Go Home! [special for Kim Jong Woon. #WeWillWaitKimJongWoon]
Author:
intan novela [K S N]
Fb : intan nopel
Title : Go Home
Cast : Kim Jong Woon
Kang Sang Neul
Other cast
Genre : Sad, Roman, brothership
Rating : T
->summary :
“apa
kau mau pulang denganku? Rumahku lebih hangat dari tempat ini. Kau bisa bermain
disana sepuasmu.”
Sebuah
tatapan hangat yang aku lihat dan senyuman tulus seperti malaikat. Aku juga
ingin pulang.
Soundtrack-à à [jay park-happy ending]
[super junior – a day] [B1A4 – in the air] [snsd – complete] [super junior
k.r.y – sky] [super junior – memories] [yesung – it has to be you] [snsd – promise] [Howl – loving u]
Story
si~jak!
Yesung merapatkan kedua tangannya. Udara
Seoul sudah mencapai titik rendahnya. Ya, musim dingin hari pertama benar-benar
mengganggu aktivitasnya. Apalagi jika ia alergi terhadap dingin. Untungnya
Yesung sudah tahu bagaimana cara mengatasi alerginya tersebut.
Sayangnya, musim dingin pertama
seperti ini tidak ada kedai kopi yang buka. Apalagi ini sudah terlalu larut
malam. Lagipula, ia bukan orang asli disini. Ia baru pindah 4 minggu yang lalu
dari Mokpo ke Seoul.
Yesung melihat lampu kelap-kelip
yang cukup terang. Tapi anehnya, lampu itu berada pada gang yang sempit dan
juga dalam. Ia kedinginan, mau bagaimana lagi? Akhirnya Yesug masuk kedalam
gang tersebut.
‘aku harap aku bisa menemukan kopi
disini.’ Batinnya.
Suara bel lonceng berbunyi
menandakan ada pembeli yang datang. Yesung tidak menyangka jika ada café modern
di gang yang lumayan sempit seperti ini. Apalagi nuansa café ini romantic.
Yesung mulai menemui pelayan di mejanya.
“aku pesan satu cappuccino hangat.”
Ucap Yesung.
“kau hanya pesan cappuccino? Kau
tidak ingin pesan yang lain?” Tanya pelayan muda tersebut.
“apa, maksudmu?” Tanya Yesung balik.
“ada banyak wanita dan gadis cantik
disini. Dan kau pelanggan pertama yang datang pada malam pertama musim dingin.
Akan ada diskon 25% untukmu.” Jelas pelayan itu.
“a apa yang kau katakana? Wanita?
Gadis? Apa ini tempat…”
“benar sekali.” Potong pelayan itu
dengan tawa cekiknya.
Yesung tidak butuh apa-apa. Yesung
hanya butuh cappuccino untuk menghangatkan badannya.
“ah, sang neul-ssi ada apa?”
Yesung menoleh kearah pelayan
tersebut lalu menoleh kea rah gadis yang dipanggilnya tadi.
“tolong antarkan satu wine di kamar
lima.” Kata gadis yang bernama sang neul tersebut.
“tunggu, ada apa dengan pipimu?”
“bukan apa-apa. Cepat antarkan
saja.”
“kasihan dia.” Kata pelayan tersebut
setelah gadis itu pergi.
“apakah dia salah satu dari….”
“kau benar.” Lagi-lagi pelayan itu
memotong ucapan yesung.
“tuan, aku ingin memesan satu lagi.”
Kata yesung datar.
***
Yesung menyeruput gelas cappucinonya.
Ini adalah rasa kopi favoritnya. Ia tidak suka terlalu pahit, dan juga tidak
suka terlalu manis. Takaran pada kopi yang ia pesan ini sangat pas di lidahnya.
“kau memanggilku?” teriak sang neul
dari belakang yang cukup kencang.
Yesung hanya tersenyum saat
melihatnya.
“kau memanggilku?” tanyanya ulang.
“berapa umurmu?” Tanya yesung.
“apa kau memanggilku hanya untuk
menanyakan umurku?” tany asang neul balik.
“tidak. Berapa umurmu?”
“18 tahun.”
“mwo? Kau masih belia ternyata.”
“apakah umurmu lebih tua dariku?”
“28.”
“mwo! Apa aku harus memanggilmu,
‘ajussi’?”
“hahahaha… tidak perlu. Kau bisa
memanggilku ‘oppa’ kalau kau mau.”
“yesung-ssi, aku masih ada banyak
urusan. Untuk apa kau menyuruhku kesini?”
“apa kau mau pulang denganku?
Rumahku lebih hangat dari tempat ini. Kau bisa bermain disana sepuasmu.”
“kau membeliku? Berapa uang yang kau
tawarkan untuk mereka? A, ini malam pertama musim dingin. Kau mendapatkan
potongan 25%. Kau sungguh beruntung. Paman, lebih baik kau pulang.”
“aku akan pulang denganmu.”
“apa yang akan aku dapatkan
dirumahmu? Apa kau juga ingin bermain-main denganku? Kau bilang, aku bisa
bermain sepuasnya disana. Apakah yang kau maksud, bermain denganmu?”
“kau remaja yang bandel. Ini.”kata
yesung sambil menyerahkan kartu namanya.
“untuk apa?”
“datanglah sesuka hatimu. Aku akan
senang jika kau mau datang.”
Yesung pergi meninggalkan sang neul
sendirian di atap café. Meninggalkan sang neul dengan sejuta pertanyaan. Dia
aneh. Itulah kesan pertama sang neul saat melihat yesung.
“apa maksudnya?” gumam sang neul.
Sedangkan yesung hanya tersenyum
tipis. Ia yakin itu.
Tanpa disengaja, ada seorang ajussi
yang terlihat mabuk dengan wine di tangan kanannya.
“dimana KANG SANG NEUL..??!”
panggilnya. “dimana dia???” ajussi tersebut bertanya pada pelayan yang melayani
yesug tadi.
“dimana nona kang?”
“dia sedang ada urusan tuan.”
“sudah kubilang, dia milikku! Apa
kau tadi tidak dengar? Cepat suruh dia kekamarku.!!”
***
[super
junior – a day]
Sang neul mengetuk-ngetuk meja yang
ada didekatnya. Pikirannya masih terbayang dengan tawaran yesung tadi.
Laki-laki yang baru ia kenal 2 jam yang lalu. Sebenarnya mereka belum kenalan.
Hanya saja, byung wol, nama pelayan tadi memberitahunya.
Lagi-lagi sang neul melihat kartu
nama yesung.
“kim jong woon? Kau berbohong dengan
nama yesung dan kau memberi kartu identitas ini? Bodoh. Seberapa kayanya kau?”
gumam sang neul sendiri.
“DIMANA KANG SANG NEUL..!!!!”
Lagi-lagi sang neul mendengar
teriakan itu. Ia sangat risih dengan suara serak itu.
“mwoya! Kau seperti bayi yang
kehausan minuman wine!” bentak sang neul.
“hahaha… kau terlihat tambah cantik
saat mara-marah.”
“cih. Dasar pria tua! Apa kau tidak
kasihan dengan istri dan anakmu, ha!?”
