Langsung ke konten utama

Fanfiction K S N


Girls Before Flower

Title       : Girls Before Flower
Author  : Intan Novela
Cast       : Park Ha Na
                  Lee He Na
                  Oh Ji Na
                  Shin Na Na
                  Kim Ki Bum
                  Other Cast
Genre   : Roman, family, friend
Rating   : All
Author said, “jika kalian tanpa sengaja baca atau memang niat untuk baca, tolong RCL ne? Gamsahamnida...” #bow^^




Apa kalian tahu F4? Sekumpulan, tidak maksudku adalah 4 namja yang tampan, keren, mempesona, dan juga dikagumi kalangan yeoja dan pusat utama tempat yang namanya iri oleh kaum namja.
Kalian membaca kisah mereka mungkin lewat TV atau cerita dari teman-teman kalian. Dan mengagumi mereka. Bahkan menempelkan foto mereka di dinding kamar kalian yang mungkin sudah tak muat karena terlalu banyak poster yang kalian pasang. Dan apakah kalian tahu, jika F4 memang benar-benar nyata. Ayah dari kakek buyutku adalah pemeran utama di F4 tersebut. Entah aku ini adalah penerus keberapa aku tidak tahu. Karena, jujur, kita berbelok sedikit dari ceritaku. Kau pernah mendapat nilai matematika 3? Hahahaha... bahkan aku lebih parah dari kalian. Bahkan nilaiku tak cukup untuk membagi angka yang harusnya menjadi pembagi. Kalian bingung? Oke, akan kuberi contohnya. Jika ada soal 10, dan setiap nilai, nilainya 2, alhasil jika benar semua akan dibagi dengan angka 2 dan hasilnya adalah sepuluh. Tapi percayalah, dari 10 soal, aku hanya mendapat nilai 1. Wow... itu aku bersyukur! Tapi nilai 1 itu masih harus di bagi 2. Dan kalain tahu berapa? Jika kalain tidak tahu, silahkan ambil alat penghitung yang dinamakan penemunya dengan nama calculator. Bahkan nilai 0 pun harus masih punya ekor. Yakni 0,5. Mengenaskan bukan? Bukankah itu hal yang memalukan untuk keluargu. Itu sepenggal dari nilai raporku. Kita kembali kembali kecerita siapa sebenarnya ayah dari kakek buyutku. Dia adalah........ Park Jun Pyeo!
Pada usia mudanya dia sangat terkenal. Tapi kau tahu sendirikan, dimana ada muda disitu pasti ada tua. Dan sekarang, dia tengah beristirahat dengan tenang dengan bidadari yang menemaninya. Baca: surga!
Oke, aku memang tidak heran jika aku ini cantik. Bagaimana tidak? Setiap keturunan dari Pak Jun Pyeo, mereka harus memasang foto beliau dan itu pun tidak hanya dengan ukuran 10x15 cm. Tapi ukuran yang mungkin dilihat dari jarak 20 m, orang akan kenal siapa foto tersebut. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk foto dengan ukuran 3x5 meter? Tapi jika boleh jujur, biaya itu sangat kecil bagi penerus Park Jun Pyeo. Dan kau tahu bagaimana wajah kakekku? Oh demi Tuhan. Aku bingung harus memanggil beliau dengan sebutan apa. Aku bahkan berpendapat dia lebih tampan dengan penyanyi yang bernama Choi Siwon itu. Bahkan jika kakekku masih hidup, aku akan mengajaknya jalan-jalan ke mol. Hhhhhh.....
Dan disinilah aku. Berdiri kurang dari 5 meter menatap foto kakeku. Park Jun Pyeo. Dan kenalkan, aku adalah Park Ha Na. Entah generasi yang keberapa, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.

Ha na POV End
Author POV

“bagaimana bisa istilah F4 itu muncul lagi? bukankah istilah itu yang terakhir digunakan waktu kakek masih muda?” gumam Ha Na. “tapi sekarang berbeda. F4 sekarang adalah yeojadeul. Dan kau tahu kakek Jun Pyeo? Jika cucunya yang cantik ini juga termasuk anggota genk tersebut.” Lanjutnya.

“Ha Na.... cepat keluar...” panggil seorang wanita yang tak lain adalah umma Ha Na.

“cucumu memanggil. Aku berangkat sekolah dulu ne, kakek tampanku.” Ha Na mengedipkan genit sebelah matanya. Berbelik lalu berlari kecil. Tapi baru beberapa langkah, Ha Na berbalik. “yang aku herankan, kenapa kau bisa jatuh cinta dengan yeoja yang bernama Geum Jan Di itu? dia pasti yeoja yang sangat hebat.” Ouji Ha Na, lalu kembali berlari.

Dan pertama kalinya Ha Na masuk sekolah setelah liburan musim panas. Kembali dengan teman-temannya. Dia sungguh tidak sabar. Tapi tunggu. Bukankah dia sekarang anggota genk F4? Yang berarti gerakannya sangat terbatas. Bahkan Ha Na sendiri heran kenapa orang-orang begitu mengagumi mereka. Bukankah mereka sama-sama anak sekolah dan tentunya sama-sama manusia?
Ha Na menginjakkan kainya di gerbang Shinwa. Sekolah kakeknya dulu juga. Dan sampai sekarang, Ha Na masih terkagum-kagum dengan kekayaan yang dimiliki keluarga yang bermarga Park tersebut.

