpul tersebut ikut diam.
            Semuanya menoleh ke sumber suara tadi.
            “Aku bilang hentikan!” Kyuhyun masuk ke tengah-tengah.
            Sangneul melebarkan matanya dan Siwon memasang muka malas. Sepertinya sosok Cho akan berpidato.
            “Kang Sangneul. Bagaimana menurutmu? Apa potongan rambutku terlihat cocok? Atau malah lebih cocok yang kemarin?” tanya Kyuhyun.
            Sangneul meneguk salivanya berat. Ia ketahuan berbohong terhadap Minna dan Karin. Tapi ada kelegaan besar di hatinya.
            “Jadi kau berhasil Sangneul-ah? Kenapa kau tidak jujur pada kami?” tanya Minna.
            “Sangneul-ah, bisakah kau menjelaskan ini semua?” tanya Karin bergantian.
            “Itu tidak penting! Hei namja berpidato. Masuk ke kelasmu dan baca bukumu!” geram Siwon.
            “Cah! Aku memang akan masuk ke kelas. Tapi sebelumnya, aku harus membawa pasangan ciumanmu ini,” Kyuhyun dengan cepat menarik tangan Sangneul keluar dari kerumunan. Meninggalkan beberapa kerumunan tersebut dengan wajah terbengong-bengong.
            “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Karin yang frustasi.
***
            Pertama kalinya Kyuhyun menyeret Sangneul seperti ini. Bahkan Sangneul sangat asing dengan sifat Kyuhyun sekarang. Jauh dari kata Kyuhyun yang ia kenal. Sekarang, ia sudah mulai berani dengannya.
            “Kau mau membawaku kemana, huh?” tanya Sangneul. Ia akui jika langkah ini terlalu lebar untuk ukuran kakinya.
            “Diam!”
            “Mwo? Cah. Bahkan sekarang kau mulai berani denganku,”
            Shit! Sepertinya Sangneul salah ucap. Ia paling benci dengan posisinya sekarang. Terkurung diantara lengan-lengan Kyunhyun. Bahkan sekali pun Kyuhyun memakai kacamata, Sangneul tahu jika sekarang Kyuhyun sedang menatapanya dengan tatapan yang sangat tajam.
            “Jadi itu alasanmu menempelkan permen karet ke rambutku! Huh?”
            “Tidak juga,” kata Sangneul dengan santainya.
            “Kau melakukan dua-duanya agar mendapat untung besar. Licik sekali,”
            “Mwo? Jika kau mengatakan padaku kalau aku bertindak tanpa berpikir, justru kau yang berucap tanpa berpikir juga!”
            “jadi kau ingin mengalihkan pembicaraan ini?”
            “Aku tidak mengalihkannya Khyunhyun-ssi! Pembicaraan ini memang ada sangkut pautnya. Kau yang memulai kenapa aku bertindak seperti ini!”
            “Apa?”
            “Berhentilah menjadi kebanggan kelas! Kau tidak tahu bagaimana rasa keterpurukan itu. Dan berhenti menilai bagaimana tingkah kesopananku!” Sangneul mengambil nafas dan membuangnya berat.
            “Aw!! Ya! Apa yang kau lakukan huh?” Kyuhyun mengangkat kaki kanannya.
            “Memberimu pelajaran,”
            “Benar-benar. Apa dia ingin membuatku tidak bisa berjalan?” umpat Kyuhyun.
***
           