“menikahlah denganku dan akan
kuceraikan mereka.”
“kau tidak sepantasnya mengucapkan
seperti itu. Apa gunanya janji suci jika kau selingkuh? Apakah menikah hanya
kau gunakan untuk pelampiasan nafsu, ha!” tiba-tiba saja air mata sang neul
jatuh. “dengar, aku bukan milikmu! Jangan mencariku, apalagi menyuruhku untuk
menikah denganmu!”
“sang neul-ssi, kau mau kemana?”
panggil byung wol.
“aku keluar dari pekerjaan ini!”
“apa?”
“TUNGGU..!! apa kau tidak ingat
dengan hutang-hutang ayahmu? Bahkan kau belum membayar dari setengahnya.”
Sang neul tersenyum meremehkan.
“akan ada orang yang akan
membayarkan hutangku.”
Pria tua dan byung wol hanya
terkejut dengan ucapan sang neul barusan. Dan yang tedengar hanyalah suara bel
bunyi. Sang neul keluar dari café malam tersebut.
***
Yesung menatap pantulan dirinya di
kamar mandi. Ia sedang prepar untuk tidur. Kebiasaan yang baik bukan?
Saat sedang menggosok gigi,
tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Sungguh orang itu tidak sopan bertamu
selarut mala mini. Mau tak mau yesug harus membukanya.
‘dia?’ batinnya saat melihat tamu
yang datang dari pantulan lubang kaca cekung.
[jay
park – happy ending]
“aku pulang.” Sapa sang neul dengan
datarnya.
Bahkan yesung tersedak dengan busa
hasil gosok giginya. Sang neul hanya memandang sedikit jijik pada yesung.
“sepertinya kau harus menyelesaikan
urusanmu terlebih dahulu.” Saran sang neul.
Yesung memberikan acungan jempol
tangan untuk sang neul yang berarti dia setuju dengan saran sang neul. Kemudian
yesung juga menunjuk kursi tamu. Yeah, sang neul tahu artinya itu. Tamu tidak
akan dibiarkan berdiri seperti orang bodoh.
Lagi. Yesung melihat pantulan
dirinya di cermin. Ia bahkan tidak menyangka jika gadis itu akan menerima
tawarannya secepat ini. Tapi, itu baik.
Sang neul mengedarkan pandangan keseluruh
ruangan di apartemen yesung. Apartemen yang lumayan mewah. Tidak terlalu buruk.
“kau mau minum sesuatu? Kau pasti
kedinginan karena berjalan kesini. Atau mungkin, tadi kau lari?”
“aku akan membuat minumanku sendiri.
Aku ingin berkeliling.” Sang neul beranjak dari duduknya. Lalu mulai berjalan
sesuka hatinya.
‘bahkan dia menganggap apartemennya
sendiri.” Batin yesung, dia hanya tersenyum.
“hanya kopi?” Tanya sang neul saat
yesung berada disampingnya.
“kau datang secata mendadak. Jadi
aku belum menyiapkan semuanya.”
“no bad.”
“jadi, kau sudah berapa lama kerja
disana?”
“akan kujelaskan
sesingkat-singkatnya.” Sang neul bercerota sambil menyiapkan kopi untuk dirinya
sendiri. Tapi mengingat pemilik asli apartemen ada disampingnya, setidaknya ia
membuat dua agar terlihat sopan. “sudah 2 bulan aku disana. Menuangkan winw,
karaoke, dan membersihkan café.”
“kau tidak melakukan…”
“tidak. Aku masih bersih.” Potong
sang neul. “ini untukmu.” Sang neul pergi menuju ruang tamu.
Yesung hanya mengamati kopi buatan
sang neul. Kemudian meminumnya dan mencerna rasa kopinya.
“no bad.” Kata yesung menirukan gaya
bicara sang neul.
Selesai menikmati kopi, saatnya
untuk tidur. Karena malam sudah benar-benar larut. Permasalahannya adalah,
hanya ada satu ranjang yang tersedia. Tapi ranjang tersebut sangat luas. Bahkan
untuk tidur 4 orang pun mungkin cukup.
“kau tidur disini. Jika kau
kedinginan, kau bisa memakai selimutku. Selamat malam.”
“tunggu. Kukira, kau akan meminta
bayaran dengan tidur bersamaku. Kau…”
“kau mengingatkanku dengan adikku.
Kau datang secara tiba-tiba. Dan aku belum mempersiapkan semuanya. Aku akan
tidur di sofa. Selamat malam.”
‘dia. Dia benar-benar aneh.”
[B1A4
– in the air]
***
Yesung menanggalkan celemek yang
baru ia gunakan untuk memasak. Ia sengaja bangun pagi-pagi agar bisa menyiapkan
sarapan untuk tamunya. Baru pertama kali ini ia lakukan. Hanya untuk orang
asing yang ia tidak kenal, tapi ia ajak untuk tinggal bersama. Aneh bukan?
Sesuatu pasti ada alasan kenapa yesung melakukan itu.
Pasalnya, yesung hanya akan masak
sendiri jika dia punya banyak waktu. Untuk kali ini, ia ijin datang terlambat
untuk bekerja.
“kau sudah bangun? Kemarilah. Kita
sarapan bersama.”
Sang neul hanya diam saja kemudian
duduk di kursi makan.
“aku tidak tahu apakah rasanya
seenak masakan restaurant. Tapi ini lebih baik. Aku jamin kau tidak akan mati
setelah sarapan dengan ini.
“terimakasih yesung-ssi.”
Dan mereka pun makan dengan
tenangnya. Tanpa suara. Hanya dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring.
Selesai makan, yesung segera
membersihkan peralatan makan yang barusan mereka gunakan.
“apa yang kau lakukan?” Tanya
yesung.
“membantumu mencuci piring.” Jawab
sang neul.
“tidak perlu. Ini pekerjaan ringan.
Aku bisa sendiri.” Tolak yesung halus.
“aku akan senang jika kau mau aku
bantu.” Kata sang neul yang tetap kokoh ingin membantu yesung.
“baiklah.”
Lagi, mereka hanya diam.
“saat aku masih bersekolah, aku
sangat senang makan malam bersama dengan keluarga yang lengkap. Ada ibu, ayah,
dan adikku.”
[snsd – complete]
Yesung menoleh kearah sang neul. Ia
bercerita. Yesung sangat senang jika mendengarkannya.
“karena, selesai dari itu, aku dan
ibuku akan mencuci piring bersama. Saat itulah aku bercerita tentang keluh
kesahku di sekolah dengan ibu. Sangat menyenangkan. Dan sekarang, aku mencuci
piring dengan orang asing yang menawarkanku tempat tinggal. Kau, kim jong
woon.” Sang neul menoleh sekilas kerah yesung dengan tersenyum ringan.
Yesung terus menatap sang neul yang
ada di sampingnya. Ada berapa banyak kesedihan yang ia rasakan? Gadis ini,
punya banyak rahasia yang ingin yesung tahu.
[super
junior k.r.y – sky]
“sudah. Biar aku yang meletakkan di
rak. Kau duduk saja di ruang tamu.” Suruh yesung.