“kau melamun apa adik kecil?” sapa seorang yeoja. Hana menoleh. Seulas senyum tercetak dibibirnya.
“Lee He Na?” panggil Ha Na.
“kami juga disini.” Tambah suara seorang yeoja lagi. Dan Ha Na melihat 2 temannya yang sedang berangkulan.
“Oh Ji Na, Shin Na Na...” panggil Ha Na. “aku sangat merindukan kalian...” Ha Na langsung memluk mereka berdua. Sedangkan He Na hanya memasang wajah pura-pura kesal dengan alasan karena mereka melupakan dirinya.
“maaf He Na, kami melupakanmu. Hehehe... ikutlah bergabung.” Ajak Ha Na. Dan He Na langsung memberikan mereka sebuah senyumannya.

Berpelukan di depan pintu gerbang sekolah, membuat mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan sampai ada yang mengambil foto mereka. Terutama bagi kalangan namja.

“sesi pelukan selesai. Saatnya kita menampilkan aura kecantikan kita pada mereka.” Kata He Na dengan nada sombongnya.
“oh ayolah, jangan seperti itu.” kata Ha Na.
“adik kecil, kau harus segera pada posisimu.” Kata Ji Na.
Dan Ha Na hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Mengiyakan keinginan He Na dan Ji Na. “baiklah.”

Kalian berpikir mereka akan berjalan dengan formasi 4 serangkai? Tentu saja tidak. Yang hanya malah mereka tidak akan muat untuk melewati pintu. Bukan merekanya yang lebar. Tapi memang pintu sekolah saja yang terlalu sempit. Itu pikir mereka. Dan formasi yang mereka gunakan adalah 1-3. Dimana salah satu mereka harus didepan layaknya pemimpin. Dan itu adalah Ha Na. Itulah alasannya Ha Na tidak mau.

Jika kalian meneliti dengan seksama nama mereka, nama mereka berakhiran ‘Na’ sama. Itu bukanlah hal kebetulan. Seperti F4 sebelumnya, mereka berkenalan di TK Shinwa. Dari seorang bocah, mereka berjanji akan menjadi sahabat selamanya. Apalagi didukung jika mereka berempat adalah keluarga yang terpandang di Korea. Dan terkadang orang tua mereka saling bekerja sama dalam dunia bisnis.

Ha Na menoleh kebelakang. Menatap temannya. Dia tersenyum dan teman-temannya tahu apa maksud dari senyum itu. ha Na meminta sesuatu.
“ayolah... kau masih tetap ingin bertemu dengan pemuda berkaca mata tebal itu?” tanya Na Na.
“kenapa kau malah ingin bertemu dengannya daripada dengan Michael?” tanya Ji Na.
“nona Park Ha Na, silahkan jawab pertanyaan mereka.” Kata He Na.
“aku hanya ingin bertemu temanku. Aku mohon. Aku akan menyusl kalian. Da....” kabur Ha Na. Dia takut jika teman-temannya tidak mengijinkannya.

Dan ngomong-ngomong soal Michael, dia adalah murid namja yang berasal dari luar negeri. Bisa di bilang dia adalah orang blasteran. Antara korea dengan amerika. Dan Ha Na mengenalnya berkat bantuan teman-temannya. Dan sudah 2 bulan mereka menjalin kasih. Tanpa sepengetahuan ketiga temannya, sebenarnya hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Entahlah, saat Ha Na dikenalkan, dia hanya merasa biasa saja. kalimatnya, F4 versi yeoja tidak boleh ada yang jomblo.

Ha Na berjalan mengendap-endap menuju ruang dimana dia bisa bertemu dengan Kibum. Laki-laki berkaca mata yang dikatakan Na Na tadi. sebenarnya Ha Na sudah lama mengenal Kibum. Begitu pula dengan orang tua Ha Na. Hanya saja, ada sedikit rahasia, atau mungkin malah banyak yang sedang Ha Na dan Kibum dari hal layak dan terutama ketiga teman Ha Na.

“kau mencariku?” sapa Kibum. Ha Na tercengat. Karena suara itu muncul dari belakang. Dan saat menoleh, Ha Na melihat Kibum dengan senyum khasnya.
“apa kabar?” sapa Ha Na.
“aku baik. Kau sendiri?” tanya Kibum juga.
“aku huga.” Jawab Ha Na tersenyum. “bagaimana liburan musim panasmu?” tanya Ha Na. “apa kau jadi pergi ke Hawai?” lanjut Ha Na.
Dengan gerakan cepat, Kibum segera membekap mulut Ha Na dengan tangannya. Membiarkan buku bacaan yang dibawa Kibum jatuh.

“adik kecil, kau terlalu keras. Hm?” ingat Kibum
“arraseo arraseo. Tapi kau tidak perlu membekapku seperti ini.” Kesal Ha Na.
“hahahaha....” tawa Kibum. Namun detik kemudian, dia melihat Ha Na perlahan-lahan bersandar pada rak buku dan merosot duduk di lantai. Kibum melihat perubahan raut wajah Ha Na. Kibum tersenyum. Dia tahu jika Ha Na sudah bersikap seperti ini.