            Sangneul terus menutup telinganya sejak tadi. Sejak kedua sahabatnya menanyakan insiden gagal cium tadi. Bukannya apa-apa. Ia malas saja menjelaskan. Dan keduanya tetap saja memaksa. Bahkan ia tak konsen tentang apa yang sedang dijelaskan gurunya sekarang.
            “Kenapa? Atau jangan-jangan kau menyukai Kyuhyun?” pertanyaan terakhir dari Minna.
            “Ya! Hentikan! Sudah kubilang kalau aku tidak menyukai Siwon. Kalau aku mengatakan aku menyukai Kyuhyun, apa kalian bisa diam? Kepalaku saat ini sedang pusing!!” pekik Sangneul.
            “Ada apa nona Kang? Kau bilang kau menyukai Kyuhyun? Ah, kalau begitu, kau yang berperan sebagai putri tidurnya. Eunsook-ssi, catat Kang Sangneul sebagai pemeran wanitanya,”
            “Mwo?” Sangneul terkejut. bahkan ia tidak sadar apa yang barusan ia ucapkan. Ia hanya menatap kedua sahabatnya yang lebih shock darinya.
            “Sangneul-ah, jadi benar kau menyukai Kyuhyun?”
            “Mwo?” pekik Sangneul. Dengan gerakan lambat, Sangneul melihat ke arah bangku Kyuhyun. Jiah, Kyuhyun sedang menatap keluar jendela. Tapi ia yakin jika Kyuhyun mendengarnya.

            Sangneul terus memohon pada guru Kim wali kelasnya untuk membatalkan dirinya sebagai pemeran wanita dalam drama putrid tidur. Segala alasan Sangneul keluarkan demi pembatalan. Mulai dari dia yang tidak bisa acting, demam panggung, sakit tenggorokan, bahkan Sangneul samapi mengaku jika dia sedang bermasalah dengan Kyuhyun. Tapi tetap saja guru Kim tidak mau.
            “Dengar Sangneul, masalah drama ini harusnya sudah Ibu bicarakan satu minggu yang lalu. Tapi karena alasan tertentu, baru minggu ini kita bisa membicarakannya. Kau tahu bukan, jika ini adalah acara 2 bulan sekali. Dan kelas kitalah yang mendapatkan gilirannya. Bahkan tadi kau bilang, kalau kau menyukai Kyuhyun. Pasti jika kalian menjadi couple akan sangat cocok. Mohon partisipasinya Sangneul. Hanya tinggal 2 minggu lagi. Bahkan tidak setiap hari kita latihan,” guru Kim menepuk bahu Sangneul. Jika sudah seperti ini, akan sulit untuk Sangneul menolaknya.
            Berperan menjadi putri tidur dan Kyuhyun menjadi pangerannya? Bukankah adegan terkahirnya adalah….
            “Aniya aniya aniya. Bahkan aku tidak ingin membayangkannya,” Sangneul menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Benar itu?”
            “Aigoo.. kau mengagetkanku!”
            “Ish. Jadi itu benar. Jika kau diam-diam menyukaiku. Apa bentuk pem-bully-anmu itu sebagai bentuk backstreet terhadapku?”
            “Mwo? Aku yakin tadi aku sedang kemasukan hantu sekolah ini. Kau jangan percaya diri dulu Cho Kyuhyun!” Sangneul berlalu. Tetapi baru langkah keempat, ia berbalik. “Siapkan mentalmu untuk berpasangan denganku!”
            “Selalu bermasalah dengannya. Bahkan akhir-akhir ini aku jarang mengamati Moonra noona,” Kyuhyun menatap lurus punggung Sangneul. Selalu seperti ini. Selesai mengumpat, Kyuhyun akan menatap punggung Sangneul samapi tak terlihat.