Sang neul hanya mengiyakan perintah
yesung.
“sang neul-ssi.” Panggil yesung.
“ne?”
“terimakasih.” Kata yesung dengan
senyumnya.
Butuh beberapa detik bagi sang neul
untuk menjawabnya. Karena ia baru saja terjatuh pada pesona yesung saat melihat
yesung tersenyum.
“ne.” balasnya.
Sang neul hanya menatap punggung
yesung dari ruang tamu. Sang neul terus mencari alasan kenapa yesung
mengajaknya tinggal di rumahnya. Dan alasan sang neul menerimanya adalah,
karena ia tidak punya tempat tinggal. Bahkan sejak insiden itu, sang neul
tinggal di café tempat bekas kerjanya.
Sial, yesung melihat sang neul yang
sedang menatapnya. Secara tiba-tiba sang neul menjadi salah tingkah. Akhirnya
ia mengambil remote dan menyalakan TV untuk mengalihkan salah tingkahnya.
Yesung menghampirinya dengan membawa
mangkok ukuran sedang yang berisi air hangat.
“apa yang akan kau lakukan?” Tanya
sang neul.
“harusnya aku lakukan tadi malam.
Tapi, karena kau terlihat sangat lelah, jadi aku lakukan pagi ini.”
“kau tidak perlu mengasihiku.”
“bukan kasihan. Tapi aku ingin
membantumu. Mulai sekarang, kau harus belajar perbedaan apa itu kasihan dan
membantu.” Jelas yesung.
“terserah kau.”
“tahan. Mungkin akan sedikit sakit.”
Ingat yesung.
Yesung mulai menempelkan handuk yang
sudah dicelupkan pada mangkok yang berisi air hangat tadi. Terlihat sang neul
meringis sedikit kesakitan. Bekas benturan dengan meja saat di café kemarin
malam, ternyata meninggalkan bekas memar seperti ini.
“selesai. Mungkin 2 atau 3 hari bekas memar ini akan hilang.”
“terimakasih.”
“sama-sama.”
“kau tidak berangkat kerja?” Tanya
sang neul.
“aku memang akan berangkat. Selesai
dari ini, aku akan berangkat.” Jawab yesung.
Seperti layaknya seorang istri,
walaupun bukan. Sang neul mengantar yesung sampai depan pintu.
“kau bisa mencari kesibukan. Di
kamar terdapat banyak koleksi buku. Mungkin kau bisa membacanya.
Ya, tidur di kamar yesung, sang neul
melihat itu semua.
“baiklah.”
“aku pergi.” Pamit yesung.
“hati-hati.”
Sang neul menatap punggung yang
kekar it uterus. Hingga yesung belok kekanan. Sang neul tetap menatapnya.
Kenapa yesung mau menampungnya?
Seingatnya, keluarganya tidak memiliki sanak sodara yang bernama yesung. Atau
mungkin mendiang ibunya mempunyai sodara yang belum sang neul punya?
Tapi tetap saja yesung ceroboh. Itu
pikiran sang neul. Bagaimana jika yesung pulang dengan keadaan harta di
rumahnya hilang karena sang neul bawa. Atau mungkin sebaliknya? Yesung bisa
saja merencanakan sesuatu untuknya. Kalian harus ingat. Di dunia ini tidak ada
yang gratis.
‘apa yang kupikirkan? Tidak mungkin
pria dengan tatapan hangat seperti itu mempunyai rencana jahat. Aish sang neul,
kau harusnya berterimakasih padanya. Masih ada orang yang mau menampungmu.’
Batin sang neul.
Dan sekarang, apa yang akan sang
neul lakukan di apartemen ini sendirian? Bahkan ia tidak mempunyai rencana
kedepan. Ia bahkan tidak tahu harus melamar pekerjaan dimana. Sang neul terus
memutar pandangannya keseluruh ruangan aprtemen ini.
“tunggu. Ada yang aneh.”
Sang neul benar. Pencahayaan malam
hari dan pagi hari sangat berbeda.
“kukira dia pria yang rajin dan
menjaga kebersihan.” Gumam sang neul. Sekarang ia tahu apa yang harus ia
lakukan untuk membalas jasa yesung.
***
Yesung mengenakan pakaian besarnya.
Tak lupa kacamata sebagai pelengkap. Sekarang penampilannya sudah rapid an
siap. Tinggal mennggu orang-orang yang akan komplen padanya.
“dokter, ini adalah hasil dianosa
pasien yang bernama kim kyumin.” Kata seorang suster.
“sudah jadi? Baiklah. Terimakasih
suster seo.” Kata yesung.
Siapa sangka jika sosoknya yang
lembut ternyata yesung adalah seorang dokter anak-anak. Lalu, bagaimana dengan
kartu identitas yang ia berikan untuk sang neul? Bahkan sang neul tidak tahu
jika ia seorang dokter.
“masuk.” Kata yesung.
Seseorang masuk kedalam ruangan
yesung. Ia juga memakai pakaian putih seperti yesung.
“dokter lee, ada apa?” Tanya yesung.
“pasien yang ada di kamar 25
keadaannya sudah mulai membaik.” Jelas dokter lee. Yang lebih lengkapnya adalah
lee donghae.
“syukurlah.”
“maaf merepotkanmu. Kau harus
berpindah dari mokpo ke seoul.”
“tidak apa. Menjadi dokter, adalah
sebuah panggilan. Kita hanya perantara.” Jelas yesung.
“bagaimana dengan anaknya?” Tanya
donghae.
“kukira, dia baik-baik saja. Mungkin
secara fisik.”
“maksud dokter?”
“kau akan tahu.”
Dokter lee hanya mengangkat alisnya
sebelah. Ada rahasia mungkin.
***
Semua lantai sudah sang neul pel.
Tinggal kamar yang ia tiduri semalam. Sang neul sudah terbiasa bekerja keras.
Insiden itu yang memaksanya. Bahkan untuk mengingatnya, sang neul terlalu
ingat. Mata yang tertutup sekejap pun, sang neul langsung mengingatnya. Itulah
yang membuatnya susah untuk tidur.
Keluarga kang termasuk keluarga yang
kaya dan harmonis. Semuanya begitu sempurna untuk mereka. Sangat sempurna. Ayah
yang pekerja keras, ibu yang lembut dan tegas, serta kedua anak yang rajin dan
pintar. Kang sang neul dan kang sang ho. Hingga insiden itu menimpa keluarga
kang. Investasi yang tuan kang tanamkan pada sebuah perusahaan, ternyata
bangkrut. Tentu saja tuan kang mendapat imbasnya. Perusahaan tuan kang juga
ikut bangkrut. Bersamaan dengan itu, sebuah kebakaran menimpa keluarga kang.
Api yang menyembur melahap semua bangunan rumah. Nyonya kang dan sang ho tidak
selamat dalam insiden tersebut. Sang ho tewas di lokasi kejadian. Sedangkan
nyonya kang hanya bertahan beberapa jam saat di rumah sakit. Dan tuan kang,
siapa sangka jika bangkrutnya perusaahaan, membuatnya terserang jantung.