“ada apa?” tanya Kibum.
“tidak apa-apa.” Jawab Ha Na cuek.
“baiklah.” Sambung Kibum.
“kau tahu, ternyata kakek buyutku Prk Jun Pyeo, dulu juga seperti kami.” Kata Ha Na memulai pembicaraan lagi.
“F4?” tebak Kibum. Ha Na mengangguk.
“aku tahu.”
“kau tahu? Darimana?”
“hahaha... kau lupa, aku ini siapa?”
“ck, kau ini.” Decak Ha Na. “aku harus pergi.” Ha Na berdiri. Membersihkan roknya yang menurutnya kotor.
“ne. Setidaknya kau sudah menemuiku.” Kata Kibum tanpa melihat lawan bicaranya. Pandangannya masih fokus pada buku.
“kibum?” panggil Ha Na.
“ne?”
“apakah selamanya kau akan merahasiakan semua ini?” tanya Ha Na.
“tentu saja tidak. Cepat atau lambat, masyarakat akan mengenal wajah tampanku ini.” Kata Kibum disertai tawa kecil.
“aku menyesal telah bertanya seperti itu.” Ha Na memajukan bibirnya.
“itu benar. Sependai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya dia akan jatuh juga. Hanya saja, ini masalah waktu. Kau tahu?”
“tentu saja. aku jauh lebih mengenalmu dari pada orang tuamu sendiri.”
“senang bisa mengenalmu.” Kata Kibum.
“aku juga. Sampai jumpa.” Pamin Ha Na lalu pergi. Kibum hanya melihat punggung Ha Na yang semakin menjauh, dan kemudian hilang saat Ha Na berbelok kekiri. Seulas senyum terbentuk di bibir Kibum.

Ha Na menemukan teman-temannya yang sedang berkumpul di  kantin. Lalu dia menyusulnya. Menyapa satu per satu nama anggota genknya, lalu ikut duduk.

“ada apa?” tanya Ha Na saat semuanya menatapnya.
“dia mencarimu.” Kata Ji Na.
“nuguya?” tanya Ha Na lagi.
“kau sudah berpacaran 2 bulan dengannya. Tapi kau malah tanya ‘nuguya’?” kata He Na.
Haaahh... ternyata dia. Pikir Ha Na. Tentu saja. dia yang teman-temannya maksud siapa selain Michael?
“kenapa dia mencariku?” tanya Ha Na. Teman-temannya menggeleng. Mereka berpikir, Ha Na tidak peka.
“tentu saja karena dia merindukanmu adik kecil.” Jawab He Na.
“o...”
“apa? Hanya O? Tidak ada yang lain? Kau seperti menganggapnya bukan pacarmu.” Kata Na Na.
“memang iya. Aku, tidak menyukainya.” Kata Ha Na kaget.
“MWO???” teriak mereka bertiga.
“Park Ha Na, kau?”
“aku tidak percaya. Jadi apa arti 2 bulan itu apa?”
“kau bercandakan?”
“aku akan menemuinya. Dan mengatakan sejujurnya.” Ha na beranjak.
“tapi... kau tidak bisa begitu Ha Na.” Kata He Na.
“kenapa tidak bisa?” tanya Ha Na. “bukankah kalain bertiga yang menyuruhku untuk mengenalnya dan menyuruhku utuk menerima cintanya?” lanjut Ha na dengan nada sinis. Ini pertama kalianya mereka mendengar Ha na berkata seperti itu.
“adik kecil...”
“berhenti memanggilku seperti itu He Na! Kita hanya berjarak beberapa bulan. Ya, walaupun aku yang bulan terakhir dari kita berempat. Tapi sungguh aku tidak suka panggilan itu!”

Ha Na pergi. Membiarkan ketiga temannya tercengang. Peryama kalinya mereka mendengar Ha na berbicara seperti itu. pertama kalinya melihat Ha Na marah seperti itu.
Jika diamati dari sifat mereka berempat, He Na lebih dulu bulannya. Jadi bisa dibilang dialah yang tertua dari genknya. Memiliki sifat pemaksa dan ingin menang sendiri. Tapi dibalik itu semua, ia paling gampang tersentuh. Apalagi melihat Ha na marah seperti tadi.
Kedua adalah Shi Na Na. Dia lebih cuek namun respect. Walaupun sedikit bicara, dia mendengar seksama jika temannya sedang mengobrol. mungkin itu karena orang tuanya yang sudah bercerai. Tapi dibalik sifat Na Na yang sedikit bicara, kadang-kadang dia seperti He Na, pemaksa.
Ketiga, Oh Ji Na. Dia seperti Ha Na. Hanya saja dia tidak bisa menahan emosinya. Jika ia ingin mengatakan A. Maka dia haru smengeluarkannya tanpa memperdulikan persaan orang lain. Tapi semua sifatnya itu tertutupi dengan sifatnya yang perhatian dengan anggota genknya. Termasuk maknae di genk tersebut.
Dan yang terakhir adalah Park Ha Na. Anak dari pemilik Shinwa yang sangat lemah terhadap matematika. Ha Na lebih ke sifat yang penyabar dan penurut. Sebenarnya dia mempunyai prinsip. Hanya saja, dia tidak mau membuat teman-temannya kecewa terhadapnya. Dan sifat Ha Na inilah yang membuat temannya salah paham.

Itulah sepenggal dari beberapa sifat anggota genk F4 versi yeoja. Dan kita kembali pada Ha Na yan sedang mencari Michael.

Kenapa Ha Na tidak menyukai Michael? Dia kaya, baik, keren, tampan, dan mempesona. Tapi satu yang tidak disukai ha Na dari Michael. Dia tipe orang yang agresif dan, sedikit sombong. Atau mungkin menurut Ha na malah banyak? Bukan sedikit.

“aku ingin bicara denganmu.” Kata Ha Na yang menemukan Mivhael sedang kumpul dengan teman-temannya.
“darling. How are you. Tadi aku mencarimu. Tapi temanmu bilang, kau sedanga ada urusan. Kau ada urusan dengan siap? A, aku sangat merindukanmu. Tapi aku senang akhirny akau datang mencariku.”