Magic Love

            Hari pertama latihan dimulai. Semuanya yang bersangkutan datang. Baik pemain pendukung, maupun kru yang bertugas. Sangneul sendiri heran, kenapa SMA kyunghee memunyai tradisi seperti ini. Tapi untunglah, latihan awal tidak ada adegan bersama Kyuhyun. Hingga latihan bagian akhir yang mampu membuat Sangneul merona merah. Termasuk juga Kyuhyun.
            “Hentikan! Aku bilang hentikan! Sutradara, katakan cut!” teriak Sangneul.
            “Sangneul-ah, kau kenapa? Kita belum memulai adegan kiss kalian,” kata guru seni, yang lebih akrab dipanggil sutradara Hong.
            “A aku mau ke toilet!” kata Sangneul yang beralasana. Sebenarnya ia ingin menstabilkan detak jantungnya. Dan juga keringat dinginnya.
            ‘Dia kenapa?’ tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri.
***
            Sementara Sangneul mengunci rapat pintu toilet. Ia bersandar pada pintu dan meletakkan tangan kanannya ke dada bagian kiri. Benar-benar sangat cepat. Bahkan ia sendiri heran.
            “Ada apa denganmu Kang Sangneul? Ini tidak seperti dirimu. Keluarkan sisi bad girl-mu walaupun hanya kebohongan,”
***
            Latihan kedua, tetap sama saja. Tidak ada perubahan. Sangneul terus menolak untuk melakukan adegan kiss tersebut. Walaupun itu hanya d rekayasa. Kyuhyun hanya seolah-olah mendekatkan wajahnya dan itu pun sudah mampu membuat penonton tertipu.
            “Aku harus pulang. Aku lupa jika masih ada tugas yang harus kuselesaikan,” pamit Sangneul cepat-cepat,”
            “Ada apa dengan anak itu? Apa susahnya tidur sambil menutup mata?” kata sutradara Hong.
            Tanpa disadari semua, ternyata Kyuhyun juga ikut pulang tanpa pamit. Jika terus seperti ini, kapan drama ini akan kelar? Hanya tinggal 3 kali latihan  dan Sangneul belum apa-apa.
***     
            Sangneul terus berjalan tanpa melihat ke arah mana ia tuju. Pikirannya sangat kacau. Ia masih ingat betul bagaimana tatapan Kyuhyun padanya tadi. Semua orang mengira jika Kyuhyun hanya mendekatkan wajahnya. Tapi bagi Sangneul, Kyuhyun seperti benar-benar akan menciumnya.
            “Aku menyesal kenapa menerima tawaran ini. aish aish aish…” injak Sangneul pada tanah kosong.
            Sangneul melihat keadaan sekitar. Ia baru sadar jika ia berjalan ke arah toilet belakang sekolah. Yang Karin bilang jika angker. Dan keadaan sekarang adalah gelap gulita. Kenapa Sangneul selalu menyadari sesuatu di akhir?
            “Umma,” gumamnya. Baik, ia takut akan kegelapan.

SREK
            Sangneul menoleh cepat. Suara apa tadi? seperti suara langkah kaki yang diseret.
            “Umma,” panggilnya. Sangneul duduk berjongkok sambil menutup telinganya. Ia benar-benar takut sekarang. “Umma, appa,” lanjutnya.
            “Kau kenapa?” tanya suara yang sangat Sangneul kenal. Sangneul mendongak dan menatapi sosok Kyuhyun yang kurang jelas karena penerangan yang tidak mendukung.
            “Kyuhyun,”
            “Ne? Kau kenapa?” tanya Kyuhyun lagi.
            “Syukurlah kau disini,” Sangneul merangkul lengan Kyuhyun erat.
            “Ya, aku disini,”
            HENING!
            Keduanya sama-sama diam tak bersuara. Sangneul masih menenangkan dirinya sendiri tentang rasa takutnya tadi. terbukti dengan ia menmabah etaran pada pergelangan Kyuhyun.
            DEG!
            DEG!
            DEG!
            Kyuhyun menoleh pelan ke arah Sangneul. Ada yang salah dengan dirinya. Jantung ini, lebih menantang ketimbang saat Moonra sunbae memberinya senyum.
            “Sangneul-ah,” panggil Kyuhyun.
            “Ne?”
            “Kenapa kau lari?” tanya Kyuhyun.
            “Apa maksudmu?” tanya Sangneul balik.
            “Setiap adegan terakhir, kau selalu mencari alasan. Dan alasanmu itu sangatlah konyol,”
            “Eu, itu..” Sangneul mencari jawaban.
            “Sudahlah. Ayo kita keluar dari sini. Kukira kau yeoja pemberani,” ejek Kyuhyun.
            “Kyuhyun-ssi. Tunggu,” panggil Sangneul cepat.
            “Ne?”
            “Apa, kau mau latihan denganku? Aku tidak terlalu percaya diri jika dilihat banyak orang,” kata Sangneul yang mengalihkan tatapannya.
            “Ternyata kau masih memiliki sisi malu,”
            “Mwo? Jiah! Aku menyesal kenapa aku berbicara lembut  denganmu! Kalau kau tidak mau, baiklah. Aku akan pulang!” Sangneul berlalu. Melewati sisi kiri Kyuhyun.
            Sayangnya ini adalah gerakan cepat. jika didalam video, mungkin kita akan mengetahui gerakan lambat Kyuhyun saat menarik Sangneul.
            “Seperti ini. Tidak akan ada pertautan di antara kita. Dan kau tidak perlu lari lagi,” bisik Kyuhyun. Memang tidak ada pertautan. Tapi hidung mereka saling bersentuhan. Bahkan Sangneul bisa merasakan hembusan nafas Kyuhyun. Sangat hangat.
            DEG!
            DEG!
            DEG!
            Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah saling bertautan mesra. Kyuhyun-lah yang paling dominan disini. Sedangkan Sangneul terus mengimbangi permainan Kyuhyun.