Apalagi ia harus menghirup asap kebakaran.
Selesai dari pemakaman ibu dan
adiknya, sang neul menemui ayahnya yang berada di ruang ICU. Apa yang bisa sang
neul lakukan? Ini semua terlalu berat untuk dilaluinya sendiri. Jika ia dalam
kesulitan, selalu ada pelukan hangat yang ia terima dari ibunya. Tapi sekarang
ia sendiri. Sang neul hanya menangis dibalik kaca melihat kondisi ayahnya yang
sangat kritis. Ia tkut menghadapi hidupnya kedepan. Ia sangat takut. Ia butuh
sandaran. Tidak ada lagi keluarga yang ia punya selain ayahnya yang kritis
sekarang. Tuan kang adalah anak tunggal. Dan kedua orangtuanya sudah lama
meninggal. Sang neul harus memikul beban ini. Biaya rumah sakit, dan juga
hutang ayahnya.
Dan soal pria tua yang ada di café tempat
bekas sang neul bekerja, ia adalah park hwa yeong. Pria tua yang kaya raya tapi
berhidung belang. Ia kenal betul ayah sang neul. Bahkan karena terlalu
mengenalnya, ia rela membohongi tentang uang investasi. Tuan kang berhutang
uang padanya. Ia menawarkan pada sang neul untuk bekerja di café perusahaannya.
Dengan mengiming-imingi bahwa ia akan menanggung semua biaya rumah sakit agar
sang neul dapat ia bawa. Tentu saja itu menambah jumlah hutang tuan kang. Dan
mulailah awal kehidupan sang neul yang menderita. Hingga ada orang asing yang
menawarkan tempat tinggal untuknya. Kim jong woon, pemilik senyuman lembut.
“apa ini?” kata sang neul saat
melihat pakaian besar berwarna putih. “ini seperti jas milik dokter.”
Lanjutnya.
***
Yesung langsung menuju dapur saat ia
pulang ke apartemennya. Tidak ada sambutan dari sang neul. Tentu saja. Ia bukan
istri yesung, atau pun yesung bukan suami snag neul.
Sang neul terus menatap yesung saat
ia meneguk segela air putih. Tidak mungkin. Sang neul terus berperang dengan
pikirannya.
“dokter kim jong woon?”
“ya?”
Tanpa sadar yesung menerima
panggilan itu. Itu memang panggilannya sehari-hari di rumah sakit tempat ia
bekerja. Tapi yesung langsung terkejut saat sang neul yang memanggilnya. Begitu
juga dengan sang neul.
“maksudku, kau panggil aku apa?”
“siapa kau?”
“aku yesung.”
“lalu, siapa kim jong woon? Apakah
kau memakai 2 nama tersebut?”
“te tentu saja.” Jawab yesung
terbata-bata.
“kau tidak bilang kalau kau seorang
dokter.”
“apa? Jangan bercanda. Aku hanya
pagawai di sebuah perusahaan.” Elak yesung.
“siapa, kau!” Tanya sang neul tegas.
Baiklah, rahasia memang harus
dibongkar.
“kau benar. Nama asliku memang kim
jong woon. Tapi teman-teman akrabku lebih mengenalku dengan sebutan yesung. Dan
dokter, itu memang pekerjaankuaslit. Bukan pegawai.”
“kau membohongiku? Apa yang kau
rencanakan, ha!?” bentak sang neul.
“aku tidak merencanakan apa-apa sang
neul-ssi.”
“siapa kau? Kenapa kau mau
menampungku? Jelas-jelas aku tidak mengenalmu dan kau pun juga tidak
mengenalku.SIAPA KAU!” benatk sang neul.
“aku mengenalmu, kang sang neul.”
“apa?”
“jujur, aku lelah hari ini. Banyak
pasien yang harus aku tangani hari ini. Aku ingin mandi, makan, lalu tidur.
Besok adalah jawaban dari pertanyaanmu.” Yesung meninggalkan sang neul
sendirian di dapur.
Sang neul menangis. Entah kenapa ia
merasa Tuhan sedang mempermainkannya. Ia benci kehidupannya sekarang. Ia ingin
kehidupannya seperti satu bulan yang lalu. Sebelum kebakaran, sebelum berita
kebangkrutan, dan sebelumnya. Ia rindu ayahnya, ia rindu keusilan sang ho. Dan
tentu saja ia rindu pelukan ibunya. Sang neul merindukan itu semua.
Makan malam hanya berlangsung
beberapa menit dengan kesunyian yang luar biasa. Satu jam setelah itu, yesung
berbaring di ranjangnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan esok
yang akan datang. Ia harap, sang neul tidak marah dengannya.
“aku hanya mengambil bantal.” Kata
sang neul sebelum yesung melontarkan pertanyaan. Kali ini dia yang akan tidur
di sofa.
“kau mau kemana? Tidurlah disini.
Ranjang ini sangat luas. Masih muat jika hanya untuk satu orang lagi.” Kata
yesung.
Sang neul hanya diam saja. Tidak ada
respon. Yesung pun merubah posisinya yang tidur menjadi duduk. Ia menepuk
ranjang bagian sampingnya.
“tidurlah disini. Aku tidak ingin
punggungmu sakit.” Ulangnya.
Sang neul pun mengiyakan keinginan
yesung. Ia tidur disebelah kanannya. Masih tersisa banyak jarak diantara
mereka.
Sang neul memposisikan posisi
tidurnya miring ke kiri. Ia dapat melihat yesung yang tidur terlentang. Matanya
sudah tertutup. Sang neul terus menatapnya. Hingga yesung merasa risih sendiri.
Ia benar-benar sangat lelah. Tiba-tiba mata yesung terbuka.
“apa kau tahu apa yang kulakukan
hari ini?” Tanya yesung yang menatap langit-langit kamarnya.
Tidak ada jawaban dari sang neul.
“hari ini aku sangat tegang tapi
kebahagiaan menyelimutinya. Pertama, pasien yang sudah koma selama kurang lebih
satu bulan, keadaannya sudah membaik dan ia sudah dipindahkan ke kamar biasa
dari ruang ICU. Tiga operasi yang kami laksanakan berjalan dengan lancar. Kami
sangat bersyukur.” Jelas yesung. Kemudian ia merubah posisi tidurnya juga ke
arah kiri menghadap sang neul.
[jay
park – happy ending]
“dari pada memikirkan hari esok,
lebih baik sekarang kau tidur. Kau membutuhkan fisik, dan batin yang kuat. Aku
akan senang jika kau malam ini tidur dengan nyenyak. Atau, kau kawatir jika aku
melakukan sesuatu padamu? Heum?” yesung tersenyum melihatkan mata sipitnya.
“chukkae.” Kata sang neul. Kemudian
ia menghadap sisi lain membelakangi yesung.
“selamat tidur.” Kata yesung.
***
Yesung melihat penampilan sang neul
dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh penampilannya tidak menjanjikan.
Selama tinggal dua hari di rumah yesung, sang neul hanya mengenakan kaos dan
celana yesung. Terbayang jika itu semua pasti kebesaran untuk sang neul.