Dan satu lagi sifat Michael yang tidak disukai Ha Na. Michael itu sangat cerewet. Bahkan lebih cerewet dari umma Ha Na.
“ayo..” ajak Ha Na tanpa menjawab pertanyaan Michael terlebih dahulu. Menggandeng lengan Michael. Atau mungkin, lebih tepatnya adalah menyeretnya ke tempat yang sepi.
“ada apa chagiya?” tanya Michael saat mereka berada di halaman belakang sekolah.
“em.. aku,” Ha Na bingung harus memilih kata untuk meminta putus dari Michael. “kita putus!” jawabnya tegas.
“ya ya ya... aku tahu kau memang merindukanku....” “...” “WHAT? Putus? Kenapa?” tanya Michael yang baru sadar. Karena Ha Na mengucapka kata putus. Bukan kata merindukannya.
“selama liburan musim panas, aku banyak berpikir tentang hubungan kita. Dan setelah aku pikir-pikir, ternyata aku menerimamu karena paksaan dari temanku.” Jawab Ha Na.
“tapi Ha Na....”
“please Michael, jangan buat aku seperti yeoja yang jahat. Mungkin kau bisa mendapatkan yeoja yang lebih baik dariku.”
“tentu saja.”
“apa?” tanya Ha Na. Dia tidak menyangka jika Michael akan mengatakan kalimat tersebut.
“yeoja yang payah dalam hal ciuman sepertimu, itu tidak menarik.”
“mwo?”
“aku senang kita putus. Karena dulu aku memang ingin mendapatkanmu. Seorang maknae dalam F4. Wow.... bukankah itu menarik?” kata Michael sinis.
“aku senang. Kukira kau akan berlutut memintaku untuk tidak putus denganku. Jadi, bye. Selamat mencari yeoja yan kau anggap ahli dalam hal berciuman.” Setelah mengatakan itu, Ha Na langsung pergi. Dengan amarah yang menggebu-gebu. Ternyata benar apa yan dirasakan Ha Na. Selama berpacaran dengan Michael, tidak ada rasa kehangatan maupun kenyamanan yang ia rasakan. Yang ada hanyalah rasa bosan. Rasa bosan yan melebihi saat dia belajar matematika.
Dan saat dia sedang kesal seperti ini, secara otomatis kakinya akan membawanya kesuatu tempat dimana Ha Na sendiri sudah tahu.

“astaga.” Kaget kibum. “aku tidak merasakan hawa kehadiranmu.” Kata Kibum jujur.
“huhuhu...hu..hu..hu...” Ha Na menangis.
“kau kenapa?” tanya Kibum.
“semuanya menyebalkan...” jawab Ha Na.
“jika semuanya menyebalkan, kenapa kau menemuiku? Bukankah aku juga terhitung?”
“oh ayolah kibum, tolong hibur aku. Tentu kau tidak terdaftar dalam kata semua.” Kata Ha Na muram.
“baiklah. Ceritakan padaku.” Kibum menutup bukunya.
“aku merasa hari pertama masuk sekolah ini, sangat menyebalkan.” Ha Na menyandarkan kepalanya di bahu kanan Kibum.
“lalu?”
“aku bertengkar dengan teman-temanku. Aku....” dan Ha Na menceritakan dari awal sampai akhir. Saat Michael mengatakan jika dia termasuk yeoja yang tak ahli dalam berciuman.

“ternyata selain tidak ahli dalam matematika, kau juga tidak pandai dalam hal berciuman. Hahaha....” bukannya menghibur, Kibum malah tertawa.
“berhentilah tertawa. Kau sama saja dengan mereka. Kau menyebalkan.” Kesal Ha Na.
“maf-maaf. Bukan begitu maksudku.” Kata Kibum menyesal. “lagi pula, kaunya saja yang tidak ahli. Hanya saja, kau memang tidak sedang ingin berciuman dengan Michael mantan pacarmu.” Kibum mengambil nafas. “ciuman dilakukan jika yeoja dan namja itu saling menyukai.” Lanjutnya.
Ha Na terlihat berpikir. mencoba mencerna kaliamt Kibum barusan. Dan setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga penjelasan Kibum tadi.

“bagaimana dengamu? Apa kau juga ahli dalam ciuman?”
“park Ha Na, sepertiny akau belum tahu maksud dari ucapanku tadi.” Ha Na sedikit memiringkan kepalanya.
“ciuman tidak butuh skill. Karena itu berasal dari hati. Seperti halnya ini.” Kibum meraih tengkuk Ha Na. Memiringkan sedikit, dan......

“kyaa.... kau? Kenapa malah menciumku?” bentak Ha Na.
“ssssttt.... kau keras sekali. bagaimana jika ada orang yang kesini?”
“tapi kau... lupakan.”
“kau memakai yan rasanya apel?”
“mwo?”
“rasa apel.” Kata Kibum tersenyum. Bahkan ia merasa tidak bersalah karen atelah mencium Ha Na tiba-tiba.
“hey jangan murung seperti itu...” kata Kibum. “bagaimana kalau kita ke Jeju?” ajak Kibum.
“mwoya??”
“ayo...” kibum berdiri sambil menggandeng tangan Ha Na.
“tapi...”
“tidak masuk 1 hari tidak apakan?”
“tapi kenapa kau malah membawaku kelapangan belakang?”
“hanya satu hari. Untuk ini dan besok. Jadi kita harus cepat.”
“bagaimana bisa?” tanya Ha Na.
“kau lupa siapa aku?” Kibum menyeringai.
“pak Han, tolong jemput aku ne? Aku ada di halaman belakang sekolah. Iya. Dan tolong siapkan pakaian tamasya untukku dan seorang yeoja. Ukuran? Apa maksudmu? Ow... ukuran seperti, Park Ha Na. Ne. Kami tunggu.” Kibum mematikan ponselnya. “mudahkan?”
“kau keren Kim Kibum.” Ha Na tersenyum.