Magic Love

            Semenjak kejadian kemarin malam, baik Sangneul maupun Kyuhyun pun enggan untuk berbicara. Bukannya enggan untuk berbicara. Toh mereka juga akan sangat jarang berbicara jika bukan Sangneul yang menggagunya terlebih dahulu. Tapi permasalahannya adalah, bahkan untuk saling tukar pandang pun mereka akan dengan cepat mengalihkannya. Kyuhyun sendiri mengutuk dirinya sendiri kenapa malam itu dia begitu menikmatinya bahkan bisa dikatakan ahli soal berciuman. sedangkan Sangneul, ia terus mengetuk-ngetukan kepalanya sendiri jika didalam toilet. Ia begitu terlena dengan permainan Kyuhyun.
            Tapi tetap saja Sangneul tidak akan membicarakan soal ini pada teman-temannya. Ia takut Minna dan Karin terlalu heboh dan berita akan menyebar luas. Ketiganya kini tengah berjalan beriringan menuju gerbang untuk pulang. Canda tawa mereka merekah seperti tanpa beban. Tapi seketika, tawa Sangneul berhenti seketika ketika sosok Kyuhyun sedang bersandar di gerbang sekolah. Dan sialnya, tatapan mereka bertemu. Kyuhyun sepertinya sengaja menunggu Sangneul.
            “Lihat. Bukankah itu Kyuhyun? Tumben sekali ia menunggu di gerbang,” kata Minna.
            “Apa? Kenapa kalian berdua menatapku dengan pandangan ngeri seperti ini?”
            “Karin-ah, aku lupa jika ada barangku yan tertinggal di kelas. Jja~ temani aku,” ajak Minna. Sepertinya Minna sengaja melakukan hal tersebut.
            ‘Mereka berdua. Aish.. lagipula, untuk apa dia disana? Memalukan!’ batin Sangneul.
            Kyuhyun berjalan menghampiri Sangneul yang tak jauh darinya. Tatapannya lurus mengarah ke arah Sangneul.
            ‘Kau terlalu percaya diri Kang Sangneul. Dia kesini karena ada Moonra sunbae,’
            Terlihat Moonra yang berjalan ke arah Kyuhyun dan mereka berdua saling menyapa.
            “Kyuhyun-ssi,” sapa Moonra
            “Annyeonghaseyo, Moon ra noona. Kau mau pulang?”
            “Ne. kau mau pulang bersamaku?” tawar Moonra.
            “Mianhe. Aku sudah ada janji dengannya,”
            “Eoh. Baiklah. Sampai jumpa,”
            ‘Janji dengan siap? Tumben sekali ia menolak? Bukankah ia sangat tergila-gila dengan sunbae itu?’ Sangneul berperang dengan pikirannya sendiri.
            “Aku ingin bicara denganmu,”
            “Aku? Bicara apa?”
            “Tidak disini,” tarik Kyuhyun.
            ‘Dia semakin berani denganku,’
            “Setidaknya kau memberitahuku kemana kau mau membawaku?”
            “Jangn memulai pertengkaran Kang Sangneul,”
            “Aku tidak memulainya. Memang kita selalu bertengkar tanpa awalan bukan?”
            Kyuhyun mendadak menghentikan langkahnya. Membuat Sangneul menabrak dada Kyuhyun.
            “Ya! jangan berhenti mendadak pabo!”
            “Mwo? Kau mengatakan aku babo? Kang Sangneul, kau benar-benar ingin bertengkar denganku?”
            “Aniya,”
            “Kau cukup diam sampai kita sampai di tempat tujuan, atau aku akan menggendongmu dengan caraku sendiri!”
            “Jiah. Kau tampak mengerikan!”
***