“hari ini kita ke toko pakaian. Kau
tidak mungkin memakai bajuku di lingkungan luar bukan? Kajja.” Ajak yesung
menggenggam yesung. Entah kenapa sejak kemarin malam, sang neul menjadi pendiam
dan penurut seperti ini.
Sang neul terus melihat tangan
yesung yang menggenggam tangannya. Tidak ada balasan dari sang neul. Yesung pun
tidak mempermasalahkan hal tersebut. Genggaman ini, hanya sebuah dorongan
semangat darinya. Kemudian, masuklah mereka kedalam lift. Hanya ada mereka
berdua. Karena ini masih pukul 08.00 pagi.
Tiba-tiba yesung menoleh kearah
tangannya yang masih menggenggam tangan sang neul. Ada tekanan yang datang. Ya,
sang neul membalas genggaman tersebut. Gadis ini, kenapa terlihat sangat sedih?
Pikir yesung.
Sang neul hanya melebarkan matanya
sedikit. Yesung tiba-tiba memeluknya. Membawanya kedalam dada bidangnya. Sang
neul memang butuh ini sejak dulu. Kesedihan dan penderitaannya sangat berat. Ia
kedinginan. Ia butuh kehangatan.
“semuanya akan baik-baik saja.
Kesedihan yang kau alami, mulai sekarang akan pudar satu per satu. Aku jamin
itu.” Hibur yesung. Dan yang terasa hanyalah balasan pelukan dari sang neul.
***
[jay
park – happy ending]
Yesung berkeliling memilih pakaian
yang cocok untuk sang neul. Matanya terus bergerilya mencari pakaian yang pas.
Terkadang ia menempelkan pada sang neul, dan kepalanya menggeleng pertanda
pakaian ini tidak sosok dikenakan sang neul.
“kau tidak perlu memilihkan yang
bagus.” Kata sang neul.
“aku hanya mencari yang cocok
untukmu.”
“bukankah kau akan terlambat?” Tanya
sang neul.
“tidak. Masih ada waktu satu
setengah jam untuk kesana.” Jawab yesung.
Sang neul hanya mengiyakan jawaban
yesung.
“cobalah.”
Sebuah dress yang panjang dibawah
lutut berwarna cream yesung pilihkan untuk sang neul. Yesung rasa, kulit sang
neul cocok dengan warna cream. Apalagi dress ini terlihat imut jika dikenakan
sang neul.
Sementara sang neul berganti
pakaian, yesung bertanya pada pelayan toko tersebut.
“apakah ada sepatu yang cocok untuk
dress tadi?” Tanya yesung.
“ada beberapa tuan.” Jawab pelayan.
“tolong bawakan beberapa kesini.”
“baik.”
“yesung-ssi..” panggil sang neul
dari dalam.
“ya?”
“kurasa, aku tidak cocok memakai
dress ini.”
“benarkah? Keluarlah agar aku bisa
melihatnya.” Pinta yesung.
Perlahan sang neul keluar dari kamar
ganti. Ia takut jika terlihat aneh didepan yesung. Dress bukanlah gayanya. Sang
neul lebih sering memakai celana jeans daripada dress.
“yeppo.”
“apa? Kau bilang apa?”
“kau terlihat cantik dengan dress
ini. Pilihanku memang tidak salah. Kita ambil yang ini.”
“baiklah, aku akan…”
“tidak. Kau langsung pakai ini.”
Potong yesung.
“mwo?”
“tidak apa-apa. Kita tinggal
menunggu sepatu yang cocok untukmu.”
“sepatu?” ulang sang neul.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan
datan dengan membawakan beberapa sample sepatu.
“yesung-ssi, kau tidak perlu
melakukan ini.”
“kau akan terlihat sempurna jika
memakai sepatu yang pas dengan dress yang kau kenakan.”
***
Yesung menggandeng sang neul masuk
kedalam rumah sakit. Untuk apa yesung mengajaknya kesini? Pikir sang neul.
Tunggu, sang neul ingat sesuatu.
Rumah sakit ini tidak asing baginya. Butuh beberapa detik untuk meyakinkan
hatinya.
“rumah sakit ini?” gumam sang neul.
“jangan terlalu memaksakan diri.
Ayo.” Yesung menarik sang neul masuk kedalam lift.
Keluar dari lift, yesung langsung
berpapasan dengan dokter lee. Mereka saling tukar senyum. Dan saat melihat sang
neul, senyum dokter lee sedikit berubah.
“kau?” tunjuk dokter lee.
“kita sudah hampir sampai sang
neul-ssi.”
Sang neul yakin dengan hatinya.
Rumah sakit ini, tempat ayahnya dirawat. Apa maksud dari ulah yesung. Yang ia
inginkan adalah jawaban.
“masuklah. Dan patuhi perintah
suster yang ada didalam.” Suruh yesung. Dan sang neul menurutinya.
“bukankah dia?” kata dokter lee
terkejut. “kau berhasil menemukannya? Dimana?” Tanya dokter lee.
“café malam. Sungguh aku sangat
beruntung.”
“kau tidak hanya menyelamatkan nyawa
ayahnya. Tapi kau berhasil menemukannya sebelum polisi. Terimakasih dokter
kim.”
“tidak apa. Lagi pula, sang neul
adalah anak dari nyonya kang.” Yesung tersenyum mengingat kejadian itu.
***
Yesung berjalan dengan cepat. Ada
pasien yang harus segera ia tangani. Seorang wanita korban kebakaran.
“dokter, keadaannya sangat kritis.”
Kata suster.
“ambilkan alat pendetak jantung.”
Suruh yesung. Yesung mnempelkan stetoskop pada dada wanita tua ini.
“grafik menunjukkan posisi kritis.”
Jelas suster.
Satu sengatan. Dua sengatan. Tiga
sengatan.
“grafik berubah garis.”
Empat sengatan. Lima sengatan. Enam sengatan.
“detakan normal.”
Yesung bernafas lega. Syukurlah
pasien ini bisa terselamatkan.
“to tolong. To tolong suamiku.
Anakku. Kang sa sang neul. Tolong dia.” Wanita tua itu berkata pada yesung
dengan suara yang tidak jelas. Dan kemudian hanya terdengat bunyi ‘THIIIT’ yang
panjang.
Yesung menunduk. Keadaan dimana rasa
bersalah seorang dokter yang sangat besar. Tidak dapat menyelamatkan nyawa
seseorang.
[snsd
– complete]
“siapa nama wanita ini?” Tanya yesung.
“dia adalah korban kebakaran.
Suaminya selamat, tapi keadaannya sangat kritis. Sekarang ia berada di ruang
ICU.” Jawab suster.
“dan kang sang neul?”
“dia anak perempuannya yang selamat.
Tapi beberapa jam yang lalu, ia dibawa oleh seorang pria paruh baya. Dan
sekarang, kami tidak tahu dimana dia.”
“seo in ah, meninggal pukul 21.14
malam. Tolong panggil petugas.” Yesung keluar dari ruangan tersebut. Ia ingin
menemui suami mendiang nyonya seo.