Setelah menunggu menunggu kurang lebih 15 menit, Kibum dan Ha Na melihat helikopter yang mendarat beberapa meter dari mereka. Dan dari dalam pesawat itu, turun seorang ajussi yang memakai pakaian tuxedo hitam yang mewah.
“maaf jika kami lama tuan.”
“tidak apa. Kau sudah menyiapkan semuanyakan, pak Han?” tanya Kibum.
“tentu saja tuan. silahkan masuk.” Jawab pak Han. Dan saat melihat Ha Na, ajussi itu menyapanya. “selamat berlibur nona Park.” Sapanya.
“gamsahamnida paman.”

Setelah memakai peralatan dengan lengkap, helikopter itu mulai terbang menuju pulau jeju. Dengan menggunakan helikopter seperti itu, Kibum dan Ha Na bisa dengan cepat sampai di pulau Jeju hanya dengan waktu satu setengah jam.

Pak Han hanya tersenyum menanggapi kelcuan mereka berdua. Dimatanya, Pak kang malah menganggap jika Ha Na adalah wanita yang istimewa bagi Kibum. Karena setahu dia, Kibum tidak pernah perhatian seperti ini pada teman wanitanya. Atau mungkin, Kibum hany abergaul dengan Ha Na saja?

“jadi kita akan tinggal di apartemen ini?” tanya Ha Na. Kibum mengangguk. “wahh.. kau memilih tempat yang tepat. Dari atas sini, kita berhadapan langsung dengan sunsite.” Lanjut Ha Na senang. Bahkan Kibum tak lagi menemukan wajah muram di raut wajah Ha Na.

Setelah berganti pakaian santai, akhirnya liburan mereka pun dimulai. Dimulai dari mengunjungi kebun binatang jeju, taman bunga jeju, sampai tempat-tempat yan bukannya sebagai tempat wisata, mereka malah mendatanginya.

Tapi tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang mengikuti mereka. Seorang ajussi yang dilihat dari penampilannya adalah seorang wartawa. Setelah beberapa kali memotret, ajussi itu tersenyum melihat gambar hasil potretannya. “ini akan menjadi halaman utama di koran.” Gumamnya.

Ha Na mengerjap-ngerjap karena suara ponselnya yang terus berbunyi. Dengan malas, dia mengangkat ponselnya.
“halo...” sapa Ha Na. “umma, ada apa? Lihat di TV? Memangnya kenapa? Dan berita koran? Baiklah.” Ha Na berjalan ke arah ruan TV dan menyalakannya. Mata Ha Na langsung melebar saat berita itu membahas dirinya dan Kibum. “umma kenapa wajahku dan Kibum ada di TV? Umma tidak tahu? Aku? aku ada sedang berlibur bersama Kibum di Jeju. Iya hanya berdua. Tapi tidak terjadi apa-apa. Baiklah aku akan membangunkan Kibum.” Dan telpon pun terputus. Ha Na langsung berlari menuju kamar Kibum. Dan mendapati Kibum yang sudah rapi dengan pakaian santainya sedang menonton TV.
“kau lihat berita tadi?” tanya Ha Na.
“ne.”
“bagaimana ini? Media....”
“tidak apa. Lagi pula, aku sudah mengatakan padamu jika cepat atau lambat, masyarakat akan melihat wajah tampanku.” Potong Kibum dengan santai.
“Kibum....”
“tidak apa. Kau pasti belum mandi. Mandilah. Sementara, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.” Potong Kibum lagi.

Bukan. Bukan itu masalahnya. Hanya saja, Kibum pernah bercerita pada Ha Na jika Kibum ingin identitasnya sebagai anak dari keluarga Kim terahasiakan dari media manapun. Ia ingin menyelesaikan sekolahnya di Shinwa terlebih dahulu. Tanpa memikirkan para paparazi yang mengejarnya. Dan sekarang, berita tentang Kibum dan Ha Na menjadi topik utama di stasiun TV Seoul.

Sebenarnya Kibum adalah anak nomor 3 dari 3 bersaudara. Ya, dia maknae di Keluarga Kim. Kalian tahu siapa keluarga Kim? Mereka adalah pemilik grup terkenal nomor 2 setelah Shinwa. Grup Dangwae. Kedua orang tua mereka saling bekerja sama. Maka dari situlah awal pertemuan Kibum dengan Ha Na. Diwaktu mereka usia 7 tahun. Dan sungguh tak masalah jika Kibum meminta pak Han tadi untuk menyiapkan  segala keperluan untuk liburannya. Kalian bahkan tidak bisa membayangkan seberapa kayanya mereka.

“apa setelah sarapan ini, kita pulang saja?” kata Ha Na membuka pembicaraan.
“tapi bukankah hari ini inti liburan kita?”
“aku tahu. Tapi....”
“tidak apa. Kita hadapi mereka. Lagi pula, ada yang ingin kukatakan agar seluruh Korea tahu.” Potong Kibum.
“tentang apa?” tanya Ha Na.
“kau nanti juga akan tahu.”