            Kyuhyun memberikan segelas jus Alpukat kepada Sangneul. Ikut duduk di sampingnya dan menyruputnya bersama-sama. Sangneul mengecap-ngecap bibirnya seperti anak kecil. Ia mencoba mencari kenikmatan kenapa Kyuhyun menyukai jus Alpukat ini.
            “Apa yang kau lakukan, huh?” tanya Kyuhyun.
            “Kenapa kau menyukai jus Alpukat? Bukankah lebih enak jus Apel?”
            “Selera orang itu berbeda-beda Kang Sangneul. Mereka sama-sama jus, tai memiliki khasiat yang sama. Yakni menyehatkan,”
            “Kau seperti mendiang orangtuaku,”
            “Apa? Mendiang? Apa orangtuamu-“
            “Mereka sudah meninggal sejak aku SMP,” potong Sangneul. “Karena kecelakaan,” tambahnya.
            Kyuhyun menjadi bersalah dengan ucapannya tempo hari yang lalu.
            “Orangtuaku adalah pakar gizi. Mereka selalu memberikan makanan yang menurutku tidak enak tapi mereka selalu menjawabnya karena ini menyehatkan,”
            “aku menyesal untuk waktu itu,” Kyuhyun menunduk.
            “Sudahlah. Aku sudah melupakannya. Memang sulit untuk berbicara apakah kita melukai hati orang atau tidak. Kau sudah berusaha Cho Kyu,” Sangneul menepuk pundak Kyuhyun.
            “Kau mengatakan tentang keterpurukan. Bisa kau menjelaskan padaku?”
            “Jadi kau membawaku ke taman ini hanya untuk menjelaskan arti dari keterpurukan? Begitu?”
            “Keterpurukan dalam bahasamu,” sambung Kyuhyun.
            Sangneul berdiri dari duduknya. Menghirup udara segar dan mengeluarkannya secara santai. Ia berbalik ke arah Kyuhyun.
            “Ini adalah kisah masa lalu,” sentuh Sangneul pada hidung Kyuhyun menggunakan jari telunjuknya.
            “Ceritakan padaku,” kata Kyuhyun sambil melepas tangan Sangneul. Mereka berdua saling tatap. Entah Kyuhyun bisa dipercaya atau tidak, sepertinya ia memang ingin berbagi pengalaman pahit ini dengan seseorang.
            “Kau tahu, kenapa aku sering mem-bully-mu?” Sangneul mengambil nafas. “Karena melihatmu, mengingatkanku dengan sosokku waktu SMP. Jika sekarang, kau tampan, pintar, disegani, suka menolong, dan murah senyum. Itulah diriku di waktu SMP. Berbeda jauh dari saat ini bukan? Tetap cantik, tapi bodoh, angkuh, dan sombong. Itukan menurutmu?”
            Kyuhyun hanya diam saja. Ia tetap ingin mendengarkan cerita Sangneul sampai selesai.
            “Hingga suatu saat, penyakit cacar menyerangku. Cacar yang kuderita sangatlah parah. Hingga aku harus absen dari kelas selama satu setengah bulan. Aku sembuh total. Tapi bercak bekasnya masih menempel di wajahku. Kukira teman-temanku akan care denganku. Masih mau berbaur denganku. Tapi yang kudapatkan hanyalah tatapan jijik dan takut. Mereka takut tertular. Padahal aku sudah mengatakan pada mereka jika aku sembuh total. Tapi mereka tetaplah menjauhiku. Kukira kebaikanku akan dibalas dengan kebaikan mereka. Ternyata pertemanan yang selama ini kami bangun bukan karena ketulusan. Aku tulus dengan mereka. Tapi mereka malah mengalihkan pandangan mereka. Dan itu membuatku benci akan sosok diriku sendiri. Kenapa saat orang menawarkan kebaikan, mereka memfaatkannya? Seakan-akan orang itu sudah dibodohi,” Sangneul menahan emosinya. “Saat itulah, aku ingin merubah diriku pada sisi gelap seperti sekarang,” kali ini Sangneul menatap Kyuhyun. “Kau percaya jika aku operasi plastik? Jika kau percaya sayangnya itu tidak pernah terjadi. Membutuhkan waktu yang lama, tapi sepadan dengan hasilnya. Dan seperti inilah. Seperti Sangneul yang kau lihat sekarang,” Sangneul tersenyum.
            “Yeppeo,” gumam Kyuhyun.
            “Aku senang kenapa aku menempelkan permen karet tersebut ke rambutmu,”
            “Mwo? Wae?”
            “Karena kau lebih terlihat tampan dengan potongan rambutmu sekarang,”
            “Lucu sekali,” gumam Kyuhyun.
            “Dan kau akan terlihat lebih tampan jika kacamata ini kau lepas,”
            “Hey! Kembalikan! Kang Sangneul, cepat kembalikan!”
            Dan terjadilah kejar-kejaran di antara mereka berdua.
            “Kau sekarang sudah berani denganku,”
            “Untuk itu berhenti mem-bully-ku,” kejar Kyuhyun.
            “Aniya. Hahaha~”
            “Awas jika kau tertangkap!”
            “Mwoya? Apa kau akan membunuhku?”
            “Tentu saja,”
            Dapat! Sangneul tertangkap. Sepertinya ini giliran Kyuhyun untuk mem-bully-nya.