Yesung merasa ini adalah amanat yang
nyonya seo berikan untuknya. Walaupun ia sendiri tidak mengenalnya. Usahanya
adalah, ia tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Yesung tidak tahu apa yang
menimpa keluarga kang. Yang jelas, ia harus menemukan anak nyonya seo yang
bernama kang sang neul. Dan menyelamatkan tuan kang yang ada didalam ruang ICU.
***
Sang neul sudah mengenakan pakaian
yang disuruh suster. Ia bergetar saat berjalan menuju pria tua yang terbaring
sangat lemah. Sudah sangat lama ia tidak menjenguk ayahnya Karena larangan pria
tua yang ada di café tersebut. Ia bahkan tidak tahu apakah ayahnya masih hidup
atau sudah meninggal. Ia terlalu sedih sampai tidak ada semangat untuk hidup
lagi. Ia pasrah dengan kehidupan.
“ayah..” panggilnya lirih.
Yesung dan donghae hanya melihat
diluar jendela. Ada cairan bening yang memantul dari kedua bola mata mereka
berdua.
“ayah. Ayah.. huhuhu… ayah…”
[yesung
– it has to be you]
“ayah… maafkan aku… maafkan aku..
huh u huhu.. maafkan aku..”
“ayo kita keluar.” Ajak yesung pada
dokter lee.
“tapi.”
“biarkan dia sendiri. Biar aku yang
menjelaskan.”
“baiklah.”
“maafkan aku.. aku terlalu takut
untuk menghadapi kehidupan. Maafkan aku ayah…” ucap sang neul terus menerus. Ia
tak pernah melepas genggaman tangan ayahnya.
“aku memang penakut. Maafkan aku
ayah…”
***
Dua minggu setelah bertemu dengan
ayahnya yang masih terbaring koma, sekarang keaadaan sang neul sudah lumayan
membaik. Ada alasan kuat kenapa ia harus bertahan hidup. Tentu saja untuk
ayahnya. Keluar yang satu-satunya ia punya.
Yesung membuatkan susu coklat hangat untuk sang neul. Ia
sudah menjelaskan semuanya. Dimulai dari alasan ia mengajak sang neul tinggal
bersama, menampungnya, dan juga bersikap baik padanya. Semua sudah yesung
jelaskan.. termasuk peemintaan terakhir nyonya kang.
“ini.”
“terimakasih.”
“apa kau sudah membaik?” Tanya
yesung.
“ya.” Jawab sang neul singkat.
“aku senang mendengarnya.”
“yesung-ssi, terimakasih.”
“untuk apa?”
“kau sudah baik padaku. Memberiku
tempat tinggal yang hangat. Memberiku kehangatan. Memberiku kebebasan untuk tinggal
disini. Terimakasih sudah mengajakku pulang.”
Ada makna lain dibalik kata pulang.
Yeusng telah mengajak sang neul pulang dari kesengsaraan. Mengajaknya pulang
dari kesediahan dan kesepian. Dan ia sudah mengajaknya pulang ke dalam
kehangatannya.
“sudah kubilang, kesedihan yang kau
alami, mulai sekarang akan pudar satu per satu. Kau hanya tinggal percaya itu.”
“ada yang ingin kukatakan padamu.”
“mwo?” Tanya yesung.
“aku… aku…”
Perkataan sang neul terpotong karena
suara telfon yang berbunyi.
“tunggu sebentar.”
Sang neul berharap, yang ia ucapkan
benar-benar dari hatinya. Ia sudah lama memikirkan tentang ini.ia juga
berharap, yesung tidak marah.
“kabar gembira untukmu.” Kata yesung
yang datang tiba-tiba. “tuan kang, ayahmu. Ia sudah siuman dari komanya.”
Lanjutnya.
***
Tuan kang tak henti-hentinya
mengusap punggung tangan putrinya yang sedang menyuapinya. Bahkan beliau juga
tidak henti-hentinya tersenyum melihat sang neul.
“suapan terakhir ayah. A?” kata sang
neul sambil memberikan contoh pada ayahnya untuk membuka mulutnya.
“dan yang terakhir, ayah minum
obatnya.”
Yesung dan donghae ikut tersenyum
melihat tingkah kedua ayah dan putrinya ini. Mereka patut mendapatkan ini.
Hadiah indah dari Tuhan untuk sangneul. Walaupun ibu dan adiknya sudah pergi
terlebih dahulu, setidaknya sang neul berterimakasih karena sang neul masih
diberi kesempatan dengan kesembuhan ayahnya.
“semoga cepat sembuh tuang kang.”
Kata yesung. Tuan kang hanya membelasnya dengan senyum.
“aku senang ayah sudah sadar.” Kata sang
neul.
“ayah juga senang. Selama ini kau
pasti menderita.”
“tidak. Aku baik-baik saja ayah. Ada
seorang paman yang baik hati yang menampungku.”
“benarkah? Siapa dia? Boleh ayah
bertemu dengannya? Ayah ingin mengucapkan terimakasih untuknya.”
“dia adalah dokter kim. Dokter yang
menangani ayah.”
“apa?” tuan kang terkejut.
Pandangannya kemudian beralih pada yesung. Sebuah senyuman tulus yesung berikan
untuk tuan kang.
“terimakasih dokter. Terimakasih
karena kau sudah mau menampung anakku. Terimakasih.”
“sama-sama. Anak anda adalah gadis
yang kuat. Aku suka dengan semangatnya itu.”
Sang neul menatap yesung sekilas.
Entah kenapa ia merasa sedih saat yesung mengatakan itu. Kalimat yang tertunda
ia ucapkan di apartemen yesung kemarin, sampai saat ini belum ia katakan.
Lalu, bagaimana dengan hutang tuan
kang dengan pria tua yang ada di café tersebut? Diam-diam, yesung menemuinya.
Dan bekerja sama dengan polisi. Tak lupa yesung juga meminta bantuan rekan
kerjanya. Lee dong hae. Siapa sangka jika pria tua itu adalah buronan polisi
yang sudah lama mereka cari. Ketika berpikir kembali kebelakang, yesung
beruntung karena mau mampir di café gang kecil itu. Ia bersyukur.
***
[jay
park – happy ending]
Hari ini adalah hari jumat. Dan hari
dimana yesung libur dari pekerjaannya. Rencananya ia ingin mengajak sang neul
jalan-jalan. Ia rasa sang neul butuh itu. Dan selesai dari itu, ia ingin
mengajaknya ke rumah sakit menjenguk tuan kang.
Sang neul sudah selesai mengoles
wajahnya. Cukup natural, karena ia suka itu. Tanpa sang neul sadari, sudah satu
bulan ia tinggal bersama yesung. Dan selama itu pula, ia hanya memanggil yesung
dengan yesung-ssi. Sang neul berpikir, sudah saatnya ia mandiri. Ia harus
bekerja demi ayahnya. Dan hutang-hutang ayahnya. Ia belum tahu rahasia kecil
yang disimpan yesung darinya.
“kau lama sekali.” Kata yesung saat
sang neul sudah keluar dari kamar.
“aku hanya beberapa menit didalam.”
“sudahlah, kajja.” Gandeng yesung.
“kau mau mengajakku kemana?” Tanya
sang neul di sela-sela jalan menuju lift.