Ha Na berdiri disamping Kibum. Dan disamping Kibum sudah ada pak Han. Sejak berita itu, pak Han langsung disuruh orangtua Kibum untuk menyusul anak mereka. Pak Han tahu, apa yang harus ia lakukan nanti.

“ini bukan pertama kalinya kau diwawancaraikan?” tanya Kibum.
“jangan gugup nona Park.” Hibur pak Han.
“aku malah mengkawatirkanmu.” Kata Ha Na. “kau terlihat sangat santai.” Lanjutnya.
“kau siap?” tanya Kibum. Karena jika pintu lift ini terbuka, maka akan ada banyak lampu-lampu camera yan akan memotret mereka. Tanpa seijin Ha Na, Kibum menggeggam tangan Ha Na. Dan....... benar saja. sudah banyak wartawan yan menunggu mereka.

“kibum-ssi kenapa kau merahasiakan identitasmu jika kau sekolah di Shinwa?” satu pertanyaan dari reporter stasiun XX
“apa alasan anda merahasiakan ini semua Kibum-ssi?” pertanyaan dari wartawan majalah XX
“hari ini adalah hari kedua masuk sekolah setelah liburan musim panas. Tapi kenapa anda malah berlibur berdua dengan anak dari grup Shinwa?” wartawan dari koran XX
“nona Ha Na, apa komentar anda?”
“dan kenapa kalian liburan hanya 2 orang? Apa ada maksud tertentu?” dan Kibum tertarik dengan pertanyaan ini.

Kibum berhenti berjalan, dia menoleh kearah pak Han. Dan kemudian pak Han mengangguk memberikan isyarat.

“bisakah kalian tertib? Kalian membuatnya takut.” Nya- yang dimaksud tentu adalah Ha Na. “aku akan menjawab petanyaan kalian, tapi bisakah kalain beri kami ruang?”

“kami tidak membolos. Pak Han sudah menyiapkan semua. Dan masalah liburan ini, aku hanya sedang ingin menghibur Ha Na.”
“kenapa aku merahasiakannya? Karena aku memiliki sifat seperti ummaku.” Jawab Kibum sedikit bercanda dan diikuti tawa para reporter. Bahkan pak Han tersenyum kecil. “itu memang benar. Tapi alasanku yang sesungguhnya adalah, aku ingin fokus pada sekolahku. Aku juga tidak ingin mengganggu murid Shinwa lainnya yang sedang belajar.”
“soal liburan ini, tadi aku sudah memberitahu kalian jika aku sedang ingin menghibur Ha Na. Dan kenapa hanya berdua? Tentu saja karena hanya dialah yang sedang ingin kuhibur.”
“sepertinya anda sedan menjalin kasih Kibum-ssi...” satu pertanyaan dari wartawan yang bermabut botak.
“Park Ha Na adalah yeojachinguku.” Dan mendengar itu, Ha Na langsung menoleh kearah Kibum dengan cepat. Merasa terkejut dengan pengakuan Kibum barusan. “jadi, bisakah kalian memberi kami waktu untuk berdua? Terimakasih....”

Dan pak Han harus melindungi mereka berdua dari desakan wartawan. Samapi mereka berhasil masuk kedalam mobil hitam.

“kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Ha Na.
“akan kujelaskan nanti.” Jawab Kibum. “kita langsung ketujuan terakhir.” Kata kibum ke pak sopir.

Setelah kurang lebih 1 jam melakukan perjalanan, Kibum turun dari mobil. Kemudian disusul dengan Ha Na. Begitu menginjakan kaki ke tanah, Ha Na langsung tercengang dengan tempat yang di tujukan Kibum. Matanya terus melihat kesekeliling. Dia tahu tempat apa ini. Karena ini adalah tempat pertama kaliny Kibum dan Ha Na bertemu. Di ujung pulau Jeju. Tepatnya didataran tinggi.

“ini....”
“harusnya kita kesini malam hari. Sekaligus untuk makan malam dan melihat bintang. Tapi karena ada insiden, jadi aku memutuskan untuk membawamu kesini sekarang.” Potong Kibum. “aku tidak tahu bagaimana cara seorang namja menyampaikan perasaannya pada seorang yeoja. Karena aku belum pernah melakukan. Tapi, menurut kata hati, aku harus melakukan seperti ini.” Kibum meraih tangan Ha Na. Menggenggamnya hangat. “kau mau hubungan kita lebih dari seorang teman masa kecil?” tanya Kibum dengan menatap Ha Na.
“lihat. Kau bersemu merah Kim Kibum. Apakah kau semalu itu?” goda Ha Na.
“kau hanya tinggal bilang iya atau tidak.” Kata Kibum yang sepertinya tak tertarik dengan godaan Ha Na. Malahan Ha Na yang  merasa salah tingkah mendengar ucapan Kibum tadi.
“aku tidak tahu.” Kata Ha Na.
“kenapa?”
“aku baru putus dengan seseorang. Apakah aku harus menerima cinta dari namja lagi? secepat itu?”
“tapikan kau yang memutuskannya. Lagi pula, kau tidak menyukainya.”
“kita jalani saja ne?” kata Ha Na tersenyum.
“baiklah adik kecil...”
“jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu lagi!” kesal ha Na tiba-tiba.
“waeyo? Bukankah itu nama manis yang diberikan He Na untukmu?”
“mereka mengartikan arti adik kecil dengan salah.”
“maksudmu?”
“aku tidak tahu.”