CUP~

Magic Love

            Dua hari menjelang pertunjukan. Dan sosok Kyuhyun menghilang secara misterius. Ada kabar bahwa Kyuhyun sakit, tapi tidak ada yang tahu dia sakit apa. Sepertinya pihak sekolah hanya mendapatkan surat ijin yang tertulis jika Kyuhyun sakit. Seorang siswa yang ijin sakit memang sudah hal yang wajar. Tapi kali ini yang membuatnya tidak wajar adalah, seorang Kang Sangneul dengan rasa khawatir yang tinggi terhadap Kyuhyun. Pasangannya dalam pertunjukan sudah tidak masuk selama tiga hari.
            Mungkin tidak hanya Sangneul saja yang khawatir. Tetapi juga orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan drama. Kyuhyun adalah pemeran penting. Siapa lagi yang akan menggantikannya? Selain Siwon. Ya, namja itu kini tengah berdoa penuh agar sakit Kyuhyun diperpanjang hingga drama selesai. Agar apa? Tentu saja agar dia dapat menjadi pangeran yang akan membangunkan sang putri.
            “Kita bisa melanjutkan acara kita yang tertunda kemarin,” kata Siwon disaat latihan sedang istirahat.
            “Apa maksudmu?” tanya Sangneul malas.
            “Ciu-“
            “Berhenti mengatkann hal seperti itu Choi! Sampai kapan pun, aku tidak akan berciuman denganmu!” potong Sangneul cepat dan tajam. Ia pergi dari Siwon. Tapi sebelumnya, Sangneul memberikan tatapan yang mengerikan untuk Siwon.
            “Ini pasti kutukan kenapa aku sangat menyukainya,” Siwon mengelus dadanya. Sejujurnya, ia takut dengan tatapan Sangneul tadi.
***
            Sangneul tidak peduli dengan teman-temannya yang mungkin sedang mencarinya sekarang. Mengingat istirahat untuk latihan sudah selesai lima belas menit yang lalu. Duduk di kursi kantin pojok, sambil menyeruput jus Alpukat. Entah sejak kapan Sangneul menjadi suka jus Alpukat. Kyuhyun-lah orang pertama yang menyarankan untuk meminumnya.
            “Kenapa aku menjadi tidak bersemangat?” gumamnya. Ia menyandarkan kepalanya untuk tidur di atas meja.
            “Kau disini rupanya,” sapa Minna.
            “Semuanya mencarimu sangneul-ah. Ini adalah latihan terakhir. Kau malah pergi,” sambung Karin.
            “Choi Siwon sudah membuatku bad mood!”
            “Baik. Kami lupakan masalah itu. tapi kami memunyai berita penting untukmu,” kata Karin.
            “Apa?”
            “ada kabar, kenapa Kyuhyun tidak masuk tiga hari ini. kau tahu dia kenapa? Dia terkena cacar air,” jelas Minna.
            “Mwo!!” pekik Sangneul. Ia bahkan langsung berdiri.
            “Kenapa kau sangat terkejut?” tanya Minna.
            Tanpa menjawab pertanyaan Minna, Sangneul langsung berlari menuju kelasnya. Siang ini juga, ia akan langsung ijin pulang.
           