“hanya jalan-jalan ringan. Kukira
kau butuh refreshing.” Jawab yesung.
“yesug-ssi, boleh aku bertanya?”
kata sang neul didalm lift.
“ne?”
“kenapa, kau memberiku kartu
pengenal palsumu?” sudah lama sang neul ingin
tanyakan itu.
“untuk berjaga-jaga.” Jawab yesung
singkat.
“wae?”
“kau pikir aku bodoh apa? Hanya
untuk memancing seseorang. Kau tidak ingat apa yang aku ceritakan padamu? Aku
mencarimu.”
Sang neul ingat dengan penjelasan
yesung hari kemarin-kemarin. Ia tidak menyangka jika masih ada orang yang
memperdulikannya.
“terimakasih.”
“akhir-akhir ini kau sering
mengucapkan kata itu.”
“memangnya kenapa? Bukankah setelah
kita dibantu orang lain, kita harus mengucapkan terimakasih.” Kata sang neul
sedikit membentak.
“baiklah nona kang.” Goda yesung.
Sang neul hanya membuang muka
kebawah. Lagi, ia baru sadar jika sedari tadi tangan yesung masih menggenggam
tangannya. Yesung sendiri tidak akan sadar jika sang neul tidak melihat
kebawah.
“ah, maaf.” Kata yesung. Perlahan ia
melepas genggaman tangannya. Memisahkan jarak antar mereka.
Yesung sendiri merasa aneh dengan
dirinya. Kenapa ia lakukan itu?
Perlahan sang neul memberanikan
diri, dan chup~. Satu kecupan mendarat cepat di pipi kiri yesung. Yesung
sendiri hanya sedikit melebarkan matanya. Dan butuh beberapa detik untuk
mencerna tindakan yang dilakukan sang neul barusan.
“sebagai tanda terimaksihku.”
Sang neul segera keluar. Karena
beberapa detik dari tindakan yang sang neul lakukan, pintu lift kemudian
terbuka.
Yesung berusaha mengatur nafasnya.
Ia letakkan tangan kanannya pada bagian dada sebelah kiri. Yesung tidak perlu
menggunakan stetoskop untuk mengukur kecepatan detak jantungnya. Yang jelas ia
merasakan sesuatu. Yesung memang merasakan sesuatu. Ia merasa ada yang
tertinggal.
“sang neul-ssi..” panggil yesung.
“m mwo?” saut sang neul. Apakah
yesung akan marah dengannya? Pikir sang neul.
“aku akan kembali ke apartemen. Kau
tunggu di parkiran saja.”
“apa ada yang tertinggal?” Tanya
sang neul.
“ne. aku akan segera menyusulmu.”
Jawabnya.
Yesung menekan ID apartemennya.
Setelah terbuka, ia langsung menuju kamarnya. Membuka laci almari pakaian.
Kemudian benda kecil itu ia ambil.
“sungguh bodoh jika sampai
tertinggal.” Katanya. Kemudian ia masukkan benda kecil tersebut kedalam
kantong.
[super
junior k.r.y – sky]
Sang neul memilih untuk pergi ketaman saat yesung bertanya
ia mau kemana. Musim dingin tidak mengahalangi acara jalan-jalan mereka.
Walaupun yesung alergi dengan
dingin, tapi ia mencoba untuk tidak. Ia tidak ingin sang neul kecewa.
“kau baik-baik saja?” Tanya sang
neul saat mereka duduk di salah satu bangku taman.
“mwo? Tentu saja. Kau tenang saja.”
Jawab yesung.
“tapi kau terlihat tidak baik-baik
saja.”
“sudah, nikmati saja jalan-jalan
ini.”
“yesung-ssi.”
“ne?”
“sepertinya, aku harus mencari
pekerjaan.”
“untuk apa?”
“tentu saja untuk mendapatkan uang.
Kau kira selamanya aku akan menumpang di apartemenmu? Tentu saja tidak.”
“begitu rupanya.”
“lagipula, aku harus membayar hutang
ayahku.”
“sang neul-ssi, dengarkan aku.” Kata
yesung yang terlihat serius.
Sang neul menatap yesung. Mendadak
mimik wajah yesung menjadi serius. Sang neul mencerna setiap ucapan yang
dikatakan yesung. Bahkan ia sampai jarang tak berkedip. Ia terlalu serius
karena itu memang sangat serius.
“kenapa, kau melakukan itu?” Tanya
sang neul setelah yesung selesai berbicara.
“bukan apa-apa. Aku hanya tidak
ingin kau terbebani.”
“justru aku malah merasa
membebanimu. Kau sudah terlalu banyak menolongku.”
[snsd
– promise]
“tidak. Kau tidak membebaniku.
Sungguh.”
Mereka berdua saling menatap satu
sama lain. Sungguh pria yang bernama kim jong woon ini sangat baik. Bagaimana
bisa ia melakukan itu semua dengan orang yang ia tak kenal.
“yesung-ssi, bagaimana caranya agar
aku dapat membalas semua kebaikanmu.” Tanya yesung.
“tidak perlu.”
“ayolah, jangan membuatku merasa
tidak enak.”
“sudah kubilang tidak perlu. Lagi
pula, kau tidak akan bisa melakukannya.”
“mwo? Memangnya kau ingin apa
dariku?”
“bukan apa-apa. Aku yakin kau tidak
bisa.”
“ayolah, katakan sesuatu.” Paksa
sang neul. Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah bertengkar sama saat mereka
pertama kali bertemu.
“tinggallah bersamaku.” Kata yesung.
“mwo?”
“selamanya.” Lanjut yesung.
“mwo? Selamanya?”
“ne, waeyo?”
“apakah kau puas dengan hasil
kerjaku saat membersihkan apartemenmu?”
“bu bukan itu.”
“lalu? Kau menyuruhku tinggal
bersamamu. Dan kau bilang selamanya. Apa kau tidak mau merencanakan masa
depanmu? Aku bisa saja mengontrak sebuah rumah di dekat apartemenmu. Jadi kita
tidak perlu tinggal bersama. Lagipula, apa kau tidak ingin menikah? Kau bilang
jika umurmu 28 tahun.”
Yesung menunduk. Ternyata sang neul
tidak bisa menangkap pembicaraannya. Dia tidak berniat menjadikan sang neul
sebagai pembantu atau apalah yang berhubungan dengan itu semua. Ia meminta yang
lain. Tinggal bersama kurang lebih satu bulan, membuat yesung berpikir cukup
lama. Dan ia sudah memutuskan itu.
[Howl
– loving u]
Sang neul terkejut dengan tingkah
yang dilakukan yesung saat ini. Yesung berlutut didepannya. Membuat sang neul
menunduk untuk melihat wajah yesung dan membuat yesung mendongak untuk menatap
wajah sang neul. Lutut kiri yesung menyentuh tanah, dan kaki kanannya sebagai
penyeimbang.
“apa yang kau lakukan?” Tanya sang
neul heran.