Malam harinya, keluarga Park dan keluarga Kim langsung mengadakan acara pesta. Entahlah. Seakan-akan pesta itu tanpa ada rencana sebelumnya. Hanya saja, mendengar pengakuan Kibum yang disiarkan di TV tadi, kedua keluarga itu sangat bahagia. Dulu, mereka berencana bahwa akan menjodohkan Kibum dengan Ha Na setelah mereka lulus SMA. Tapi siapa sangka jika Kibum akan melakukan hal yang senekat itu. termasuk Ha Na.

“kenapa kau mengajakku keluar? Bukankah pestanya akan dimulai?” tanya Ha Na.
“aku tidak suka dengan keramaian.” Jawab Kibum.
“lalu?”

Kibum tidak langsung menjawab. Karena dia melihat 3 teman Ha Na. Ha Na hanya diam saja. tatapan mereka bertiga terlihat seolah-olah menganggap Ha Na bukan lagi bagian dari mereka hanya saja, itu hanyalah sandiwara mereka. Dan saatnya 3 gadis itu berakting.

“kibum-ah... kenapa kau tak bilang dari dulu jika kau adalah anak dari perusahaan Dangwae?” tanya Ji Na dengan genitnya.
“untungnya aku tidak punya pacar. Kibum-ssi apa kau mau menjadi pacarku?’ tawar Na Na.
“kau lebih tampan tanpa kacamata. Jadi, lepas saja kaca mata itu.” kata He Na.

Kibum menatap mereka satu per satu. Bingung dengan sifat yeojadeul ini.

“kau. Lee He Na. Bukankah kemarin kau ditembal Lee Dong Hae dan menerimanya?” Kibum menatap He Na. “dan kau, Shin Na Na. Kukira kau sudah bertunangan dengan namja yang bernama Lee Sung Min.” “dan untuk kau Oh Ji Na, kau kan masih punya pacar yang bernama Cho KyuHyu?”

Mereka bertiga merasa kesal dengan Kibum. Tapi sungguh mereka hanyalah pura-pura berakting. Hanya ingin melihat reaksi Ha Na. Tapi sedari tadi Ha Na hanya diam saja.

“aku ingin bicara denganmu.” Kata He Na.
“Kibum, bisakah kau tinggalkan kami berempat?” tanya Ji Na. Kibum melihat mereka bertiga satu per satu.
Merasa tidak akan ada masalah, Kibum pun mengiyakan. “baiklah. Aku tunggu kau di halaman samping.” Pamit Kibum pada Ha Na.
Sempat hening sebentar. Ha Na tidak tahu harus bicara apa. tapi jujur, Ha Na mereasa rindu dengan mereka bertiga. Sekarang perasaan kesal itu sudah menghilang. Well, itu berkat Kibum.

“kami kecewa denganmu Park Ha Na.” Kata He Na. Ha Na menatap He Na. Good. Temannya ini masih marah dengannya. Itu yang dipikirkan Ha Na.
“setidaknya kau tidak merahasiakan ini pada kami.” Sambung Ji Na.
“aku....”
“dan panggilan adik kecil itu pantas untukmu. Bahkan saat kau berkata keras pada kami.” potong Na Na.
“kau anggap kami apa Ha Na?” tanya He Na. “apa selama ini persahabatan kita tidak ada artinya?” lanjutnya.
“aku....”
“maaf jika sifat kami membuatmu membenci kami. Tapi bukankah sahabat itu setia saat kita sedang sedih maupun sedang bahagia? Melengkapi kekurangn, dan saling menyayangi satu sama lain.” Na Na mengambil alih.
“saling menghargai. Saling terbuka. Jika kau tidak suka dengan Michael, kenapa kau tidak bilang pada kami? Kenapa kau malah bilang ‘iya’ seakan-akan kau menyukainya sama seperti halnya.” Kali ini Ji Na.
“aku.... aku tidak berpikir seperti itu.” yah, mata Ha Na mulai terasa panas.
“kemarilah adik kecil.” Kata He Na. Dan detik itu juga, dia merasa panggilan itu sangat manis. Seperti yan dikatakan Kibum.
Perlahan Ha Na mendekat ke arah He Na. Dan langsung berhambur memeluk He Na.
“aku sayang pada kalian..” kata Ha Na.
“aku tahu.” Kata He Na.
“kalian tidak mengajak kami berdua, ha?”protes Ji Na yang pura-pura marah.
Ha Na dan He Na melepas pelukannya. Lalu menatap Ji na dan Na Na.
“ayo...” dan akhirnya F4 versi yeoja kembali rukun. Bahkan H Na pun ikut menangis terharu. Kau lupa, jika dia memiliki sifat yang mudah tersentuh.
“lebih baik kita lanjutkan besok. Kasian Ha Na.” Kata Na Na.
“wae?” tanya Ha Na.
“kau lupa, kalau ada orang yang sedang menunggumu.” Jawab J i Na.
“Kibum,” gumam Ha Na.
“tepat sekali. cepat temui dia.” Suruh Na Na.
“tapi...” Ha Na merasa bingung.
“kami sudah mendengar semuanya Ha Na.” Kata He Na.
“mendengar apa?” tanya Ha Na.
“waktu kau sedang marah dengan kami, kami mengikutimu yang sedang menemui Kibum. Dan kami mendengar dengan jelas curhatanmu dengannya.” Jawab Ji Na.
“bahkan kami mempunyai foto kau sedang ingusan. Hahahaha....” lanjt He Na.
“kalian......”
“dan tentunya ciuman singkat itu.” goda Na Na.
“kalian!!!!” Ha Na merona.
“sudah-sudah. Cepat temui dia. Dia pasti sudah menunggu lama.” Suruh He Na.
“baiklah. Aku pergi dulu.” Pamit Ha Na.