Magic Love

            Sangneul sudah menekan bel ini berulang-ulang. Tapi pemilik nomor 20015 ini tetap tidak mau membukanya. Mungkin ini sudah yang kedua puluh kalinya Sangneul menekan bel.
            Merasa tidak ada hasil, Sangneul memutuskan untuk mengetuk dengan cara yang kasar. Bahkan ia juga menendang. Masa bodoh jika pintu apartemen ini akan rusak. Toh Sangneul akan bertanggung jawab jika benar rusak.
            “Ya!! Cho Kyu! Buka pintunya!! Dasar. Apa kau tuli, huh!” teriak Sangneul.
            Selang beberapa menit, barulah pintu tersebut terbuka. Menampilkan sosok tinggi yang berpakaian serba tertutup.
            “Cho Kyu,” gumam Sangneul.
            Yang terlihat hanyalah mata Kyuhyun. Dan sisanya tertutup.
            “Kenapa kau kesini, huh? Kau mengganggu acara tidurku!” kata Kyuhyun dengan nada tak suka.
            Sangneul hendak membuka masker yang dipakai Kyuhyun. Tapi dengan cepat Kyuhyun menampiknya.
            “Jangan sentuh! Kau bisa tertular nantinya,”
            “Mitos mengatakan, jika orang yang sudah terkena cacar, tidak akan terkena lagi,”
            “Aku membaca di buku, virus bagi orang yang sudah terkena cacar bisa saja kambuh lagi. Virus tersebut hanya sedang tidur di tulang belakang manusia. Jika keadaanmu lemah, maka kau akan terkena cacar lagi,”
            “Jiah, kau ini bicara apa? Sudah, aku lelah. Aku ingin masuk,” Sangneul masuk tanpa seijin pemiliknya.
            “Mwo? Ya! Nona Kang! Cepat keluar!”
            Mau tak mau, Kyuhyun menutup pintu dan ikut masuk kedalam.
            “Jadi kau tinggal disini? Sendirian?” tanya Sangneul yang duduk di ranjang Kyuhyun.
            “Ne,”
            “Lalu, siapa yang merawatmu?” tanya Sangneul lagi.
            “Tidak ada,”
            “Mwo? Kau sedang sakit dan tidak ada yang merawatmu?”
            “Aku sudah terbiasa untuk hidup sendiri,” Kyuhyun  tidur di ranjang dengan menyisahkan kakinya menggantung di lantai.
            “Kau sudah meminum obatmu?” tanya Sangneul lagi.
            “Kau mengkhawatirkanku?”
            “Tidak juga. Orang-orang dalam kru pertunjukan juga mengkhawatirkanmu,”
            “Begitu rupanya,”
            “Jadi, kau tidak bisa dalam pertunjukan besok?”
            “Dengan keadaanku seperti ini? Bodoh! Tentu saja aku tidak bisa,”
            “Aish! Setidaknya kau tidak perlu mengatakan kata bodoh untukku,”
            “Kang Sangneul,” panggil Kyuhyun.
            “Mwo!” Sangneul menoleh malas ke arah Kyuhyun.
            “Kupikir, kau masih bisa menjadi sosok sepertiku,”