Yesung meraih tangan kanan sang neul
dan menggenggamnya. Kemudian menatapnya dalam. Sang neul sedikit terkejut saat
melihat tatapan yesung yang menurutnya ini pertama kali ia lihat. Ini lebih
tulus dari tatapan yang ia lihat sebelumnya.
“menikahlah denganku.” Ucap yesung
pelan. Tapi walaupun begitu sang neul tetap bisa mendengarnya.
“apa? Kau bilan apa?” Tanya sang
neul.
“aku yakin kau mendengarnya nona
kang.” Yesung benar. Sang neul memang mendengarnya. Ia terlalu terkejut hingga
bertanya lagi.
“jangan bercanda yesung-ssi.
Leluconmu sungguh keterlaluan.”
“aku serius. Menikahlah denganku.”
“kenapa aku harus menikah denganmu?
Apakah karena aku sudah terlalu banyak merepotkanmu dan menghabiskan uangmu?”
“karena aku adalah orang pertama
yang mengajakmu.”
“jawaban macam apa itu?”
“jadi?” yesung menunggu jawaban sang
neul.
Sebenarnya ucapan yang ingin sang
neul katakana di apartemen itu adalah, bahawa ia menyukai yesung. Menyukai
sebagai seorang pria dewasa. Yah, walaupun jarak usia mereka 10 tahun, tapi
sang neul tidak mempermasalahkan itu.
“hey, aku menunggu. Kenapa kau malah
melamun?”
“ne, aku mau dokter kim jong woon.”
“mwo?”
“aish, apa aku harus mengulanginya?
Aku mau dokter yesung.”
“kau lucu sekali.”
Yesung pun mengambil kotak kecil
yang tadi hampir ketinggalan tadi.
“hampir saja ini tadi ketinggalan.”
“jadi ini yang kau ambil tadi?”
Tanya sang neul.
“ne. mana tanganmu.”
Perlahan sang neul mendekatkan
tangan kanannya ke arahnya yesung. Dan yesung mulai melepaskan cincin yang bagi
sang neul terlihat cantik itu dari wadahnya. Sekarang ia memiliki pemilik baru.
Cincin emas itu perlahan masuk ke jari manis sang neul, dan pas.
“sangat cocok.” Yesung tersenyum.
Sang neul menangis karena terharu.
Ia tidak menyangka jika hari ini yesung akan melamarnya. Orang yang mengajaknya
pulang, ia akan menjadi suaminya. Sang neul menangis bahagia.
“jangan menangis.” Kata yesung
sambil mengusap air mata sang neul.
“apa kau masih ingat ketika ada yang
ingin kukatakan padamu dan panggilan terlfon memotongnya?” Tanya sang neul.
yesung mengingat-ingatnya, dan ia ingat.
“ne. apa yang ingin yang kau katakan
pada saat itu?”
“aku mencintaimu yesung-ssi.”
“benarkah? Mungkin jika kau berhasil
mengucapkan itu, hari itu juga mungkin aku akan melamarmu.”
Dan yesung berhasil membuat pipi
sang neul merona merah.
***
“selamat pagi dokter kim.” Sapa
seorang suster.
“selamat pagi.” Balas yesung.
Sekarang pemilik tangan mungil itu
sudah ada yang memiliki. Dan mungkin beberapa minggu akan terdengar panggilan
nyonya kim.
Sang neul hanya tersenyum saat
donghae menggodanya. Ia sudah tahu jika temannya akan melamar gadis yang
bernama kang sang neul.
“yesung-ssi.” Panggil sang neul.
“ne?”
“aku ingin menjenguk ayah. Kau tidak
apakan aku tinggal?”
“tentu saja. Aku akan segera
menyusulmu.”
“baiklah.” Sang neul pergi
meninggalkan dua dokter tampan tersebut.
“jadi kau melamarnya barusan?” Tanya
donghae.
“ya. Aku tidak akan menyangka jika
dia akan menjawab iya.”
“apa kau yakin sang neul
mencintaimu?” Tanya donghae.
“aku tidak tahu. Tapi, aku sudah
mennyimpan setengah hati darinya.” Jawab yesung.
“kau harus mengundangku.”
“tentu saja.” Dan yang terdengar
hanya suara tawa mereka berdua.
Sang neul melihat ayahnya yang
sedang menonton TV. Ia yakin ayahnya sudah menunggunya dari tadi. Dan ada yang
ingin ia sampaikan pada ayahnya. Kabar gembira ini.
“selamat pagi ayah.” Sapa sang neul.
“kau sudah datang? Ayah menunggumu.”
“maaf, aku terlambat.”
“ayah ingin pulang. Sudah lama ayah
disini.”
“kita tunggu penjelasan dari dokter
kim.”
“haahh, dokter muda itu. Apa kau
bersikap baik padanya?” Tanya tuan kang.
“iya. Aku bersikap baik padanya,
ayah.” Jawab sang neul. “ayah, ada yang ingin aku beritahu untukmu.”
“apa?”
Sang neul memperlihatkan cincin yang
yesung kenakan untuknya. Tuan kang terkejut melihatnya. Ia tahu arti dari
peletakan cincin di jari manis.
“siapa yang melamarmu? Kau sudah
menikah?”
“hanya sebuah lamaran, ayah.”
“nuguya? Siapa laki-laki itu?”
“ayah mengenalnya.”
Tuan kang tampak berpikir. Jika ia
mengenalnya, hanya ada satu nama yang muncul di otaknya.
“dokter kim?” tebak tuan kang. Sang
neul mengangguk.
Tuan kang menangis. Ia juga tidak
menyangka jika dokter kim sebagai dokternya akan melamar putrid satu-satunya.
Setuju, tentu saja beliau sangat setuju.
“selamat anakku. Ayah doakan kau
bahagis bersamanya.” Tuan kang memeluk sang neul.
“terimakasih ayah. Aku
menyayangimu.”
Yesung hanya tersenyum haru
melihatnya. Keluarga baru, akan segera ia miliki. Jika mengingat-ingat pertama
kali bertemu dengan sang neul, yesung hanya tertawa kecil. Ia ingat bagaimana
sang neul mengejeknya,
“kau
membeliku? Berapa uang yang kau tawarkan untuk mereka? A, ini malam pertama
musim dingin. Kau mendapatkan potongan 25%. Kau sungguh beruntung. Paman, lebih
baik kau pulang.”
Alangkah baiknya jika ia bergabung
dengan keluarga barunya. Yesung melangkahkan kakinya menghampiri mereka berdua.
Dan senyuman hangat ia terima dari keluarga barunya.
“terimakasih
sudah mengajakku pulang. Kim jong woon, aku mencintaimu.”
END
Terimakasih
sudah mau membaca sampai akhir. Ini FF one shoot terpanjang saya.^^ diharapkan
tidak bosan-bosan untuk membaca sampai akhir. Seperti judulnya yang ‘go home’,
kita sebagai ELF akan selalu menunggu yesung untuk pulang. Termasuk eeteuk
oppa, heechul oppa, kibum oppa, dan tentunya hanggeng oppa. Kita berharap
mereka pulang dan kumpul bersama keluarganya. SJ and ELF à
forever & one.
#WeWillWaitKimJongWoon
See
you~^^
Komentar
Posting Komentar