Kibum duduk sambil mendongak melihat langit malam. Hari ini langit cerah. Terbukti dengan banyak bintang yang bertaburan. Namun sekali lagi, dia melihat jam tangannya. Lama. Itulah pemikirannya.

“maaf telah membuatmu menunggu lama.” Kata Ha Na dengan nafas yang tidak teratur. Ya, tadi Ha Na berlari.
“sebagai pacar yang baru jadian, aku maafkan. Tapi lain kali jangan diulangi.” Kata Kibum dengan nada yang dibuat seakan-akan dia sedang marah.
“maafkan aku chagiya...” kata Ha Na dengan manjanya. Apa? tadi dia memanggil Kibum dengan sebutan chagiya. Dan itu berhasil membuat Kibum langsung menoleh kearahnya.
“kau memangilku apa? chagiya? Hahahaha.... saat kau yang mengucapkannya, itu terdengar manis.”
Ha Na tersenyum. “kita mau kemana?” tanya Ha Na.
“melihat bintang.” Jawab Kibum.
Ha Na mengangkat alis kanannya. Dia berpikir bahwa Kibum termasuk namja yang penuh dengan kejutan. Dan itu berhasil.

Ha Na menggosok-gosokan telapak tangannya. Tidak menyangka jika Kibum akan mengajaknya ke ujung kota tempat tinggalnya. Dimana ini dapat dikatakan di dataran tinggi. Dingin? Tentu saja. tapi Kibum hangat dengan mantel tebalnya. Membiarkan Ha Na kedinginan.

“kau curang. Kenapa tidak bilang jika kau akan mengajakku kesini? Ini sangat dingin.” Keluh Ha Na.
“merapatlah.” Kata Kibum. Dan Ha Na merapat pada Kibum. Kibum tersenyum. dia memang sengaja.
“disni memang indah. Tapi sangat dingin.”
“tapi bukankah sudah sedikit hangat?”
“ne...”
Dan kemudian, suasana menjadi hening. Mereka tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Tapi berbeda dengan Kibum. Dia mulai mengambil kesempatan ini.
Dia mulai mencondongkan kepalanya ke arah Ha Na. Perlahan tapi pasti dan Ha Na belum menyadari tindakan Kibum.
“yeoboseyo?” angkat Ha Na. “aku bersama Kibum, umma. Melihat bintang. Rahasia. Hahaha... ne, aku baik-baik saja.”
Dan Kibum kehilangn kesempatan pertama.
“kau dapat salam dari umma.” Kata Ha Na.
“katakan pada bibi, salam balik.” Kata Kibum.
Dan suasana menjadi hening lagi. kibum tak pernah putus asa. Dia mulai mencondongkan kepalanya lagi. namun kali ini Ha Na menyadari perubahan sikap Kibum. Apakah dia mau menciumnya lagi? pikir Ha Na.
Tapi Ha Na langsung tersadar saat ponselnya berdering. Dia segera mengangkat telponnya yang tertulis di layar bahwa He Na menelpon.
“hai... aku sedang bersama Kibum. Bisa dikatakan seperti itu. hahaha.... memangnya kenapa?” tanya Ha Na. “dia pasti tidak akan melakukan apa-apa.” Ha Na menoleh kearah Kibum. “ne. Selamat malam.”
“dari He Na?” tebak Kibum dengan nada ketus.
“iya. Aneh, dia bilang aku harus berhati-hati. Memangnya kenapa?” tanya Ha Na bingung. Dan lagi-lagi Kibum kehilangan kesempatan kedua.
“dia benar. Kau harus berhati-hati.”
“kau kenapa? Sepertinya kau sedang tidak enak hati.”
“memang iya.”
“kenapa?”
“karena.....”
Dan lagi-lagi ponsel Ha Na berdering. Kibum berdecak. Dia sangat kesal. Padahal dia sendiri mematikan ponselnya. Tanpa perintah, dia langsung merebut ponsel Ha Na.
“kenapa kau mengambilnya? Kenapa kau mematikannya? Itu dari appa. Kenapa kau melepas baterai ponselku? Kenapa kau melakukan ini Kibum???” tanya Ha Na yang tak sadar jika dia terlalu banyak menggunakan kata ‘kenapa’.
“benda kecil ini mengganggu!” jawab Kibum.
“tapi itu dari appa. Dan jika aku tidak mengangkatnya, appa pasti kawatir.”
“dia pasti akan bertanya pada ummamu.”
“tapi....”
“bahkan aku mematikan ponselku. Aku ingin malam ini hanya kita berdua. Tanpa ada gangguan dari luar.” Kata Kibum sambil menatapnya dengan tajam.
“te..terse-rah kau saja.” kata Ha Na gugup.
“ngomong-ngomong, Park Ha Na. Aku ingin apel.” Kata Kibum
“tapi bukankah kau tidak suka buagh apel?”
“tapi apel ini berbeda. Dari bentuknya, teksturnya, dan juga rasanya.”
Dan Ha Na langsung teringat dengan kejadian di Perpustakaan dimana Kibum menciumnya tiba-tiba.
“aniya aniya aniya.... aku tidak mau....”
“ayolah...” rengek Kibum.
“aniya....” Ha na menggeser tempat duduknya. Menjauh dari Kibum. Apakah yang dimaksud He Na untuk berhati-hati adalah ini? Molla.


End

Aku mengharapkan RCL dari kalian. Neomu neoumu gamsahamnida^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...