            “Jangan bahas itu lagi Kyuhyun-ah. Bahkan sakitmu ini sudah mengingatkanku,”
            “Kau takut jika mereka menjauhiku?”
            Sangneul diam saja. Sebenarnya jawabannya adalah IYA.
            “Kalau pun mereka menjauhiku, akan ada satu orang yang akan tetap bersamaku,”
            Kali ini Sangneul menoleh lagi. Ia menatap Kyuhyun lagi. Kyuhyun bangun dari ranjang dan ikut duduk di samping Sangneul. Sama-sama menatapnya dalam senyum. Walaupun Sangneul tidak tahu apakah Kyuhyun tengah tersenyum atau tidak. Karena sejak tadi masker yang di pakai Kyuhyun belum ia lepas.
            “Aku pernah berjanji akan memukul wajahmu dengan salah satu anggota tubuhku. Sementara keadaanmu sedang melemah, kau pilih mana Kyuhyun? Tangan kanan? Atau, tangan kiri?” Sangneul mengepalkan kedua tangannya ke udara.
            Kyuhyun terkekeh. Ia yakin jika Sangneul sedang berusaha menglihkan pembicaraan. Kyuhyun mulai melepas kaos tangan dan maskernya. Menampilkan bintik merah yang banyk tapi belum begitu parah.
            “Kau bilang, memukul wajahku dengan salah satu anggota tubuhku? Benarkah begitu?” Kyuhyun menatap lanati apartemennya. “Kang Sangneul. Kau yeoja yang keras kepala. Kusuruh kau pulang agar tak tertular, tapi kau tetap masuk. Jangan salahkan aku jika kau tertular dan tidak bisa mengontrol diriku sendiri,” Kyuhyun menoleh cepat ke arah Sangneul.
            “Mwo?”
            Dengan gerakan cepat, Kyuhyun mencengkram erat kedua tangan Sangneul dan menempelkan bibirnya ke bibir Sangneul dengan singkat.
            “Aku memilih kau memukulku dengan itu,” Kyuhyun tersenyum miring.
            Sangneul mengerjap-erjapkan matanya perlahan-lahan. Sangat sulit meneguk salivanya. Kyuhyun lebih agresif jika ia sedang sakit.
            “Cah. Kau tidak mau rupanya. Baiklah,” Kyuhyun beranjak dan hendak pergi ke dapur. Namun langkahnya terhenti cepat saat Sangneul menahannya. Menarik kerah bajunya dan menariknya mendekat.
            Pertautan itu dimulai lagi sekarang. Sepertinya Sangneul  tak takut jika harus tertular.


END


Cuap-cuap : sebenarnya, dapat ide ini karena saya sendiri sedang terkena cacar air. #hiks T^T. mana jauh dari ortu lagi. Saya sendiri juga bisa menilai ketika pandangan orang tentang cacar air. Mereka akan melihatnya dengan wajah yang mengartikan jijik dan takut. Tapi ada juga yang care sama saya. Ingat ya, orang yang sedang sakit itu, hanya butuh dukungan dan doa. Jadi jangan tinggalkan mereka. Cacar hanya akan menular jika kondisi kalian sedang tidak fit! Jadi jaga kesehatan kalian!! ^_^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...