Langsung ke konten utama

Mencintai adalah Keputusan

... Mencintai adalah Keputusan ...

Pernahkah hati dibelenggu rasa resah gelisah tiada menentu ketika wabah cinta hinggap di sana....? Rasa cinta yang hadir tanpa diundang dan pergi pun tiada direncanakan..

Orang bilang mencintai adalah pilihan karena diri kita yang memilihnya untuk kita cintai dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.. .

Namun mencintai juga sebuah keputusan... karena diri kita yang memutuskan untuk mencintainya..

Mencintai orang dengan segenap kelebihannya itu mudah dilakukan karena itu yang kita inginkan...

Namun tetap bertahan dan mencintai dengan segenap kekurangan itu baru luar biasa karena banyak tantangan di sana...

Mencintai adalah keputusan besar, karena ada taruhan kepribadian di sana. Sekali kita berucap aku mencintaimu berarti kita harus membuktikan . Sekali kita berucap namun tak ada bukti hilanglah kepercayaan itu.

Aku mencintaimu adalah ungkapan lain dari aku ingin memberimu sesuatu, aku ingin memperhatikanmu , aku ingin engkau tumbuh dan berkembang lebih baik dan bahagia....

Aku mencintaimu adalah deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan tertarik tapi tentang kerelaan,kesiap an dan kemampuan memberi , berkorban , memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi agar tunas- tunas cinta itu tumbuh dan bersemi sepanjang waktu...

Aku mencintaimu adalah sebuah perjuangan harus ada saling kepercayaan dan rasa saling menjaga agar hati tidak terkhianati...


Aku mencintaimu adalah keputusan besar untuk segera menghalalkan rasa itu melalui ikatan suci pernikahan...

Andaikan cinta tiada sanggup dijadikan halal lebih baik tinggalkan karena hanya akan menambah derita bagi hati yang terjaga..

Pernah suatu ketika diri ini bertanya pada seorang sahabat…Duhai sahabatku…bagai mana engkau memandang cinta?

Dia berkata : “ Aku ibarat botol.... Tak kan kubuka tutup botol ini apabila aku tak sanggup menutupnya kembali”.... Demikian juga dengan cinta. Aku tak akan pernah membuka hati apalagi mengucapkan cinta kepada siapapun sebelum diri ini mampu menghalalkan cinta





cr: Jemput Aku Menjadi Bidadarimu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta sejati adalah melepaskan

Kau, adalah seseorang yang mana sungai kecil ini megalir untuk kedua kalinya. Jika alasan pertama karena aku kecewa, maka alasan keduaku ini adalah karena ketulusan untuk kebaikan kita. Kau marah? Marahlah. Kau benci? Bencilah. Kau kecewa? Kecewalah. Teori memang begitu mudah untuk dipikir. Tetapi pada kenyataannya, sama seperti pada karangan tersebut. "Aku harus menyibukkan diri dan menikam hatiku saat rindu itu datang." Lalu pertanyaanku kelak, "Kau, apakabar?" Karangan itu menuliskan sesuatu yang bisa diterima oleh hati ini bahwa "Cinta sejati adalah melepaskan."

Aku Kamu Tak Ingin 'Buta' Kesempatan, Bisa?

Maret. Bulan ketiga yang tanggalnya akan segera berakhir, namun tidak dengan pikiran ini. Ada banyak yang kepala ini pikirkan hingga bingung harus memilih mana baik dari yang terbaik. Maksudku, memilih resiko sekecil mungkin dari peluang yang diambil. Berbicara soal peluang yang tak jauh dari kata kesempatan, Maret ini pula aku belajar sesuatu. Pelajaran yang kudapat ini seperti “tamparan” yang tak sakit di pipi melainkan hati. Ini tentang, kesempatan yang tak pernah kusadari, sebuah kesia-siaan peluang. Tapi katanya, di dunia ini tidak ada yang namanya hal tak berguna, entah itu binatang kecoak. Mari membahas soal kesempatanku ini. Ada seseorang yang menyadarkanku mengenai waktu. Aku yang merasa peka dengan sebuah pertemanan, nyatanya mengakui jika mata ini “buta”. Gelap melihat waktu yang ada hingga kesempatan itu tinggal beberapa jam saja. Lalu bagaimana aku mengembalikan kesempatan itu? Mengulang waktu? Mustahil. Maka aku akan menciptakan kesempatan itu. Entah apa has...